Breaking News:

Luar Negeri

Uni Emirat Arab Pangkas Drastis Bantuan ke Pengungsi Palestina Melalui PBB Sebesar Rp 726,7 Miliar

Uni Emirat Arab ( UEA) memangkas secara drastis bantuan kepada pengungsi Palestina melalui PBB sebesar 51,7 juta dollar AS (Rp 726,7 miliar) pada 2020

AFP/SAID KHATIB
Seorang anak perempuan warga Palestina memanjat sisa-sisa bangunan yang hancur akibat serangan udara yang dilancarkan Israel terhadap Rafah di Jalur Gaza, Minggu (5/5/2019). Hubungan Israel dan Palestina kembali memanas dengan keduanya saling melemparkan serangan udara serta ''meruntuhkan'' negosiasi yang dimediasi Mesir selama sebulan.(AFP/SAID KHATIB) 

SERAMBINEWS.COM, ABU DHABI - Uni Emirat Arab ( UEA) memangkas secara drastis bantuan kepada pengungsi Palestina melalui PBB sebesar 51,7 juta dollar AS (Rp 726,7 miliar) pada 2020.

Penurunan jumlah bantuan UEA dilakukan di tahun yang sama setelah tercapainya normalisasi UEA dengan Israel yang ditengahi oleh AS di bawah pemerintahan Donald Trump, yang dikritik oleh Otoritas Palestina (AP).

Badan Bantuan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) menyediakan pendidikan, perawatan kesehatan, dan layanan vital yang lain kepada sekitar 5,7 juta pengungsi Palestina yang terdaftar di seluruh Timur Tengah, terutama keturunan dari 700.000 warga Palestina yang melarikan diri atau diusir dari Israel selama perang 1948 seputar pembentukannya.

Melansir Al Jazeera pada Sabtu (6/2/2021), UEA menyumbangkan 51,8 juta dollar AS (Rp 728,2 miliar) untuk UNRWA pada 2018 dan 2019.

Namun pada 2020, UEA hanya mengalokasikan dana bantuan sebesar 1 juta dollar AS (Rp 14,057 miliar), menurut juru bicara UNRWA Sami Mshasha pada Jumat (5/2/2021), setelah pertama kali dilaporkan oleh media Israel.

"Kami sangat berharap pada 2021, mereka akan kembali seperti tahun-tahun sebelumnya (Rp 728,2 miliar)," ujar Mshasha.

Sementara, pihak UEA tidak segera menanggapi masalah berkurangnya dana bantuan secara drastis kepada Palestina pada Sabtu (6/2/2021).

Normalisasi UEA dengan Israel

Pada 2020, UEA menormalisasi hubungan dengan Israel, yang melanggar Prakarsa Perdamaian Arab 2002, yang mengatakan bahwa negara-negara Arab akan menormalisasi hubungan dengan Israel setelah negara Palestina didirikan dan perdamaian tercipta di sana.

Bahrain, Sudan, dan Maroko mencapai kesepakatan normalisasi dengan Israel tak lama kemudian, yang oleh pemerintahan AS sebelumnya disebut-sebut sebagai pencapaian diplomatik bersejarah.

Halaman
12
Editor: Faisal Zamzami
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved