Sabtu, 18 April 2026

Luar Negeri

Prihatin dengan Kudeta, Muslim Rohingya Ingin Kembali ke Myanmar Lawan Junta Militer

Aysar Rahman (70) adalah satu dari 750.000 Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar pada Agustus 2017 silam.

Penulis: Syamsul Azman | Editor: Zaenal
Anadolu Agency
Aysar Rahman (70) adalah satu dari 750.000 Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar pada Agustus 2017 silam. 

SERAMBINEWS.COM, DHAKA BANGLADESH - Menanggapi keadaan genting kudeta di Myanmar, para pengungsi Rohingya yang berada di Bangladesh berkeinginan untuk kembali ke Myanmar untuk melawan junta militer.

Melansir dari Anadolu Agency, Minggu (11/4/2021) Aysar Rahman (70) adalah satu dari 750.000 Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar pada Agustus 2017 silam.

Ia lari bersama rombongan ketika militer gencar melakukan tindakan kekerasan, menyebabkan tempat tinggal mereka ikut terbakar, serta kekerasan fisik lainnya.

Aysar meninggalkan rumah, perternakan sapi dan properti lainnya.

Ia bersama keluarga tinggal dalam kondisi memprihatinkan di Cox's Bazar, Bangladesh, kamp pengungsi terbesar di dunia, menampung lebih dari satu juta orang Rohingya.

Ia telah menerima nasibnya kini serta optimis untuk kembali ke negara asalnya, meskipun kewarganegaraannya ditolak.

Baca juga: Kebakaran Kembali Terjadi di Kawasan Pengungsian Rohingya, Kini Pasar Ludes Renggut Tiga Nyawa

Pondok yang ditempati Aysar merupakan salah satu dari 10.000 pemukiman darurat yang terbakar pada insiden kebakaran 22 Maret lalu.

Meskipun dalam kondisi yang memprihatinkan, Aysar tetap peduli dengan kondisi di Myanmar dan kembali ke tanah air tercinta.

"Saya berharap gerakan melawan junta militer membuahkan hasil," kata Aysar pada Anadolu Agency.

Ia menambahkan angkatan bersenjata Myanmar saat ini telah menjadi perhatian dunia dengan kekerasan telah ditunjukkan.

Sehingga, para warga di Myanmar baik dari kalangan Buddha maupun mayoritas negara Asia Tenggara menentang kekerasan mereka.

Baca juga: Muslim Rohingya di Berbagai Negara Dapat Pelatihan Jurnalistik Media Online dari Turki

Para pengunjuk rasa telah memenuhi jalan-jalan di Myanmar selama lebih dari dua bulan melawan kudeta Myanmar.

Serta melakukan penahanan Aung San Suu Kyi, mantan penasihat negara, dan pemimpin lain dari partai Liga Nasional untuk Demokrasi, yang menang telak dalam pemilihan November 2020.

Tanggapan dari aksi demonstrasi direspon dengan brutal oleh junta militer, dengan penembakan, pemukulan, penahanan serta melakukan penangkapan pada malam hari terhadap warga sipil.

"Kami ingin kembali ke tanah air kami, tempat kami telah hidup beberapa generasi," kata Lutu Begum (65) kepada Anadolu Agency.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved