Breaking News:

Opini

Suku Mante, Pertanyaan yang Kerap Membebani Guru

MENJADI guru terkadang kita dituntut menjadi seorang yang mahatahu, harus cakap menjawab semua pertanyaan siswa tanpa cacat

Suku Mante, Pertanyaan yang Kerap Membebani Guru
IST
MUHAMMAD YUSRIZAL, S.Pd., alumnus Jurusan Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Syiah Kuala dan Guru Honorer SMAN 11 Banda Aceh, melaporkan dari Banda Aceh

Jauh sebelum beredarnya video Mante tersebut, tahun 1961 Muhammad Said--peneliti sejarah dan wartawan Republikein yang meninjau Konferensi Meja Bundar di Belanda, 1949--telah menyinggung suku tersebut dalam “Aceh Sepanjang Abad”, bukunya setebal 832 halaman. Said mencoba mengupas siapa kita masyarakat Aceh yang mendiami Tanoh Aulia  ini.

Tercatat, telah ditemukan batu bergosok sebelah peninggalan zaman batu pertengahan (mesolitikum) pada empat lokasi penggalian (ekskavasi), tiga di Aceh Utara (sekarang Lhokseumawe dan Aceh Utara) yaitu di Krueng Geukueh, Bukit Panggoi, dan Kandang. Satu lagi di Aceh Timur, di antara Kuta Binjai dan Alue Ie Mirah. Juga ditemukan bukit kerang kjokkenmoddinger, sisa makanan di beberapa titik pantai Sumut hingga ke Aceh Timur.

Perkakas serupa juga ditemukan di bagian Indo Cina, seperti di Bacson (Vietnam) dan di Hoa Binh (tenggara Hanoi, Vietnam) menjadi penguat bahwa dari daerah tersebutlah pendukung kebudayaan zaman batu pertengahan. Selanjutnya, orang-orang dari Indo Cina ini berkelana ke Muang Thai, Semenanjung Melayu, dan ke berbagai tempat di Indonesia, termasuk ke Aceh.

Orang-orang ini bercirikan rambut agak keriting, hidung pesek, dan berbadan sedikit pendek, warna kulit hitam. Di Sri Lanka orang-orang ini dikenal dengan sebutan Vedda, di Malaysia disebut orang-orang Senoi dan Yakun. Sedangkan di Indonesia disebut orang Sakai (Riau), Kubu (Jambi dan Sumatera Selatan), Mentawai (Kepulauan Mentawai), Enggano (Pulau Enggano), dan orang Toala (Sulawesi). Sedangkan di Aceh disebut Mante, tepatnya Manteue.

Said menyebut, dahulu orang Mante dikenal dengan hidup primitif, tinggal memencil di pedalaman Sagoe XXII, Lampanah (sekarang Aceh Besar). Mereka merupakan keturunan penghuni zaman purbakala yang sisa-sisa perkakasnya dapat ditemukan di Aceh Utara dan Aceh Timur tersebut.

Kehadiran zaman batu muda (neolitikum) menggantikan zaman batu pertengahan di Asia Tenggara diperkirakan terjadi sekitar 2.500 tahun SM, ditandai dengan kehadiran orang Melayu Tua atau Proto-Melayu. Kedatangan mereka mengharuskan orang Veddoid (Manteue) di Aceh menyingkir ke pedalaman. Sebab, orang-orang Melayu Tua ini telah mengenal rumah, beternak, bercocok tanam, dan kemampuan membuat periuk tanah. Kemampuan mereka lebih maju dibandingkan orang Manteue. Orang Melayu Tua berkulit sawo matang seperti orang mongol.

Berkisar 300 tahun SM, Aceh khususnya didatangi oleh orang-orang Deutero-Melayu atau dikenal dengan Melayu Muda. Orang Melayu Muda ini peradabannya lebih maju dari Melayu Tua. Mereka bisa membuat perkakas dari tembaga maupun besi. Orang-orang Melayu ini dipastikan datang dari Campa (sekarang Vietnam), Kocin Cina, dan Kamboja. Dapat disimpulkan bahwa asal-usul orang-orang Melayu adalah dari Indo-Cina.

Melayu Tua yang kalah saing dengan Melayu Muda menyingkir ke pedalaman Aceh, sekarang dikenal dengan orang Gayo dan Alas. Di luar Aceh dikenal dengan orang Batak, Nias, dan Toraja.

Pada golongan Melayu Tua banyak dijumpai keaslian kebudayaan hingga sekarang ini. Sedangkan golongan Melayu Muda menempati wilayah-wilayah pesisir Aceh dan aktif berkontak dengan wilayah luar melalui jalur maritim. Tentu, saya adalah orang yang tidak mengimani teori evolusi besutan Charles Darwin tersebut. Kepada siswa saya jelaskan juga demikian. “Sekadar jadi pengetahuan saja, jangan dipercaya dan diimani,” jelas saya.

Perihal suku Mante? Sebagai seorang guru sejarah berketurunan Aceh, saya belum bisa berkiblat untuk  percaya atau tidak  perihal keberadaan suku yang satu ini.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved