Breaking News:

Jurnalisme Warga

Saat Pengungsi Mendambakan Rumah untuk Pulang

Perjalanan dengan misi kemanusiaan menuju Gampong Lamkleng, Kecamatan Kuta Cot Glie, Kabupaten Aceh Besar

Saat Pengungsi Mendambakan Rumah untuk Pulang
IST
AYU ‘ULYA, Blogger dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Aceh Besar

OLEH AYU ‘ULYA, Blogger dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Aceh Besar.

Silir angin lembut. Hamparan sawah menguning. Awan-awan gembul kelabu terkatung-katung. Kesemua keindahan itu saya nikmati dengan lahap selama melintasi jalan Medan-Banda Aceh. Perjalanan dengan misi kemanusiaan menuju Gampong Lamkleng, Kecamatan Kuta Cot Glie, Kabupaten Aceh Besar, kali ini dilaksanakan pada pekan pertama bulan April (4/4/2021). 

Memasuki Kecamatan Kuta Cot Glie, tampilan pesona alamnya kian menjadi-jadi: deretan pegunungan menjulang, hamparan bukit hijau, dan gemercik aliran sungai. Sungguh indah, teramat memukau, dan juga menenteramkan jiwa. Jarak tempuh sejauh lebih kurang 38 km—bersama tim Forum Aceh Menulis (FAMe) dan Bandar Publishing dari titik kumpul di Desa Lamgugop, Banda Aceh—terasa begitu singkat.

Akan tetapi, saat melewati Jembatan Lamkleng, suasana alam yang awalnya ramah terasa agak mencekam. Terlihat beberapa sisi gundukan tanah di sepanjang pelataran sungai telah luruh. Aroma jerami basah pascapanen menyeruak kuat di udara. Bahkan, beberapa tenda oranye besar milik BNPB yang telah terpasang sejak medio Januari 2021 masih tegap berdiri. Namun nyatanya, sebagian besar warga telah kembali beraktivitas seperti sediakala.

Tiba di lokasi, rombongan kami disambut ramah masyarakat setempat. Ada sekitar 50 anak telah duduk rapi, membuat formasi setengah lingkaran, di dalam tenda pengungsian. Saat kotak-kotak buku diturunkan, mata mereka berbinar. Anak-anak tersebut pun mulai gelisah, penasaran akan antaran buku macam apa yang dijanjikan sebagai bahan bacaan perpustakaan gampong mereka.

Acara belum dimulai. Namun, panitia mengizinkan para belia tersebut memilih sendiri buku bacaan kesukaan mereka. Kegirangan, mereka pun berhamburan menuju belasan kotak berisi buku yang dibawa FAMe dan Bandar Publishing hari itu. Buku-buku tersebut merupakan hasil sumbangsih para donatur lintas sektor di Provinsi Aceh. Ada juga donatur dari Medan. Buku yang disumbangkan bervariasi, mulai dari bacaan anak, remaja, hingga orang tua.

Setelah memilih satu dua buku yang mereka sukai, anak-anak tersebut kembali duduk di tempat semula dengan guratan wajah gembira. Benar bahwa anak-anak mempunyai dunia mereka sendiri. Dunia yang ceria, penuh harapan, tanpa kekhawatiran, walaupun musibah sedang melanda kampungnya, yakni fenomena tanah bergerak sejak 10 Januari lalu.

Di belakang deretan kanak-kanak tersebut, ada beberapa orang dewasa yang ikut duduk bersama. Mereka sumringah. Tampaknya keceriaan anak-anak mampu sejenak menghapus kesedihan dan kekhawatiran yang mereka rasakan selama ini.  “Ketika hujan, kami tak bisa tidur. Hanya bisa duduk termenung. Khawatir. Rumah sudah retak-retak,” cerita nenek berusia 67 tahun dengan logat Aceh Besar yang kental saat saya tanyakan kondisinya.

Menurut warga, fenomena tanah bergerak alias longsor ini tak membawa tanda-tanda. Tiba-tiba saja tanah di Gampong Lamkleng merekah. Kemudian, pelan tapi pasti, dataran tersebut terus turun beberapa sentimeter setiap harinya. Hingga kini, tanah longsor di desa itu telah berada di kedalaman tujuh meter dan kemarin pun masih terus bergerak turun.

Ketidakpastian itu lebih menyakitkan daripada nestapa, begitu kiranya kata para tetua. Bulan Ramadhan di depan mata dan masyarakat Lamkleng sudah kelelahan mengungsi di tenda. Selain lokasi pengungsian yang tergolong sempit untuk menampung 18 kepala keluarga (KK) beserta anggota keluarganya, persediaan air bersih pun sangat terbatas. Alhasil, mau tidak mau, masyarakat harus kembali pulang ke rumah masing-masing pada saat yang belum semestinya. Tentunya dalam kondisi waswas, terutama ketika hujan deras menyapa. Lagi pula rumah baru yang dijanjikan Pemerintah Aceh di tempat relokasi belum terwujud, kecuali wacananya.

Memori bencana

Tak berapa lama selepas acara dibuka, dilakukan penyerahan bantuan buku dan modem portable secara simbolis kepada calon pengelola Perpustakaan Gampong Lamkleng, Munzir. Dilanjutkan dengan prosesi foto bersama. Seluruh donatur yang hadir hari itu tampak bersemangat merekam kenangan bersama anak-anak Lamkleng yang terlihat begitu ceria. Sedangkan saya memilih untuk menghabiskan waktu bercakap-cakap dengan warga. Misalnya, bersama Nur Khadijah yang akrab disapa Mak Bithak. Sebab, dia dulu sempat berkediaman di Gampong Bithak, Kuta Cot Glie. Kini, sudah 15 tahun ia sekeluarganya menjadi penduduk Lamkleng.

Saat berbagi pengalaman terkait bencana alam, saya ceritakan kepadanya bahwa kondisi masyarakat Lamkleng kini membuat saya terkenang akan memori saat menjadi pengungsi bencana tsunami tahun 2004. Merasa sefrekuensi, Mak Bithak berujar, ”Mak, watee 2004, keunong tsunami syit,” curhatnya. Matanya pun mulai berkaca-kaca. Pertahanannya runtuh, beberapa bulir air mata menelusuri kulit wajahnya yang mulai dimakan usia.

Di usia senjanya, Mak Bithak terpaksa kembali mengulangi memori bencana yang pernah dirasakannya di masa silam. Pada kenyataanya, dia adalah korban bencana tsunami yang sangat dahsyat ketika masih tinggal di Banda Aceh. Ketika pindah ke dataran tinggi Aceh Besar, dia sekeluarga pun kembali ditimpa musibah lainnya, tanah longsor. Dua jenis bencana alam yang terjadi di dua wilayah berbeda—pesisir lautan dan pegunungan—tetapi sama-sama membuatnya hidup dalam kekhawatiran, bahkan kehilangan rumah untuk sekadar pulang.

“Lelah sekali memang,” ujar Mak Bithak. Kami berdua mengambil jeda. Sepersekian detik, kami terdiam, larut dalam kenangan masing-masing. Tak lama berselang, para bocah Lamkleng tampak antusias membantu menghidangkan beberapa piring plastik warna-warni berisi mi goreng lezat buatan ibu-ibu di hadapan kami. “Mi aceh di sini tanpa pengawet,” kata Munzir. 

Beberapa gelas plastik berisi air mineral pun disuguhkan. Saya merasa kikuk dengan hidangan tersebut. Bagaimana bisa kami yang hanya mengantarkan sekitar 2.000-an buku menerima jamuan makan dari masyarakat yang sedang ditimpa musibah? Namun, hati kecil kami seakan setuju untuk tidak menolak usaha masyarakat dalam memuliakan tamu. Kami pun menyantap hidangan tersebut hingga ludes. Malah, di kelompok pria ada yang ‘nambah’.

Selepas acara, seluruh peserta diajak untuk melihat titik-titik longsor. Kami bergidik ngeri saat melihat permukaan tanah Gampong Lamkleng terbelah akibat amblas. Tampak beberapa kuburan tua warga Lamkleng ikut amblas. Bahkan seonggok pohon raksasa pun turut rebah di sisi jalan yang setengahnya telah ambruk. Menyaksikan akibat bencana alam secara langsung selalu berhasil memberikan sensasi yang lebih mendalam dibandingkan sekadar menatapnya melalui video ataupun gambar.  Selepas itu, acara kunjungan ditutup dengan agenda shalat Asar berjamaah di Mushala Gampong Lamkleng.

Acara pun usai, kami berpamitan pulang pada warga. Kunjungan hari itu membawa begitu banyak pengetahuan, pengalaman, dan tentunya perasaan yang campur aduk. Saya kehilangan kosakata untuk menuturkan banyak cerita. Namun, satu hal penting yang wajib disadari bersama: Lamkleng, desa yang sangat indah di wilayah Aceh Besar sana, warganya tak sepenuhnya sedang baik-baik saja. Ada yang masih mengungsi saat puasa Ramadhan hampir tiba.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved