Sabtu, 18 April 2026

Internasional

Presiden Joe Biden Mengakui' Genosida Terhadap Armenia Oleh Turki: Dalam Perang Dunia I

Presiden AS Joe Biden akan mengakui" genosida atau pembersihan etnis Armenia oleh pemerintah Ottoman selama Perang Dunia I.

Editor: M Nur Pakar
AP
Presiden AS Joe Biden menyampaikan kebijakan luar negeri pada Kamis (4/2/2021). 

SERAMBINEWS.COM, NEW YORK - Presiden AS Joe Biden akan mengakui" genosida atau pembersihan etnis Armenia oleh pemerintah Ottoman selama Perang Dunia I.

"Seperti yang saya dengar dari Gedung Putih, Presiden Biden akan mengakui pembunuhan orang-orang Armenia di tahun 1915 di bawah kekuasaan Ottoman sebagai genosida," kata ilmuwan politik Amerika, Ian Bremer..

Langkah ini akan menjadikan Biden sebagai presiden AS pertama yang mengakui genosida orang Armenia di bawah pemerintahan Ottoman.

GZERO Media, Selasa (23/3/3021) melaporkan Bremer mengatakan Biden berjanji selama kampanyenya akan mengambil tindakan jika terpilih.

Hal itu menunjukkan bahwa Wakil Presiden Kamala Harris adalah salah satu sponsor keputusan Senat.

Untuk mengakui genosida orang-orang Armenia pada 2019.

Genosida telah dicatat oleh sejarawan sebagai pembunuhan sistematis.

Deportasi orang-orang Armenia oleh Turki dari Kekaisaran Ottoman selama Perang Dunia I.

Pada awal 1920-an, ketika pembantaian dan deportasi akhirnya berakhir, antara 600.000 dan 1,5 juta orang Armenia dilaporkan tewas.

Awal pekan ini, koalisi bipartisan dari hampir 40 anggota parlemen yang dipimpin oleh Ketua Komite Hubungan Luar Negeri Senat Bob Menendez mendesak Biden untuk mengakui genosida tersebut.

Dalam surat, mereka mengatakan:

"Pemerintah berkomitmen untuk mempromosikan penghormatan terhadap hak asasi manusia dan memastikan kekejaman seperti itu tidak terulang."

"Bagian penting dari itu adalah mengakui sejarah."

Selama kampanye kepresidenannya, Biden memperingati Hari Peringatan Genosida Armenia tahun lalu.

“Sangat penting untuk mengucapkan kata-kata ini dan memperingati sejarah ini pada saat kita diingatkan tentang kebenaran," ujarnya.

"Juga tanggung jawab bersama melawan kebencian , karena diam berarti terlibat,” katanya.

“Jika kita tidak sepenuhnya mengakui, memperingati, dan mengajari anak-anak kita tentang genosida, maka kata-kata 'jangan pernah lagi' kehilangan maknanya,” ujarnya.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved