Sabtu, 9 Mei 2026

Berita Aceh Besar

Dinas Perpustakaan dan Keasipan Aceh Hibur Anak Pengungsi Dampak Tanah Bergerak di Lamkleng

Tujuan kedatangan tim ini adalah untuk menghibur anak-anak pengungsi, menyibukkan mereka dengan lomba mewarnai, mendengar cerita, melakukan gerakan

Tayang:
Penulis: Yarmen Dinamika | Editor: Mursal Ismail
SERAMBINEWS.COM/YARMEN DINAMIKA
Sekitar 40 anak usia PAUD, TD, dan SD di Gampong Lamkleng, Kecamatan Kuta Cot Glie, Aceh Besar, ikut lomba mewarnai yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh. Lomba tersebut berlangsung di bawah tenda yang diikuti anak-anak pengungsi dengan penuh antusias. 

Belasan ibu-ibu yang hadir tampak aktif menyemangati anak-anak mereka ikut lomba mewarnai dan berbagai atraksi lainnya.

“Kami sangat terharu dan berterima kasih kepada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh yang telah menghibur dan membawakan banyak sekali buku kepada anak-anak kami, kepada kaum ibu dan kaum bapak di desa ini.

Buku-buku ini sangat bermanfaat menambah wawasan kami,” kata Keuchik Lamkleng, Muhammad Fajri.

Baca juga: Semua Pengungsi Dampak Tanah Bergerak di Lamkleng Aceh Besar Kembali ke Rumah

Permukaan tanah di Gampong Lamkleng, Kecamatan Kuta Cot Glie, Aceh Besar, terus menurun. Namun, karena sudah dua minggu lebih tak turun hujan, penurunan tanah sangat minim. Warga yang selama ini mengungsi di bawah tenda, sudah diperbolehkan kembali ke rumah masing-masing sejak 30 Januari 2021 malam.
Permukaan tanah di Gampong Lamkleng, Kecamatan Kuta Cot Glie, Aceh Besar, terus menurun. Namun, karena sudah dua minggu lebih tak turun hujan, penurunan tanah sangat minim. Warga yang selama ini mengungsi di bawah tenda, sudah diperbolehkan kembali ke rumah masing-masing sejak 30 Januari 2021 malam. (SERAMBINEWS.COM/YARMEN DINAMIKA)

Sementara itu, seluruh pengungsi yang berjumlah 71 orang berasal dari 14 rumah di Gampong Lamkleng, Kecamatan Kuta Cot Glie, Kabupaten Aceh Besar, tidak lagi bernaung di tenda seperti yang mereka lakoni sejak 15 Januari lalu.

Terhitung 30 Januari malam semua mereka sudah kembali ke rumah masing-masing.

Para pengungsi itu mulai berani kembali ke rumahnya bukan karena sudah berakhir fenomena tanah bergerak (longsor) di desa tersebut.

Tanah di desa itu masih tetap bergerak, tetapi penurunannya sudah sangat minim. “Soalnya, sudah lebih dua minggu tidak turun hujan di desa kami,” kata Keuchik Lamkleng, Muhammad Fajri menjawab Serambinews.com  di bawah tenda pengungsi, Senin (1/2/2021) petang.

Menurut Fajri, ketika hujan deras tidak turun, maka tanah di blok longsor tersebut tidak lagi labil dan  juga tidak jenuh terhadap air.

Kondisi ini sangat menguntungkan warga desa, karena permukaan tanah tidak turun secara signifikan. Warga pun tidak perlu terlalu mencemaskan tanah yang mereka tempati bakal amblas secara mendadak.

“Atas pertimbangan itulah perangkat desa berembuk untuk mengizinkan warga yang selama ini mengungsi di bawah tenda kembali ke rumah masing-masing.

Tapi kalau sewaktu-waktu turun hujan deras, warga kita minta mengosongkan rumahnya dan segera kembali ke tenda pengungsi,” kata Muhammad Fajri di sela-sela kunjungan tim Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Perpusip) Aceh ke desa itu, Senin sore.

Amatan Serambinews.com, kedalaman tanah yang amblas di Lamkleng kini bervariasi. Di sebelah timur desa itu, tanah yang turun antara 5-6 meter.

Di bagian tengah arah ke barat, tanah yang turun tak sampai 4 meter. Namun, sudah membentuk ceruk mirip alur sungai. Jika hujan turun, maka air hujan tergenang di ceruk tersebut.

Di titik ini juga beberapa kuburan ikut amblas dan bingkai betonnya patah. Namun, belum ada satu pun kerangka manusia yang menyembul ke luar.

Sementara itu, jalan aspal di tengah perkampungan tersebut yang lebarnya 3 meter, sedikit demi sedikit amblas, sehingga kini hanya tersisa 1,5 meter.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved