Breaking News
Rabu, 15 April 2026

Luar Negeri

Sosok Erick Prince, Bos Tentara Bayaran Sekutu Donald Trump Jual Senjata ke Libya

Erik Prince, sosok pendiri perusahaan tentara bayaran Blackwater, terlibat penjualan senjata ke kelompok bersenjata di Libya.

Editor: Faisal Zamzami
teapartytribune.com
Marsekal Khalifa Haftar, pemimpin Libyan National Army (LNA), kelompok politik bersenjata yang didukung Mesir, UEA, dan disokong diam-diam oleh AS dan Rusia. 

SERAMBINEWS.COM, NEW YORK - Erik Prince, sosok pendiri perusahaan tentara bayaran Blackwater, terlibat penjualan senjata ke kelompok bersenjata di Libya.

Aksi korporasi Erick Prince, tokoh yang jadi sekutu kuat Presiden Donald Trump, dianggap melanggar embargo senjata PBB.

Dokumen hasil investigasi penyelidik PBB dipublikasikan The New York Times, Washington Post, Sabtu (20/2/2021), dan sebagian data lainnnya diperoleh Al Jazeera.

Laporan rahasia kepada Dewan Keamanan PBB, menyebutkan, Erick Prince mengerahkan tentara bayaran asing dan senjata untuk mendukung pemimpin militer Khalifa Haftar.

Haftar telah berjuang menggulingkan pemerintah Libya yang diakui PBB sejak 2019.

Ia menerima sokongan Mesir, sebagian Rusia, dan beberapa negara Arab sekutu AS.

Operasi senilai $ 80 juta itu termasuk rencana membentuk regu pembunuh untuk melacak dan membunuh komandan Libya yang menentang Haftar.

Termasuk beberapa target yang sudah terdaftar sebagai warga Uni Eropa. 

Erick Prince merupakan tentara eks pasukan khusus Navy SEAL.

Ia masih saudara Menteri Pendidikan era Trump, Betsy Devos.

Prince mendirikan Blackwaters, yang kontraktornya dituduh membunuhi warga sipil Irak yang tidak bersenjata di Baghdad pada 2007.

Empat orang yang dinyatakan bersalah saat tragedi itu menerima pengampunan Trump, tahun lalu sebelum Trump lengser dikalahkan Joe Biden.

Tuduhan tersebut membuat Prince terkena sanksi PBB, termasuk larangan bepergian. 

Blackwaters yang mendapat kontrak pengawalan di Irak dan Afghanistan, akhirnya berganti nama sesudah tragedi Baghdad.

Menurut laporan ke DK PBB, Erick Prince menolak bekerja sama terkait penyelidikan PBB.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved