Jurnalisme Warga
Saat Pengungsi Mendambakan Rumah untuk Pulang
Perjalanan dengan misi kemanusiaan menuju Gampong Lamkleng, Kecamatan Kuta Cot Glie, Kabupaten Aceh Besar
Beberapa gelas plastik berisi air mineral pun disuguhkan. Saya merasa kikuk dengan hidangan tersebut. Bagaimana bisa kami yang hanya mengantarkan sekitar 2.000-an buku menerima jamuan makan dari masyarakat yang sedang ditimpa musibah? Namun, hati kecil kami seakan setuju untuk tidak menolak usaha masyarakat dalam memuliakan tamu. Kami pun menyantap hidangan tersebut hingga ludes. Malah, di kelompok pria ada yang ‘nambah’.
Selepas acara, seluruh peserta diajak untuk melihat titik-titik longsor. Kami bergidik ngeri saat melihat permukaan tanah Gampong Lamkleng terbelah akibat amblas. Tampak beberapa kuburan tua warga Lamkleng ikut amblas. Bahkan seonggok pohon raksasa pun turut rebah di sisi jalan yang setengahnya telah ambruk. Menyaksikan akibat bencana alam secara langsung selalu berhasil memberikan sensasi yang lebih mendalam dibandingkan sekadar menatapnya melalui video ataupun gambar. Selepas itu, acara kunjungan ditutup dengan agenda shalat Asar berjamaah di Mushala Gampong Lamkleng.
Acara pun usai, kami berpamitan pulang pada warga. Kunjungan hari itu membawa begitu banyak pengetahuan, pengalaman, dan tentunya perasaan yang campur aduk. Saya kehilangan kosakata untuk menuturkan banyak cerita. Namun, satu hal penting yang wajib disadari bersama: Lamkleng, desa yang sangat indah di wilayah Aceh Besar sana, warganya tak sepenuhnya sedang baik-baik saja. Ada yang masih mengungsi saat puasa Ramadhan hampir tiba.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ayu-ulya-pengurus-bidang-sdm-generasi-pesona-indonesia.jpg)