Sabtu, 2 Mei 2026

Internasional

AS Akan Buka Kasus Pembunuhan Jamal Khashoggi, Arab Saudi Terancam

Pemerintahan AS akan membuka segera kasus pembunuhan Jamal Khashoggi, jurnalis Washington Post Jamal Khashoggi di Konsulat Istanbul, Turki.

Tayang:
Editor: M Nur Pakar
AFP/File
Jamal Khashoggi 

SERAMBINEWS.COM, WASHINGTON - Pemerintahan AS akan membuka segera kasus pembunuhan Jamal Khashoggi, jurnalis Washington Post Jamal Khashoggi di Konsulat Istanbul, Turki.

Presiden AS Joe Biden telah menempatkan dirinya berseberangan dengan Arab Saudi.

Kebijakan itu diputuskan Biden setelah Direktur Intelijen Nasional, Avril Haines berjanji untuk membuka klasifikasi laporan tentang pembunuhan Jamal Khashoggi.

Dorongan dari komunitas intelijen atas pembunuhan jurnalis pembangkang.

Diyakini melibatkan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman, berpotensi memicu kejatuhan Kerajaan Arab Saudi.

Baca juga: Pendukung Trump Sebut Presiden Joe Biden Sebagai Boneka Partai Demokrat

Avril Haines telah menginformasikan kepada Kongres pada Kamis (21/1/2021).

"Kami akan mengikuti undang-undang mengenai laporan tersebut, mengacu pada penolakan pemerintahan Trump untuk merilis versi lengkap untuk perwakilan DPR AS," ujarnya.

CIA telah menyimpulkan dengan tingkat keyakinan yang tinggi.

Pangeran Mohammed, atau MBS, sekutu dekat pemerintah sebelumnya memerintahkan pembunuhan kolumnis Washington Post di konsulat Saudi di Istanbul pada 2018.

Namun, isinya belum disebutkan atau dipublikasikan.

MBS, penguasa de facto Arab Saudi, telah membantah memerintahkan pembunuhan itu dan pemerintahan Trump secara terbuka mendukungnya meskipun ada kecaman internasional.

Baca juga: Ini Dia Penulis Pidato Hebat Presiden Joe Biden, Warga AS Keturunan India

"Saya berharap mereka melakukan apa yang mereka katakan," kata tunangan Khashoggi, Hatice Cengiz.

Cengis telah meminta Presiden Joe Biden untuk merilis laporan itu, saat berkomentar singkat kepada The Sunday dan The Telegraph.

Pernyataan Haines adalah sinyal pertama tentang bagaimana pemerintahan Biden berniat mengatur ulang hubungan dengan kerajaan kaya minyak itu.

Biden belum menjelaskan posisinya pada salah satu sekutu terdekat Amerika di Timur Tengah itu

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved