Berita Luar Negeri
Polemik Terusan Kra, Ambisi Thailand yang Bisa Ancam Singapura, Malaysia dan Indonesia
Thailand berambisi membangun kanal di daerah Selatan di sebuah celah daratan sempit bernama Genting Kra atau Terusan Kra dekat perbatasan Malaysia
Terusan Kra, Ambisi Thailand yang Bisa Ancam Singapura, Malaysia dan Indonesia
SERAMBINEWS.COM - Kapal kontainer raksasa Ever Given atau kapal Evergreen tersangkut di jalur Terusan Suez, Mesir.
Akibatnya sangat menganggu pelayanan Internasional dengan kerugian mencapai triliunan rupiah.
Kapal Ever Given yang terjepit di Terusan Suez, Mesir masih menjadi isu internasional.
Tragedi ini membuat arus lalu lintas kapal penghubung perairan Laut Merah dan Mediterania itu terganggu.
Ever Given adalah kapal sepanjang 400 meter panjangnya melebihi empat lapangan sepak bola, dengan lebar 59 meter dan bobot 200.000 ton.
Kapal berbendera Panama yang dioperasikan oleh Evergreen Marine Corp asal Taiwan ini terjepit dan membuat Terusan Suez macet, menyebabkan lebih dari 300 kapal besar mengantre di kedua sisi.
Baca juga: Militer AS Tawarkan Bantuan Untuk Keluarkan Kapal Evergreen Tersangkut di Terusan Suez
Bicara soal terusan atau kanal kapal, di Asia Tenggara sendiri, ada polemik terkait rencana pembangunan Terusan Kra yang sampai saat ini masih timbul tenggelam.
Adalah pemerintah Thailand yang berambisi membangun kanal di daerah Selatan, tepatnya di sebuah celah daratan sempit bernama Genting Kra dekat perbatasan dengan Malaysia.
Genting Kra merupakan daratan yang diapit oleh Laut China Selatan dan Laut Andaman.
Ide pembuatan terusan ini bahkan sudah ada sejak ratusan tahun lalu, saat Raja Thailand saat itu memerintahkan insinyur Perancis melakukan survei pembangunan kanal.
Baca juga: Sejarah Indonesia Ekspor Opium, Untuk Gaji Pegawai Pemerintah Hingga Barter Dengan Senjata
Gagasan menghubungkan Songkhala di Timur dan Nakhon Si Thammarat di Barat mengemuka setelah Ferdinand de Lesseps sukses membangun Terusan Suez di Mesir pada tahun 1869.
Jadi kontroversi
Dikutip dari Bangkok Post, Senin (29/3/2021), pada tahun ini Dewan Pembangunan Ekonomi Nasional Thailand sudah beberapa kali meminta Perdana Menteri Thailand mempercepat studi kelayakan dan sosialisasi kepada masyarakat terkait pembangunan kanal.
Terusan yang dinamakan Thai Canal tersebut akan membelah daratan sepanjang sekitar 120 kilometer.
Baca juga: Caleg di India Janji Bangun Gunung Es agar Penduduk tak Kepanasan
Dengan kanal tersebut, kapal-kapal yang melintasi Laut China Selatan menuju ke Laut Andaman tak perlu lagi melewati Selat Malaka.
Selat Malaka sendiri merupakan salah satu celah perairan tersibuk di dunia.
Meski lautnya dimiliki secara bersama-sama dengan Indonesia dan Malaysia, Singapura adalah negara paling diuntungkan dari kehadiran kapal-kapal di perairan tersebut.
Saat Thailand dipimpin Perdana Menteri, Thaksin Shinawatra, studi kelayakan sebenarnya sudah disetujui.
Namun kemudian realisasi di lapangan dibatalkan setelah pemerintah sipil dikudeta militer Thailand.
Hambatan lain pembangunan Terusan Kra di Thailand datang dari para politisi dan pejabat pemerintah Thailand.
Baca juga: Rudal Supersonik AntiKapal Milik China, Musuh Cuma Punya Waktu 10 Detik Mencegatnya
Mereka yang kontra menganggap, banyaknya titik dangkal di Laut Andaman dan Teluk Thailand bisa menghambat pembangunan dan lalu lintas kapal nantinya.
“Ketinggian air yang berbeda menyebabkan keterbatasan dalam konstruksi. Kanal tersebut dapat dibangun dengan lebar hanya 40-50 meter,” kata Pailin Chuchottaworn, Ketua Komite Pemerintah untuk Pengarahan Ekonomi.
Pailin bilang, besarnya biaya pembangunan terusan tak sebanding dengan manfaat yang didapatkan.
"Selain itu, kanal juga membutuhkan pintu air guna menyesuaikan tinggi permukaan air.
Sementara hanya satu kapal yang boleh melewati kanal dalam satu waktu," ucap dia.
Baca juga: China - Taiwan Makin Tegang, Petinggi Militer AS Sebut Agresi Militer Terjadi Dalam Waktu Dekat
Pailin lalu membandingkannya dengan Terusan Panama yang memiliki panjang 82 km.
Menurutnya, pembangunan kanal di Panama diuntungkan dengan elevasi air serta terdapat danau alami di tengah daratan sehingga mengurangi pekerjaan penggalian.
Danau alami tersebut juga berfungsi sebagai penampungan kapal-kapal, saat pintu air di ujung pintu masuk dibuka untuk memasukan kapal lain untuk kemudian diangkat.
Kondisi alam ini tak ditemukan di Genting Kra. Kalau dibangun, Terusan Kra hanya akan bisa menampung satu kapal saja dalam satu waktu. Hal ini merupakan bentuk pemborosan.
Selain itu, Genting Kra juga berbeda dengan Terusan Panama maupun Terusan Suez. Ini lantaran jarak dari Teluk Thailand ke Selat Malaka relatif dekat.
"Menggunakan kanal (Terusan Kra) hanya menghemat waktu dua hari saja (ketimbang lewat Selat Malaka). Itu tidak cukup alasan bagi para pemilik kapal untuk mengubah rute," terang Pailin.
Baca juga: Suami Sembunyi 6 Jam di Bawah Ranjang saat Istri dan Selingkuhan Berzina, Lalu Tikam Pacar Istrinya
"Saya pikir proyek ini sangat tidak layak, tidak memperkuat daya saing Thailand atau meningkat investasi di Thailand Selatan," kata dia lagi.
Ketimbang menggali tanah untuk membuat kanal, lanjut Pailin, pihaknya lebih memilih untuk membangun jalur rel kereta api sepanjang 100 kilometer yang menghubungkan dua pelabuhan, yakni di sisi Laut Andaman dan Teluk Thailand.
Keuntungan Singapura
Selama beberapa dekade, Singapura sangat menikmati kesibukan lalu lintas kapal di Selat Malaka yang jadi penghubung Eropa dan Asia Pasifik.
Selat Malaka menjadi jalur perdagangan terpadat di dunia, menjadi jalur angkutan minimum 11 juta barel minyak per hari melewati selat ini, dari Timur Tengah menuju Asia Timur dan Pasifik, serta 90 ribu kapal setiap tahun.
Baca juga: Kapal Perang Rusia Menuju Laut Barents, Siap Uji Coba Lagi Rudal Hipersonik Tsirkon
Itu berarti Selat Malaka dilewati sepertiga barang perdagangan dan separuh perdagangan minyak dunia.
Melihat keuntungan diraup Singapura, Malaysia tak mau ketinggalan.
Negeri Jiran itu pada tahun 1997 membangun pelabuhan khusus kontainer di Tanjung Pelepas, Johor, untuk mengusik Pelabuhan Singapura.
Malaysia bahkan mengiming-imingi Maersk Lines, perusahaan kontainer terbesar di dunia, untuk mengganti hubnya dari Singapura dan beralih menggunakan Tanjung Pelepas.
Perusahaan diberikan banyak keuntungan jika mau menggunakan pelabuhan baru itu. Maersk Lines akhirnya setuju dan mulai menggunakan Tanjung Pelepas pada tahun 1999.
Baca juga: Lihat Leher Istri Merah dan Akui Selingkuh, Suami Tebas Lansia 70 Tahun, Tubuh Korban Hanyut di Kali
Dalam waktu cepat, pelabuhan itu langsung jadi salah satu pelabuhan tersibuk di Malaysia dan melayani bongkar muat kontainer hingga 1 juta TEUs di awal operasinya.
Indonesia sendiri tak mau ketinggalan. Pemerintah Indonesia berupaya menjadikan Batam sebagai pesaing Singapura, namun upaya tersebut tak cukup berhasil seperti yang sudah dilakukan Malaysia.
Dari kegagalan Batam, pemerintah Indonesia kini mulai giat membangun Pelabuhan Kuala Tanjung yang digadang-gadang jadi pelabuhan hub yang bisa cukup menyaingi Singapura di masa mendatang.
Baca juga: Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2021/1442 H untuk Wilayah Kota Banda Aceh dan Sekitarnya
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Tentang Terusan Kra, Ambisi Thailand yang Mengancam Singapura",
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/terusan-kra-thailand.jpg)