Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah: Temuan Ceruk Mendale Mengubah Penulisan tentang Sejarah Gayo
Sejarawan nasional yang juga guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof M Dien Madjid menyebutkan, temuan penelitian arkeologi dari zaman...
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Jalimin
Laporan Fikar W Eda | Jakarta
SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Sejarawan nasional yang juga guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof M Dien Madjid menyebutkan, temuan penelitian arkeologi dari zaman Gayo Prasejarah akan mengubah penulisan sejarah Gayo.
Ini disampaikan Prof M Dien Madjid dalam “BincangKopi #3 Musara Gayo” secara virtual,Sabtu (13/3/2021) malam melalui platform Zoom Meeting. Kegiatan ini digagas Divisi Pendidikan Kebudayaan Musara Gayo, dipandu jurnalis Serambi Indonesia yang juga penyair, Fikar W.Eda.
Penelitian arkeologi Gayo Prasejarah dilakukan Balai Arkeologi Sumatera Utara sejak 2009. Kepala Balai Dr Ketut Wiradnyana MSi memimpin sendiri penilitian tersebut.
“Bagaimanapun juga apa yang telah dihasilkan penelitian ini, akan mengubah penulisan sejarah orang Gayo. Dengan temuan ini akan membuka cakrawala berpikir penulisan baru sejarah Gayo,” ujar Prof M Dien Madjid.
Dien Madjid menyebutkan, selama ini sumber-sumber penulisan sejarah tentang Gayo masih sangat terbatas dan lebih banyak berbentuk cerita rakyat atau “kekeberen.” Tapi dengan adanya penelitian Ceruk Mendale, sudah pasti membawa perubahan besar dalam penulisan sejarah Gayo.
Dalam kesempatan itu, M. Dien Madjid juga mempertanyakan perihal lapisan-lapisan penggalian, serta pola kedatangan dan pemukiman manusia prasejarah yang datang ke Gayo.
Menjawab hal itu Ketut yang juga Kepala Balai Arkeologi Sumatera Utara yang memimpin tim penelitian di Aceh Tengah menyebutkan, bahwa sampai sejauh ini hasil analisa karbon yang dilakukan usia temuan 8400 tahun, 5040 tahun, 4000 tahun, 3500 tahun. Ia mengaku belum menemukan usia di atas itu.
“Tapi kita sudah bisa memetakan berdasarkan lapisan-lapisan tanah yang kita gali,” ujar Ketut. Menurutnya masih terbuka peluang adanya temuan lebih tua lagi dengan melakukan penggalian lebih dalam lagi.
“Tapi sekarang belum kita temukan. Mungkin nanti dengan peralatan lebih canggih bisa menggali lebih dalam lagi,” ujarnya.
Ketut menyebutkan bahwa arus kedatangan kelompok manusia ke Gayo berlangsung secara bergelombang dengan membawa produk budaya khas masing-masing. Ia menyebut contoh tembikar yang ditemukan berasal dari periode berbeda.
“Tembikar hitam berasal dari periode lebih tua, tapi tetap digunakan pada periode yang lebih muda,” ujar Ketut.
Terkait dengan aktivitas kehidupan masyarakat pada zaman itu, Ketut lebih cenderung mengatakan mereka ada hidup dari berburu.
“Saya belum menemukan adanya aspek pertanian di Ceruk Mendale. Jadi mereka bukan petani. Kalaupun bertani itu ladang. Berbagai temuan, di Mendale tidak ada pertanian. Saya lebih cenderung mengatakan yang di Mendale, adalah pemburu,” ujar Ketut.
Ketut menyebutkan, temuan di Ceruk Mendale adalah kuburan, bukan tempat tinggal. Umumnya kuburan dan tempat tinggal tidak jauh.