Breaking News:

Salam

Musim Banjir Tiba Lagi, Waspadalah

Harian Serambi Indonesia edisi Ahad kemarin mewartakan banjir rendam Lhoong, Aceh Besar, pada Sabtu (27/3/2021)

Editor: hasyim
For Serambinews.com
Salah satu rumah warga yang terendam banjir di Gampong Napai, Kecamatan Woyla Barat, Kabupaten Aceh Barat, Minggu (28/3/201). 

Harian Serambi Indonesia edisi Ahad kemarin mewartakan banjir rendam Lhoong, Aceh Besar, pada Sabtu (27/3/2021). Banjir tersebut dipicu oleh hujan deras yang mengguyur wilayah Lhoong sehingga Krueng Pudeng meluap.Akibatnya, jalan, sawah, kebun, serta puluhan rumah di tiga desa dalam kecamatan itu terendam. Ketiga desa tersebut adalah Gampong Pudeng, Gampong Pasi, dan Gampong Meunasah Lhok.

Selain itu, Nurma, 60 tahun, yang berdomisili di Gampong Pasi dilaporkan hilang akibat terseret arus banjir. Ia terseret saat menyeberangi Krueng Pudeng dalam perjalanan pulang dari kebunnya. Tiba-tiba terjadi air bah. Nah, kita ikut berduka atas peristiwa ini. Duka kita makin bertambah karena banjir juga melanda Tangse, Pidie. Tak sedikit rumah dan sawah warga yang jadi korban. Bahkan, tujuh titik jalan di Gampong Layan dan Peunalom putus diterjang banjir. Semuanya karena hujan yang mengguyur dalam durasi lama.

Tapi sadarkah kita bahwa hujan deras tersebut turun di beberapa kabupaten/kota justru pada awal musim kemarau? Musim penghujan di Aceh sebetulnya sudah berakhir pada medio Februari lalu. Jadi, kini kita didera serangkaian banjir justru pada musim kemarau. Kenyataan ini semakin menunjukkan bahwa cuaca di Aceh sudah benar-benar mengalami anomali atau ketidakmenentuan.

Itulah sebabnya semua kita diminta untuk senantiasa waspada terhadap kemungkinan banjir-banjir susulan yang dapat berakibat fatal terhadap kehidupan atau minimal terhadap harta benda kita. Untuk lingkup Aceh, serangkaian hujan deras ini diperparah lagi oleh kondisi mayoritas sungai-sungai yang sudah sejak lama mengalami pendangkalan, tapi hingga kini belum dikeruk atau dinormalisasi.

Apabila sungai-sungai kita tidak segera dikeruk, maka hujan yang hanya beberapa jam saja, apalagi sampai beberapa hari, hampir dapat dipastikan akan menyebabkan banjir luapan. Di sisi lain, tingginya laju deforestasi di sejumlah kabupaten dan kota di Aceh otomatis akan menjadi biang kerok terjadinya banjir bandang ketika hujan turun deras di kawasan hutan dan pegunungan. Dan ironinya itu terjadi ketika Aceh dalam status moratorium logging.

Oleh karenanya, diperlukan langkah hukum yang tegas untuk menindak para pembalak hutan. Hutan yang digunduli tanpa ampun pastilah mengundang datangnya banjir atau bahkan banjir bandang. Kerugian yang disebabkan banjir pastilah tidak sedikit. Jadi, para perambah hutan harus ditindak dan dihukum optimal untuk menimbulkan efek jera, sehingga kemungkinan terjadinya banjir dan banjir bandang bisa diantisipasi. Bencana jenis ini kita bisa cegah, maka sikap waspada dan pencegahan yang terencana dan terintegrasi harus kita prioritaskan agar banjir tak terulang dan korban bisa kita hindari. Dan jangan sampai pula kita sahur dan berbuka puasa di tenda-tenda pengungsian akibat permukiman kita direndam banjir. Semoga

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved