Rabu, 22 April 2026

Wawancara Khusus

‘Saya Pernah Kena Prank Pak SBY’

I Gede Pasek Suardika, loyalis Anas Urbaningrum yang juga mantan kader Partai Demokrat, mengaku masih tak percaya jika dirinya pernah di-prank

Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
I GEDE PASEK SUARDIKA, Mantan Kader Partai Demokrat 

JAKARTA - I Gede Pasek Suardika, loyalis Anas Urbaningrum yang juga mantan kader Partai Demokrat, mengaku masih tak percaya jika dirinya pernah di-prank oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dengan setengah tertawa, I Gede Pasek mengingat awal mula kejadian yang menyebabkan adanya prank dari SBY yaitu ketika Anas Urbaningrum mundur dari posisi Ketua Umum Partai Demokrat

Anas mundur satu hari setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan gratifikasi terkait proyek Hambalang dan proyek-proyek lain oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), pada 22 Februari 2013 lalu.

I Gede Pasek saat itu mengajak Anas berdiskusi terkait nasib kawan-kawannya yang bersiap nyaleg dalam pemilu 2014. Sebab, tahapan pemilu sudah mulai digelar. "Suatu malam saya ke tempat mas Anas di Duren Sawit. Kita diskusilah ngomongin nasib teman-teman. 'Mas ini bagaimana? Teman-teman itu nunggu apakah pindah partai atau tetap seperti ini, siapa nanti penggantinya Mas Anas'," ucap I Gede Pasek Suardika saat berbincang dengan Direktur Pemberitaan Tribun Network, Febby Mahendra Putra, Jumat (19/3/2021).

I Gede lantas melontarkan ide bagaimana jika Anas dan loyalisnya sepakat mendukung SBY mengisi posisi ketua umum yang ditinggalkan Anas. Petikan wawancara Tribun Network bersama I Gede Pasek Suardika yang kami turunkan mulai Minggu (21/3/2021) hari ini.

Bisa nggak cerita kenapa Pak SBY yang ditunjuk sebagai Ketum, padahal posisinya tinggi waktu itu?

Itu kalau saya mau cerita gimana ya, itu cerita tentang saya kena prank seorang presiden yang saya percayakan orangnya bersih, cerdas, dan santun. Jadi ceritanya begini, ketika mas Anas mundur itu kan saya diskusilah dengan mas Anas. Kita temani lah namanya beliau sedang dalam masalah. Ada lah ide teman-teman ini kan mau nyaleg, ini apakah pindah partai atau tetap di sini. Gimana kalau demi menyelamatkan partai, saya punya ide dan saya bilang ke Mas Anas, kita dukung Pak SBY aja.

Jadi, cerita ini antara senang dan sedih. Senangnya, karena yang ngeprank saya itu seorang presiden. Nggak senangnya, kok ada gitu lho orang yang seharusnya kita sudah bicara gentleman agreement, seorang politisi yang berbicara dalam konteks bangsa bernegara kok bisa menipu hal yang sangat substansial.

Suatu malam saya ke tempat Mas Anas di Duren Sawit, kita diskusilah ngomongin nasib teman-teman. Saya juga tanya gimana kalau kita dukung Pak SBY aja di Pemilu nanti, biar kita kompak.

Oh boleh juga katanya. Mas Anas nggak apa-apa kan kalau saya ngomong gitu ke media soal ide ini? Oh ya silakan gitu. Jadilah itu berita. Ruhut Sitompul marah, Marzuki Alie, Syarief Hasan, semua pada protes dan semua menganggap saya menghina SBY, menurunkan kadar SBY dari dewan pembina dan majelis tinggi partai kok jadi ketua umum.

Lalu, saya jelaskan bahwa UU Partai Politik dan UU Pemilu nggak mengenal dewan apa itu nggak dikenal. Tahunya Ketua Umum dan sekretaris jenderal. Jadi kalau kita ingin partai ini disimpelkan saja, kewenangan itu kasih Ketua Umum. Singkat cerita, saya kemudian diundang ke istana. Waktu itu saya datang malam hari, ada Bu Ani (almarhum), Mas Ibas, dan Pak SBY. Tapi, duduknya saya sama Pak SBY saja.

Ditanya lah, kenapa kamu mau minta saya jadi ketua umum. Sempat nawarkan kenapa nggak Bu Ani saja. Saya jelasin semuanya. Singkat cerita, beliau mengajak nanti ketemu di Bali, itu kira-kira tiga empat hari menjelang kongres. Dengan semangat, saya pulang dari situ langsung ke Duren Sawit. Saya bilang sama Mas Anas, Pak SBY sudah mau. Mas Anas ketawa, terus langsung dia ambil Hp neleponin DPD, DPC. Banyak yang kaget kenapa diarahkan milih SBY. Oh, sudahlah biar semua selamat pilih SBY aja dulu, nanti urusan saya belakangan lah yang penting proses teman-teman nyaleg.

Saya lihat Mas Anas mengorbankan dirinya untuk teman-temannya ini selamat dulu. Saya semakin kasihan melihat beliau, padahal sudah tahu penyebab beliau begitu itu siapa. Singkat cerita KLB di Bali, saya di sana memang men-setting Mas Anas ini kan kalau dibilang pengamanannya menggunakan alat kekuasaan itu ya pas zaman SBY bukan zaman Pak Jokowi.

Pengamanan gimana maksudnya?

Intel ditaruh dimana-mana hanya untuk melacak dimana ada Anas. Padahal kan Anasnya sudah dukung. Tapi tetap masih khawatir. Teman-teman Intel bilang posisi begini, jadi mas lewat darat aja. Jadi, dari Surabaya Mas Anas lewat darat ke Bali. Tidak ke Denpasar tapi ke Buleleng. Saya carikan tempat tersembunyi disitu, jadi nggak ada yang tahu.

Besoknya masih sembunyi. Akhirnya, beliau bilang begini, ngapain kita sembunyi-sembunyi bli? Kan kita sudah dukung SBY. Mending kita jalan-jalan aja, nikmati Bali Utara. Makanlah kita di sebuah restoran, agak terbuka. Lalu, ada orang yang makan lihat Mas Anas akhirnya banyak yang minta foto, langsung heboh. Akhirnya mas Anas itu tidurnya juga dikawal.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved