Wawancara Khusus
‘Saya Pernah Kena Prank Pak SBY’
I Gede Pasek Suardika, loyalis Anas Urbaningrum yang juga mantan kader Partai Demokrat, mengaku masih tak percaya jika dirinya pernah di-prank
Singkat cerita, sore itu Mas Anas ke rumah saya. Besoknya KLB, saya waktu itu BBM Pak SBY, saya bilang izin Pak, saya nggak ikut KLB, saya mengawal Mas Anas keliling biar KLB-nya lancar. Beliau nitip salam dan mempersilakan saya jalan. Akhirnya saya beritahu bagian pengamanan, kita pake patwal.
Selesai beliau terpilih, kami pas pulang, beliau BBM lagi ke saya. Sampaikan terima kasih atas dukungannya, KLB sudah selesai secara aklamasi, sampaikan juga terimakasih untuk Bung Anas dan mohon usulan nama-namanya untuk kepengurusan di DPP. Lalu saya kasih lihat ke Mas Anas, oh ya uda titip salam balik mungkin besok namanya diusulkan.
Besok saya kirim usulan nama. Kirimlah nama itu cusss. Yang tersisa hanya Saan Mustopa. Itu pun kepengurusan yang terbatas biar tetap Ibas jadi Sekjen. Bayangan saya, saya sebagai orang politik, investasi politik lebih banyak lah ya, dari ide, menggarap, mengamankan Anas, melancarkan semua, kayaknya jabatan saya ini pasti melambung naik lah. Eh ternyata bukannya melambung, malah terhempas. Hilang cuma tersisa satu (Saan Mustopa) itu pun jabatannya memang dulu di situ. Yang lain hilang kena prank.
Disitu saya kaget betul, nggak menyangka orang sekelas kepala pemerintahan, kepala negara, tingkat pendidikan sangat tinggi, kita bicara dari hati ke hati, kemudian bisa mengkhianati dengan cara dingin begitu. Kalau sekarang beliau mengeluh begini, begitu, saya sebenarnya sudah lebih dulu mengeluh lho.
Beliau tidak menyampaikan maaf?
Nggak ada, seperti tidak pernah ada apa-apa. Malah saya dipretelin semua, wakil ketua Fraksi hilang, semua jabatan saya hilang. Jadi yang terjadi akhirnya adalah kita habis bis bis. Dihabisi disitu semua.Di situ saya berpikir merasa bersalah ke mas Anas. Mas saya minta maaf mas jadi begini semua teman-teman. Tahu begini kan kita maju aja semua. Tapi, akhirnya kita berpikir sudahlah. Karena itulah kemudian saya maju DPD RI. Karena saya berpikir sudah nggak ada harapan lagi. Jadi ceritanya di KLB itu pun ada kesepakatan Pak SBY hanya sampai 2015, meneruskan sisa jabatan Mas Anas. Setelahnya akan beliau berikan kepada kader-kader lain yang berpotensi.
Memang begitu komitmennya?
Iya. Bayangkan Ketua Umum bapaknya, sekjen anaknya, dan maju lagi di 2015, mau jadi Ketum membuat tatib agar dirinya saja yang memenuhi syarat. Marzuki Alie pun tidak memenuhi syarat. Waktu itu dibuat oleh tim khusus, sembunyi-sembunyi, nggak boleh ada yang tahu, tapi kita tahu.Yang saya ingat begini, yang boleh menjadi calon antara lain yang punya hak suara yaitu DPP, Ketua umum, DPD, dan DPC, serta berpengalaman menjadi pengurus pusat selama 5 tahun. Karena itu saya mikir waduh kok kayak begini, namanya sang Demokrat tapi kok skenarionya harus dibuat seperti itu. Yang paling lucu adalah mungkin tidak ada dalam sejarah dimana kongres belum dibuka tapi pencalonan sudah ditutup. (tribun network/denis destryawan)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/i-gede-pasek-suardika-mantan-kader-partai-demokrat.jpg)