Sabtu, 11 April 2026

Internasional

Menteri Intelijen Israel Kunjungi Sudan, Perkuat Hubungan Diplomatik

Delegasi Israel yang dipimpin Menteri Intelijen diam-diam mengunjungi Sudan dan bertemu dengan para pemimpin negara Afrika itu.

Editor: M Nur Pakar
Courtesy
Menteri Intelijen Israel Eli Cohen (kiri) bersingungan tangan dengan Menteri Pertahanan Sudan Yassin Ibrahim di Khartoum, Senin (25/1/ 2021) 

SERAMBINEWS.COM, KHARTOUM - Delegasi Israel yang dipimpin Menteri Intelijen diam-diam mengunjungi Sudan dan bertemu dengan para pemimpin negara Afrika itu.

Kunjungan pada Senin (25/1/20210) merupakan kunjungan pertama oleh seorang menteri Israel ke Sudan.

Hanya sekitar tiga minggu setelah Khartoum menandatangani kesepakatan untuk menormalisasi hubungan dengan Israel.

Menteri Intelijen Eli Cohen, kepala delegasi Israel, bertemu dengan Jenderal Sudan Abdel-Fattah Burhan, kepala dewan kedaulatan yang berkuasa.

Baca juga: Satpol PP Aceh Timur Sita Barang Pedagang di Pasar Lama Keude Peureulak

Juga Menteri Pertahanan Yassin Ibrahim dan pejabat militer dan pemerintah lainnya.

Dilansir AP, Selasa (26/1/2021), Sudan menjadi negara Arab ketiga yang menormalkan hubungan dengan Israel di bawah pemerintahan Trump tahun lalu.

Sebagai bagian dari kesepakatan yang ditengahi AS yang dikenal sebagai "Persetujuan Abraham".

Para pejabat Sudan, yang berbicara tanpa menyebut nama mengatakan delegasi Israel membahas langkah-langkah untuk bergerak maju dalam hubungan antara kedua negara.

Mereka tidak menjelaskan lebih lanjut.

Kantor Cohen mengkonfirmasi kunjungan tersebut, dengan mengatakan itu adalah kunjungan resmi pertama oleh seorang menteri Israel ke Sudan.

Arye Shalicar, seorang pejabat pemerintah Israel yang ikut dalam delegasi, mengatakan suasananya sangat bersahabat.

Baca juga: Terpeleset di Irigasi Lhok Sandeng, Santri Asal Bireuen Meninggal di Pidie Jaya

Bahkan, kedua belah pihak membahas air, penerbangan, transportasi, kesehatan, dan kerjasama teknologi, serta urusan keamanan dan strategis.

"Itu menunjukkan keinginan mereka untuk memajukan perdamaian dengan kami, untuk menormalkan hubungan," katanya.

Sudan berada di jalur yang rapuh menuju demokrasi setelah pemberontakan rakyat yang menyebabkan militer menggulingkan otokrat lama Omar al-Bashir pada April 2019.

Negara itu sekarang diperintah oleh pemerintah gabungan militer dan sipil yang mencari hubungan yang lebih baik dengan Washington dan Barat.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved