Breaking News:

Jurnalisme Warga

Ritual Mandi Meugang di Aceh Tenggara

Kedatangan Ramadhan umumnya disambut dengan beragam sukacita, termasuk oleh masyarakat Aceh, terbukti dengan adanya istilah ‘meugang’

Ritual Mandi Meugang di Aceh Tenggara
IST
MUHADI KHALIDI, M.Ag., Dosen Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan Anggota Komunitas Menulis Pematik Chapter Aceh Tenggara, melaporkan dari Kutacane

OLEH MUHADI KHALIDI, M.Ag., Dosen Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan Anggota Komunitas Menulis Pematik Chapter Aceh Tenggara, melaporkan dari Kutacane

Tanpa terasa, Ramadhan kembali menyapa umat muslim di dunia. Kedatangan Ramadhan umumnya disambut dengan beragam sukacita, termasuk oleh masyarakat Aceh, terbukti dengan adanya istilah ‘meugang’ sebagai pertanda menyambut hari esok yang dianggap monumental.

Setiap daerah memiliki cara tersendiri menyambut bulan yang penuh ampunan ini, tak terkecuali di Kabupaten Aceh Tenggara (Agara), daerah yang dikenal dengan slogan ‘Sepakat Segenep.’

Agara memiliki kearifan lokal yang unik dalam menyambut bulan Ramadhan, yaitu ritual mandi meugang di Lawe Alas (Sungai Alas) pada sore hari. Ini merupakan tradisi yang sudah ada sejak dulu hingga sekarang. Ritual mandi meugang di Lawe Alas dilakukan oleh semua kalangan, mulai dari orang tua sampai yang muda, dari orang kaya hingga rakyat biasa. Semuanya senang tanpa ada sentimen pribadi atau golongan.

Bagi masyarakat Agara, ritual mandi meugang memberikan kebahagiaan tersendiri dan memiliki makna yang mendalam. Salah satu filosofi yang terkandung dalam mandi meugang adalah membersihkan serta menyucikan diri dari berbagai hawa nafsu yang dapat menghambat pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan nantinya.

Masyarakat Agara yakin bahwa dengan mandi di sungai, airnya yang mengalir dapat menghanyutkan hawa nafsu yang melekat di tubuh. Dengan begitu, setiap individu akan merasa lebih kuat dalam menunaikan ibadah puasa. Selain itu, di era kontemporer sekarang tidak sedikit yang menganggap mandi meugang adalah praktik adat yang bertujuan menyucikan tubuh dari berbagai hadas kecil atau besar sehingga lebih siap menghadapi bulan yang penuh kemuliaan ini.

Berbicara soal aktivitas mandi meugang itu sendiri, biasanya masyarakat Agara sudah berdatangan dan berkumpul di sepanjang tepi sungai Lawe Alas sejak pukul 15.00 WIB hingga menjelang magrib. Sebelum prosesi mandi, perlengkapan seperti sabun, odol, dan sikat gigi tidak lupa dibawa dan tidak lengkap rasanya kalau tidak membawa “limo mungkukh” (jeruk purut). Limo mungkukh yang dibawa pun bukan bahan mentah, melainkan sudah dibakar terlebih dulu. Hal ini bertujuan agar harumnya lebih dominan dan tahan lama.

Selain itu, mandi dengan jeruk purut dipercaya masyarakat dapat menjadikan tubuh lebih segar dan energik saat shalat Tarawih untuk pertama kalinya.

Masa kecil

Sewaktu kecil, saya dan teman-teman memiliki cara tersendiri menikmati mandi meugang di sungai. Hal yang masih teringat dan masih terkenang sampai sekarang adalah ketika saya dan teman-teman langi (berenang) menggunakan ban dalam dan pohon pisang. Begitu antusiasnya, kami rela berjalan kaki berkilo-kilometer hanya untuk mengarungi Sungai Alas di hari meugang.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved