Breaking News:

Kisah Mahasiswa Aceh yang ‘Hilang’ 15 Tahun di Maluku

Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) jauh-jauh datang ke Aceh untuk meresmikan pembangunan rumah Muhammad Kasim Arifin.

Editor: bakri
for serambinews.com
Rektor IPB Prof Dr Arif Satria SP MSi meresmikan pembangunan rumah Muhammad Kasim Arifin yang ditandai dengan peletakan batu pertama di Gampong Rumpet, Kecamatan Krueng Barona 

* Rektor IPB Resmikan Pembangunan Rumah Kasim Arifin  

Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) jauh-jauh datang ke Aceh untuk meresmikan pembangunan rumah Muhammad Kasim Arifin yang telah meninggal dunia 14 tahun silam. Uang pembangunannya berasal dari para alumni IPB. Siapa sebenarnya sosok ini yang namanya diabadikan sebagai nama jalan di Waimital, Maluku? Siapa Kasim, yang begitu dihormati rektor, para alumni , hingga masyarakat Waimital?

MATA Syamsiah Ali (69) berkaca-kaca. Nada bicaranya tersendat-sendat ketika menceritakan sosok almarhum sang suami, Muhammad Kasim Arifin. Puluhan tahun mengarungi bahtera rumah tangga dengan Kasim Arifin, Khamsiah merasa sang suami sosok yang punya pendirian kuat. Dia mengenang ketika Kasim sakit dan tak mau makan berhari-hari hingga meninggal dunia tahun 2006.

“Dia tak mau makan. Badannya kurus sekali, hingga kemudian meninggal,” kata Syamsiah seraya mengusap matanya saat diwawancarai Serambi di lokasi pembangunan rumah Kasim Arifin, Gampong Rumpet, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, Jumat (19/2/2021) pagi.

Di luar itu, Kasim baginya adalah manusia biasa. Kalaupun ada yang beda, hanya sifat Kasim yang mengutamakan kepentingan orang lain, bahkan dibandingkan kebutuhan keluarga dan dirinya sendiri. Kasim bahkan lupa membangun rumah untuk keluarganya.

“Dia sering becanda sama anak-anak juga. Tak ada yang istimewa. Petuah yang saya ingat, dia selalu bilang kalau berbuat harus ikhlas. Jangan mengharapkan balasan manusia,” kata ibu dari tiga orang anak ini.

Sebagaimana diketahui, Rektor IPB University Prof Dr Arif Satria SP MSi meresmikan pembangunan rumah Kasim Arifin yang ditandai dengam peletakan batu pertama di Gampong Rumpet, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, Jumat (19/2/2021).

Anggaran pembangunan rumah ini merupakan hasil sumbangan para alumni yang digalang sejak sebulan silam. Bukan hanya sekadar rumah, Himpunan Alumni IPB juga berencana mendesains sebuah ruangan sebagai museum mini di rumah yang dibuatnya itu.

Menurut Rektor IPB, museum itu sebagai pusat edukasi, yang bisa menjadi sarana pembelajaran bagi generasi muda. Rektor Arif Satria berharap, lahirnya Kasim Kasim baru, yang bisa menggerakkan pembangunan di Aceh yang masih tertinggal.

Hilang 15 Tahun

Seperti ditulis Hanna Rambe dalam buku ‘Seorang Lelaki di Waimital’, Kasim lahir di Langsa pada 18 April 1938. Hanna mengisahkan, seperti juga diceritakan kembali Arif Satria, IPB mengirim Kasim dan dua temannya ke Maluku pada Oktober 1964 untuk mengikuti Program Pengerahan Mahasiswa (PPM) yang kini disebut Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Sejatinya, program tersebut hanya berlangsung 8 bulan. Namun Kasim tak mau pulang, meskipun dua temannya sudah kembali ke kampus. Di tempat terpencil di Waimital, Kasim melepas semua atributnya sebagai mahasiswa tingkat akhir IPB.

Kasim bertelanjang kaki seperti petani, berbaju lusuh dan kotor. Dia berbaur dengan orang-orang desa untuk membuka hutan, bercocok tanam, membuat irigasi, dan mengajarkan semua ilmu pertanian yang dipelajarinya. Setiap hari Kasim berjalan kaki sejauh 20 km menerabas hutan untuk membuka areal pertanian dan membangun saluran irigasi.

Begitu kagum padanya, sampai-sampai warga kampung di Seram memanggil Kasim dengan sebutan yang sangat terhormat, Antua. Kini, namanya juga diabadikan sebagai nama jalan di Waimital, dengan nama ‘Jalan Ir Muhammad Kasim Arifin’.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved