Perang Iran vs AS
Perang AS-Iran Ancam Ekonomi Dunia, Bank Dunia Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Global
Bank Dunia memperingatkan bahwa konflik yang terus memanas antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi
Penulis: Sri Anggun Oktaviana | Editor: Nurul Hayati
Perang AS-Iran Ancam Ekonomi Dunia, Bank Dunia Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Global
SERAMBINEWS.COM – Bank Dunia memperingatkan bahwa konflik yang terus memanas antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi menyeret ekonomi global ke titik terendah sejak pandemi COVID-19.
Lembaga keuangan internasional yang berbasis di Washington itu memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2026 dari 2,9 persen menjadi 2,5 persen.
Penurunan tersebut dipicu oleh melonjaknya harga energi, meningkatnya inflasi global, serta tingginya biaya pinjaman yang membebani banyak negara.
Dikutip Serambinews.com melalui BBC News, Kamis (12/6/2026), Bank Dunia menyampaikan peringatan itu dalam laporan terbaru bertajuk Global Economic Prospects atau Prospek Ekonomi Global.
Laporan tersebut menyoroti dampak ekonomi yang semakin besar akibat konflik di Timur Tengah, terutama ketegangan antara AS dan Iran yang masih berlangsung meski kedua pihak sempat menyepakati gencatan senjata.
Baca juga: AS-Iran Memanas Lagi! Trump Ancam Bom Iran Sampai Hancur Jika Ogah Tanda Tangan Perjanjian
Konflik Timur Tengah Jadi Ancaman Ekonomi Dunia
Menurut Bank Dunia, perang dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah telah menciptakan ketidakpastian besar bagi perekonomian global.
Situasi semakin rumit setelah Iran menutup Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak dan gas dunia.
Penutupan jalur tersebut berdampak langsung pada rantai pasokan energi global.
Gangguan distribusi minyak dan gas membuat harga energi melonjak tajam, yang kemudian memicu kenaikan biaya produksi di berbagai sektor ekonomi.
Bank Dunia memperingatkan bahwa jika gangguan pasokan energi terus berlanjut, dampaknya dapat dirasakan hampir di seluruh negara, baik negara maju maupun negara berkembang.
Selain energi, distribusi berbagai komoditas penting lainnya juga berpotensi terganggu akibat ketidakstabilan di kawasan tersebut.
Baca juga: Iran Tembak Jatuh Helikopter Apache AS di Selat Hormuz, Trump Murka dan Serukan Pembalasan
Harga Minyak dan Pangan Diperkirakan Naik
Dalam laporannya, Bank Dunia memperkirakan harga minyak mentah Brent akan rata-rata mencapai 94 dolar AS per barel sepanjang tahun ini.
Angka tersebut sekitar 36 persen lebih tinggi dibandingkan rata-rata harga minyak tahun lalu.
Kenaikan harga minyak diperkirakan akan berdampak luas terhadap berbagai sektor ekonomi, mulai dari transportasi, industri manufaktur, hingga logistik.
| Timur Tengah Membara! AS dan Iran Saling Serang, Gencatan Senjata Terancam Runtuh |
|
|---|
| Update Hari ke-104 Perang Iran: Teheran Serang Pangkalan AS dan Tutup Selat Hormuz Usai Dibom AS |
|
|---|
| Iran Mengamuk! Serang Pangkalan AS di 3 Negara dan Tutup Selat Hormuz |
|
|---|
| Update Perang Iran Hari ke-103: Serangan AS Dibalas, Ancaman Eskalasi Meningkat |
|
|---|
| Update Hari ke-102 Perang Iran: Trump Ultimatum Netanyahu, Gencatan Senjata di Ujung Tanduk |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Timur-Tengah-Memanas-Iran-Tuding-AS-Mulai-Perang-Hibrida-Pentagon-Bidik-Serangan-Terbaru.jpg)