Pasien di AS Meninggal Setelah 3 Jam Alami Ereksi Sebagai Efek Samping dari Covid-19
Pria itu mengalami kondisi langka, yaitu priapisme, suatu kondisi di mana seorang pasien mengalami ereksi yang menyakitkan selama berjam-jam.
SERAMBINEWS.COM, WASHINGTON DC - Seorang pria pasien Covid-19 meninggal setelah mengalami ereksi 3 jam yang menyakitkan, efek samping dari komplikasi penyakitnya yang jarang terjadi.
Kasus ini dilaporkan oleh The American Journal of Emergency Medicine, yang merujuk pada data Covid-19 di AS, yang tidak disebutkan identitas lengkapnya.
Melansir World of Buzz pada Sabtu (13/3/2021), seorang pria 69 tahun dengan obesitas harus dirawat di IGD setelah mengalami sesak napas pada 1 Januari 2021.
Pria itu minum obat untuk sesak napas yang diresepkan dokter kepadanya, tetapi itu tidak membantu.
Sementara, dilaporkan ia tidak segera melakukan tes Covid-19, kendati kondisinya mencirikan gejala tersebut. Hingga kondisinya memburuk dengan disertai batuk dan demam selama sepekan.
Baca juga: Aduh! Kasus Covid-19 Aceh Sudah Capai 9.687 Orang, Hari Ini Bertambah 14 Orang Positif Corona
Baca juga: Aceh Catat 14 Kasus Baru Covid-19, CDC Temukan Gejala Long Covid
Baca juga: Alhamdulillah, Aceh Barat Kini Nihil Kasus Positif Covid-19, Pasien Terakhir Dinyatakan Sembuh
Saat melakukan tes Covid-19 di ruang gawat darurat, para dokter mendapatkan hasil diagnosis positif virus corona.
Pasien kemudian dirawat di rumah sakit, tapi dalam 10 hari kondisinya semakin memburuk hingga membutuhkan steroid dan ventilator untuk membantu pernapasannya.
Saat itu, pasien ditelungkupkan untuk merangsang aliran udara ke seluruh tubuh.
Setelah itu, justru pria itu mengalami kondisi langka, yaitu priapisme, suatu kondisi di mana seorang pasien mengalami ereksi yang menyakitkan selama berjam-jam.
Komplikasi ini terjadi ketika darah tidak dapat keluar dari penis atau mengalir dengan tidak semestinya ke bagian pribadi pria. Kondisi ini lebih sering terjadi pada orang dengan kelainan darah, seperti anemia dan leukemia.
Namun, priapisme telah dilaporkan sebagai efek samping Covid-19 dan hanya ada satu laporan pasien Covid-19 yang menderita kondisi yang sama.
Baca juga: Cegah Kasus Isma Terulang, Wabup Aceh Utara Dorong Desa Buat Qanun Penyelesaian di Tingkat Gampong
Baca juga: Muscam Golkar se-Banda Aceh Mulai Digelar, Azhari Terpilih Sebagai Ketua PK Golkar Kutaraja
Baca juga: Haji Uma Minta Pemkab Serap Aspirasi Keuchik dan Kaji Kembali Tata Cara Alokasi ADG 2021
Ketika staf rumah sakit mengetahui bahwa pria itu kesakitan karena priapisme, mereka kembali mentengkurapkan pria itu dan mencoba menggunakan sebungkus es untuk menurunkan ereksinya.
Namun, cara itu tidak berhasil. Dokter kemudian melakukan USG pada penis dan menemukan bahwa pembuluh darahnya bersih dan berfungsi dengan baik. Mereka kemudian mendiagnosisnya dengan priapisme iskemik, atau priapisme terkait dengan masalah drainase darah.
Para dokter kemudian memasukkan dua jarum ke batang penisnya untuk mengalirkan darah berlebih dan memberi pasien dekongestan. Setelah setengah jam, ereksinya hilang. Namun pada saat itu, paru-paru pria itu terus memburuk dan tidak lama kemudian, ia meninggal karena komplikasi Covid-19.
Mengomentari laporan kasus tersebut, para ahli mengatakan bahwa seseorang dengan Covid-19 mungkin mengalami gejala yang disebut cytokine storm, di mana sistem kekebalan seseorang menjadi rusak dan menciptakan pembekuan darah yang dapat memengaruhi bagian tubuh mana pun.
Dalam sebuah artikel oleh Daily Mail, Dr Richard Viney, seorang ahli bedah urologi di Rumah Sakit Queen Elizabeth di Birmingham, Inggris menyimpulkan bahwa kondisi itu mungkin menjelaskan priapisme sebagai salah satu efek samping Covid-19.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pasien Covid-19 Meninggal Setelah 3 Jam Alami Ereksi Menyakitkan sebagai Efek Samping"
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/korban-virus-corona-di-as.jpg)