Breaking News:

11 Napi Wanita Sujud Syukur Depan Rutan, Bebas Setelah Ditahan 45 Hari

Sebanyak 11 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Takengon, Aceh Tengah, resmi bebas murni

Editor: bakri
FOTO KIRIMAN ZAKIYA MAHE BUJANG
Napi perempuan yang bebas murni sujud syukur di depan Rutan Kelas II B Takengon, Aceh Tengah, Sabtu (27/3/2021). 

* Tersandung Kasus Perusakan Barang PLTA

TAKENGON - Sebanyak 11 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Takengon, Aceh Tengah, resmi bebas murni pada Sabtu (27/3/2021). Sesaat setelah keluar, mereka langsung melakukan sujud syukur di depan rutan tersebut. Narapidana (napi) yang semuanya perempuan itu dibebaskan karena sudah selesai menjalani masa tahanan selama 45 hari.

Sebelumnya, mereka tersandung kasus perusakan barang-barang milik Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Peusangan, di kawasan Kecamatan Silih Nara, Kabupaten Aceh Tengah. Kesebelas perempuan tersebut ditahan di Rutan Takengon, sejak 10 Februari 2021 lalu, sesuai dengan putusan Pengadilan Negeri (PN) Takengon.

“Sesuai dengan putusan pengadilan, mereka ditahan selama satu bulan 15 hari, atau 45 hari,” kata Pelaksana tugas (Plt) Kepala Rutan Kelas IIB Takengon, Husni SH MH, kepada Serambi, Sabtu (27/3/2021). Selama menjalani penahanan di Rutan Takengon, menurutnya, belasan napi itu mengisi waktunya dengan berbagai aktivitas.

Di antaranya, sebut Husni, mendalami ilmu tentng shalat, mengaji, dan mengikuti kajian keagamaan lainnya. “Mereka juga diajarkan berbagai keterampilan dan membuat aneka kerajinan tangan,” sebut Husni.

Kerajinan tangan yang dibuat oleh para warga binaan perempuan itu, lanjut Husni, seperti membuat rajutan tas, dompet, tempat tisu, dan lain-lain. “Kita berharap, setelah bebas, mereka sudah memiliki keterampilan baru yang nantinya bisa dikembangkan dan menjadi tambahan sumber ekonomi bagi keluarga masing-masing,” lanjutnya.

Di sisi lain, Husni berpesan kepada warga binaan pemasyarakatan yang bebas murni tersebut untuk tidak lagi mengulangi perbuatan serupa sehingga bisa terhindar dari sanksi hukum di masa-masa mendatang. “Kita harus menahan diri. Jangan ada lagi kasus perusakan fasilitas umum yang berpotensi terkena sanksi hukum,” pungkas Kepala Rutan Kelas IIB Takengon.

Sesaat setelah keluar, para perempuan itu langsung melakukan sujud syukur di halaman rutan. Mereka disambut sanak keluarga yang sudah lebih dulu menunggu. Suasana haru mewarnai bebasnya 11 napi wanita yang sebelumnya tersandung kasus perusakan fasilitas umum tersebut. (my)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved