Breaking News:

Opini

Melintas di Jalan Tanpa Rambu

Aceh Tengah dengan ibu Kota Takengon adalah kabupaten yang memiliki seribu satu cerita, dikenal sebagai penghasil kopi terbesar  di Aceh

Melintas di Jalan Tanpa Rambu
CHAIRUL BARIAH

CHAIRUL BARIAH, Wakil Rektor II Universitas Islam Kebangsaan Indonesia, Dosen  Universitas Almuslim, dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Takengon, Aceh Tengah

Aceh Tengah dengan ibu Kota Takengon adalah kabupaten yang memiliki seribu satu cerita, dikenal sebagai penghasil kopi terbesar  di Aceh. Kabupaten ini berbatasan langsung dengan Bener Meriah dengan sebutan Negeri di Atas Awan. Untuk menuju Kota Takengon kita harus melalui jalan yang berliku-liku menyerupai huruf S, maka sangat diperlukan pengemudi yang mahir dengan stamina yang prima.

Kunjungan saya kali ini ke Takengon dalam rangka menghadiri acara workshop yang diselenggarakan oleh Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah XIII Aceh, lembaga yang membina seluruh perguruan tinggi swasta Aceh. Acara berlangsung di salah satu hotel ternama. Perjalanan ke Takengon dapat ditempuh dalam waktu ± 2,5 jam dengan kecepatan kendaraan diatur sesuai kondisi jalan. Saya didampingi suami berangkat dari Bireuen pukul 15.00 WIB.

Pemandangan yang asri, memberi semangat kepada kami. Gunung-gunung sebagai paku alam dikelilingi kabut bagai lukisan indah yang terpajang di sudut ruang tamu.  Maka tak heran kalau Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah menjadi tujuan wisatawan dalam negeri maupun asing. Bunga yang berwarna-warni berjejer di pinhgir jalan, dibalut hujan yang turun. Semuanya terlihat begitu indah dan asri.

Kami juga melewati penjual durian yang digantung berjejer di pinggir jalan. Walaupun sedang tidak musim, durian di daerah ini tetap ada. Saya pernah mencicipinya, rasanya sedikit berbeda dengan durian yang berasal dari Sawang, Aceh Utara, atau Buloh Blang Ara.

Sepanjang perjalanan dari Bireuen hujan dan berkabut, sehingga membuat jarak pandang sedikit terganggu. Jalan umum yang kami lalui pun terasa sempit, sehingga bila berpapasan dengan kendaraan lain harus saling mengerti dan mengalah untuk berhenti. Pengemudi dituntut untuk jeli dan cepat tanggap menghadapi kondisi yang terjadi dalam perjalanan.

Sebagian jalan ada yang bergelombang, membuat kami terkadang terempas ke kanan dan kiri, tetapi saya menikmatinya dengan senang hati. Zikir dan doa menemani kami menuju Takengon.

Karena sedikit lelah saya pun terlelap dalam buaian angin yang menusuk dari celah jendela. Tanpa terasa sudah dua jam perjalanan, saya tiba di Desa Simpang Balik, Kecamatam Weh Pesam. Kolam renang air panas adalah objek wisata yang menarik di desa ini. Untuk menghangatkan tubuh akibat udara dingin kami menikmati kuliner tradisonal di salah sudut warung mini yang menyediakan jajanan, di antaranya pisang goreng, risol, martabak, dan minuman bandrek (minuman panas yang terbuat dari air yang dicampur dengan ramuan rempah). Setelah itu kami bergerak perlahan menuju tempat acara.

Sebelum registerasi tidak jauh dari lokai acara, saya singgah di Desa Paya Tumpi Baru. Saya pernah menikmati masa kecil di sini.  Di bawah kepemimpinan Reje Idrus Saputra desa tersebut kini makin dikenal. Dia menceritakan bahwa desanya terpilih sebagai desa teladan tahun ini. "Kerja sama dan kekompakam aparatur desa dengan masyarakat menjadi kunci meraih sukses," ungkapnya. Walaupun aroma minuman bandrek belum hilang, kami tetap menikmati sajian secangkir kopi dan pisang goreng yang masih hangat. Udara dingin membuat kami merasa lapar.

Setelah melepas lelah sejenak, kami lanjutkan perjalanan menuju hotel. Sambutan yang hangat dan ramah dari petugas mampu mengurangi rasa dingin yang menyerang. Saya menerima kunci kamar dan bergegas menuju kamar, untungnya tersedia air panas, sehingga tidak menjadi kendala untuk mandi dan lain-lain.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved