Breaking News:

Masjid Baitul Musyahadah,  Berdenah Segi Lima sebagai Gambaran Rukun Islam

MASJID Baitul Musyahadah merupakan satu-satunya masjid di Banda Aceh yang memiliki kubah berbentuk kupiah

SERAMBI/HENDRI
Masjid Baitul Musyahadah atau Masjid Kupiah Meukeutop, Banda Aceh, selalu ramai jamaah. 

MASJID Baitul Musyahadah merupakan satu-satunya masjid di Banda Aceh yang memiliki kubah berbentuk kupiah. Masjid yang terletak di Jalan Teuku Umar, Gampong Geuceu Kayee Jato, Kecamatan Banda Raya, Banda Aceh, ini lebih dikenal dengan sebutan Masjid Kupiah Meukeutop atau masjid Teuku Umar.

Selain  sebagai tempat beribadah, masjid ini juga difungsikan sebagai tempat pengajian bagi remaja dan anak-anak.

Sebagaimana diketahui, kupiah meukeutop adalah nama topi tradisional Aceh. Topi ini sering terlihat pada foto profil Teuku Umar, pahlawan nasional asal Aceh. Berdasarkan sejarah, dahulu topi ini dipakai oleh bangsawan Aceh. Sementara di jaman sekarang, kupiah meukeutop biasanya digunakan oleh pengantin pria pada acara pernikahan atau acara sunatan serta acara adat lainnya.

Dari bentuknya, kubah masjid ini jauh berbeda dibandingkan kubah masjid umumnya yg berbentuk bulat atau limas. Ditambah lagi dengan warna kubah yang dicat mencolok dan mengikuti pola topi Aceh. Hal itulah yang menyebabkan banyak masyarakay lebih mengenal masjid ini dengan Masjid Kupiah Meukeutop, dibanding nama aslinya, Masjid Baitul Musyahadah.

Lokasi masjid ini bisa dijangkau dengan mudah dari pusat kota. Untuk kesana dapat menggunakan angkutan kota atau yang biasa di Aceh disebut labi-labi, ataupun menggunakan becak motor, serta juga transportasi online.

Meski kesohorannya dari sisi arsitektur dan nilai sejarah masih kalah dibandingkan Masjid Raya Baiturrahman, masjid yang satu ini tetap memiliki keunikan yang tidak dimiliki masjid lainnya di dunia.

Dikutip dari berbagai sumber, Masjid Baitul Musyahadah pada awalnya dibangun secara swadaya oleh masyarakat muslim setempat pada tahun 1989. Saat itu namanya Masjid Al-Ikhlas.

Setelah berjalannya waktu, pada tahun 1993 nama Masjid Al-Ikhlas kembali diubah Masjid Baitul Musyahadah. Sementara rancangan masjid itu ditangani oleh seorang cendekiawan terkemuka di Aceh, Ali Hasjmy. Beliau merancang masjid ini berdenah segi lima sebagai gambaran dari rukun Islam yang harus diamalkan oleh seluruh jamaah masjid.

Bentuk segi lima juga merupakan lambang dari Pancasila, dasar Negara Republik Indonesia. Bentuk dasar segi lima masjid ini terlihat dengan jelas bila dilihat dari udara.

Dari segi arsitektur, Masjid Baitul Musyahadah dibangun dua lantai yang ditopang dengan puluhan tiang besar dan kokoh. Bila dilihat dari luar, masjid yang berdiri di lahan sekitar 3 hektare itu memiliki beberapa fasilitas. Selain memiliki lahan parkir yang luas, masjid ini juga memiliki  tempat wudhu laki-laki dan perempuan yang representatif.

Ornamen-ornamen khas Aceh banyak dipajang di dinding depan Masjid Baitul Musyahadah. Selain itu, masjid ini juga memiliki pintu unik yang terbuat dari besi. Ada empat buah pintu Aceh (Pintoe Aceh) dalam ukuaran besar.

Dua di samping kiri mihrab dan dua lainnya di samping kanan. Empat Pintoe Aceh yang melambangkan adat keacehan posisinya kontras terpajang di dinding utama masjid dalam balutan kuningan.(hendri)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved