Rabu, 3 Juni 2026

Jurnalisme Warga

Balada Anak Pinggiran, Antara Cita dan Dukungan Ortu

DUKUNGAN orang tua merupakan faktor penting bagi anak dalam mewujudkan mimpi dan cita-cita

Tayang:
Editor: bakri
IST
NELLIANI M. NUR, M.Pd, Guru SMA Negeri 3 Seulimeum, Aceh Besar, melaporkan dari Desa Seuleu, Darussalam, Aceh Besar 

OLEH NELLIANI M. NUR, M.Pd, Guru SMA Negeri 3 Seulimeum, Aceh Besar, melaporkan dari Desa Seuleu, Darussalam, Aceh Besar

DUKUNGAN orang tua merupakan faktor penting bagi anak dalam mewujudkan mimpi dan cita-cita.

Dukungan dan motivasi orang tua (ortu) membuat anak bersemangat menyiapkan masa depannya.

Seorang siswa akan mantap menentukan pilihan untuk kelanjutan pendidikannya jika mendapat dukungan dari ortu.

Sebaliknya, cita-cita yang ingin diraih bisa saja lepas dari genggaman, meski anak memiliki bakat dan talenta, jika semangat dan motivasi tidak hadir dari orang-orang terdekatnya.

Pengalaman tersebut saya alami ketika mendampingi siswa tingkat akhir sebuah sekolah menengah dengan status sekolah terdepan.

Sebagai seorang pengajar, saya sering mengajak siswa berdiskusi terkait pilihan yang mungkin mereka ambil setelah tamat nanti.

Ada yang mantap melanjutkan studi ke perguruan tinggi, ada juga yang berencana memperdalam ilmu agama dengan mondok di dayah.

Tidak sedikit pula yang masih galau dan ragu ingin ke mana.

Namun, sangat menyesakkan dada saat mendengar jawaban, “Sebenarnya saya ingin kuliah, tapi orang tua tidak punya biaya.”

Faktor biaya memang sangat sensitif.

Sebagian orang tua akan menyerah jika sudah berbicara soal uang.

Mereka harus berpikir ulang jika ingin melanjutkan anaknya pada jenjang yang lebih tinggi, mengingat biaya yang tidak murah.

Para siswa pun bisa patah arang membayangkan nominal yang harus dikeluarkan selama menempuh pendidikan.

Melihat keadaan yang ada, jalan amannya adalah tidak sedikit peserta didik terpaksa memilih meredam cita-cita dan semangat akibat kondisi perekonomian yang tidak mendukung.

Tidak dapat dipungkiri, faktor keuangan berpengaruh terhadap dukungan ortu.

Bagi mereka yang mampu, tentu bukan halangan serta sangat mendukung kelanjutan pendidikan putra-putrinya.

Namun, akan menjadi persoalan jika peserta didik berasal dari keluarga dengan latar ekonomi menengah ke bawah. Semangat dan motivasi dari ayah dan ibu akan sulit didapat.

Persepsi ortu

Persepsi sebagian ortu selama ini, semakin tinggi jenjang pendidikan maka membutuhkan cost yang tinggi pula.

Anggapan tersebut ada benarnya, tapi tidak selamanya mempersiapkan masa depan itu diukur dengan rupiah.

Jika kita mau melihat dari sudut pandang berbeda, dukungan kepada anak tidak hanya sebatas materi saja.

Ada hal penting lainnya yang jarang kita pahami.

Dan hal tersebut berhubungan dengan dukungan moral yang bisa jadi selama ini sangat peserta didik butuhkan.

Dalam konteks ini, dukungan moral dari ortu berperan terhadap orientasi masa depan sang anak.

Bentuk perhatian, kepedulian, kasih sayang, serta motivasi ayah dan ibu dapat menumbuhkan semangat dan sikap optimistik bagi anak dalam memandang masa depan.

Seorang siswa yang mendapat dukungan orang tua lebih mudah mengembangkan rasa percaya diri dalam mengambil setiap keputusan serta mempersiapkan rencana-rencana untuk mewujudkan cita-citanya.

Sebaliknya, peserta didik yang kurang mendapat dukungan ibu bapaknya akan tumbuh menjadi individu yang pesimis, cenderung tidak percaya diri pada kemampuan sendiri, serta kurang memiliki harapan yang jelas di masa depan.

Sebagaimana telah saya sampaikan, dukungan itu tidak selalu bersifat materi.

Adakalanya seorang anak lebih membutuhkan semangat dan motivasi dibandingkan limpahan materi.

Sebagai figur yang paling dekat dengan anak, ortu menjadi tempat anak meminta pendapat, berdiskusi, berbagi informasi, berharap saran dan nasihat tentang segala impian dan cita-cita.

Pada titik ini, sejatinya ayah dan ibu harus hadir sebagai pemberi semangat dengan nasihat-nasihat bijak dan mencerahkan.

Ironisnya, kenyataan di lapangan berkata lain.

Cita-cita untuk mengenyam bangku pendidikan terkadang harus pupus akibat tidak adanya dukungan dan lagi faktor ekonomi menjadi alasannya.

Di satu sisi, orang tua menginginkan masa depan yang sukses bagi buah hatinya, tetapi di sisi lain tanpa disadari sebagian dari kita kerap “memaksa” anak menerima realitas yang ada.

Alih-alih mendukung perjuangan mereka menggapai masa depan dengan senantiasa memotivasi untuk belajar, kekhawatiran berlebihan para ortu malah menjadi penghalang bagi mereka untuk bebas berkreasi meraih mimpi-mimpinya.

Baca juga: Alhamdulillah! Beasiswa Prestasi dan Kurang Mampu Cair, Catat Jadwal Penyelesaian Administrasinya

Baca juga: Afifa, Remaja Cantik Penuh Prestasi dan Mampu Menamatkan SMA dalam Waktu Dua Tahun, Ini Profilnya

Anak-anak tangguh

Padahal, kebanyakan peserta didik yang berasal dari keluarga sederhana dan kurang mampu cenderung mandiri dan tangguh.

Kesulitan hidup telah menempanya sehingga menjadikan mereka pribadi yang tidak cengeng dan manja, pantang menyerah, serta pekerja keras.

Mereka terbiasa bekerja, selain untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, jerih payahnya juga disisihkan untuk membantu perekonomian keluarga.

Saya mengadakan riset kecil-kecilan dengan mewawancarai beberapa siswa kurang mampu di sekolah kami.

Mereka bercerita, untuk memenuhi biaya sekolah biasanya mereka bekerja paruh waktu.

Setelah pulang sekolah atau hari libur kerap mengambil pekerjaan.

Ada yang menjaga tambak, ada yang bantu-bantu pekerjaan bangunan, ada pula yang menjaga kebun dan turun ke sawah jika musim tanam dan panen.

Dari penghasilan itulah mereka bersekolah, menyisihkan sedikit untuk keperluan sehari-hari, dan jajan.

Jadi, secara ekonomi anak-anak tersebut terbiasa mandiri dengan tidak sepenuhnya bergantung lagi dari ortu.

Sebuah sikap yang patut diapresiasi.

Mereka secara tidak langsung mengajarkan kita bahwa kekurangan ekonomi bukanlah penghalang.

Sekolah tetap bisa jalan meskipun harus berbagi waktu. Dan kemauan untuk mandiri menjadi modal bertahan hidup jika berada di perantauan.

Hanya saja, keingingan melanjutkan pendidikan terkadang tidak sepenuhnya mendapat dukungan dari ortu.

Bagi sebagian siswa, meyakinkan ayah ibu di rumah sama sulitnya dengan menghadapi kesulitan hidup itu sendiri.

Stigma yang kadung tertanam di pikiran mereka, pendidikan tinggi belum tentu menjadi jaminan memiliki kehidupan lebih baik.

Terlebih lagi jika harus memaksakan diri menempuh pendidikan di tengah impitan ekonomi.

Tentu tidak semua berpikiran begitu.

Meskipun berada jauh dari kehidupan kota, masih ada ortu visioner dalam melihat masa depan bagi anaknya.

Dengan segala keterbatasan, mereka tidak mudah menyerah pada keadaan.

Mereka berupaya mendukung putra-putrinya mempersiapkan masa depan.

Ortu seperti ini menyadari betul bahwa anak-anak hari ini adalah pemilik masa depan dan hanya dengan ilmu pengetahuan anak-anak ini mampu bersaing sesuai tuntutan zaman.

Oleh karena itu, keberlangsungan pendidikan dan proses tumbuh kembangnya menjadi perhatian bagi mereka.

Membangun persepsi ortu akan pentingnya pendidikan menjadi tanggung jawab bersama, baik sekolah, elemen pendidikan, dan pemerintah.

Sekolah sebagai garda terdepan dapat meningkatkan keterlibatan orang tua pada program-program sekolah.

Hal itu dirasa penting sebagai strategi membangun komunikasi antara guru, sekolah, dan pihak ortu.

Demikian juga, sebagai media edukasi dalam upaya meningkatkan pemahaman, kesadaran serta tanggung jawab moral akan pentingnya pendidikan dan ilmu pengetahuan.

Bagaimanapun, dukungan orang tua sangat menentukan kesuksesan peserta didik di masa depan.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved