Breaking News:

Ekonomi Biru

Mengenal Konsep Ekonomi Biru, dan Perlunya Kesadaran Bersama Merawat Ekosistem Laut

Hingga saat ini, Indonesia sedang berupaya untuk dapat menjaga ekosistem lautannya sambil mengembangkan ekonominya.

Editor: Taufik Hidayat
For Serambinews.com
Pulau baru yang disebut baby island muncul di gugusan Kepulauan Banyak, Aceh Singkil, Senin (30/12/2019) 

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Thomas Bell dari Partnerships in Environmental Management for the Seas of East Asia (PEMSEA) menyebut perlunya pemahaman dan manajemen kesadaran lingkungan yang berkelanjutan di beberapa negara yang memiliki kawasan laut lewat ekonomi biru (blue economy).

Sehingga, lingkungan laut tetap terjaga sambil beriringan dengan perkembangan ekonomi. Terlebih, bagi negara-negara yang memiliki kawasan perairan, laut adalah sumber pemasukan utama baginya.

"Tentunya ini ( ekonomi biru), karena konsepnya relatif baru dan masih dalam pengembangan, jadi tentunya banyak pandangan terkait ini," ujarnya dalam Youth International Forum on Spice Route beberapa hari lalu.

Setidaknya, ia menyebutkan ada beberapa kunci yang dapat difokuskan untuk penerapan ekonomi biru ini, yakni ekoturisme, perikanan, pencegahan zat-zat berbahaya, penanggulangan risiko bencana, hingga manajemen penggunaan lahan.

Tetapi yang jadi faktor penting dalam mengatur lautan dan pesisir demi pembangunan ekonomi demi menjaga lingkungan, perlu diperhatikan pada penggunaan energi, ketersediaan air bersih, dan manajemen penggunaan lahan.

"Itulah yang akan membangun pertumbuhan ekonomi, tak hanya dapat menopang [lingkungan] tapi juga adil, dan berintegrasi pada pendekatan antara industri, pemerintah, dan juga tak ada fokus tunggal karena itu juga gambaran dan inovasi yang diberikan secara sains," jelasnya.

Baca juga: Harga Emas Naik Jadi Rp 939.000 Per Gram, Berikut Rincian Harga Emas Hari Ini Senin 19 April 2021

Baca juga: Polri Gandeng Interpol Buru Jozeph Paul Zhang Nabi ke-26, Sudah Tinggalkan Indonesia Sejak 2018

Baca juga: Amanda Manopo Unggah Kata-kata Mutiara Ini di Medsos, hingga Diduga Mualaf, Ternyata Ini Alasannya

Selain tawaran sistem untuk pemerintah, Bell juga menjelaskan betapa pentingnya kesadaran menjaga ekosistem sekitar pada masyarakat maupun perusahaan.

"Kita tahu kalau air itu datang dari hujan turun di gunung, mengisi sungai, dan banyak manfaat. Tapi kita juga harus sadar juga seperti berapa lama ekosistem itu dapat menopang hingga akhirnya rusak," ungkapnya.

Manusia memiliki kedekatan dan bergantung pada lingkungan sekitarnya. Kondisi alam yang rusak menyebabkan kerugian besar yang tak terkira, dan patut diperhitungkan oleh manusia sebagai yang bertanggung jawab atas kerusakan itu.

Robert Costanza dari Australian National University dalam jurnal Global Environmental Change, memperkirakan kerugian kerusakan lingkungan pada 2011 diperkirakan sebesar 125 triliun dolar per tahun. Kerusakan itu umumnya disebabkan regulasi yang buruk dalam pengelolaan lingkungan, dan aktivitas korporasi berskala regional hingga global.

Menanggapi temuan itu, Bell berujar, "Kalau begitu kan kita harus mengurangi dampak dari pemanasan global dengan membuat energi yang ramah di udara, lautan, perairan, dan menstabilkan garis pantai."

Dalam konteks kelautan, ia menilai bahwa negara-negara yang memiliki kawasan laut seperti Indonesia harus memperhatikan hal ini. Terlebih, Indonesia bersama negara-negara Asia Tenggara lainnya juga memanfaatkan jalur dagang laut yang telah terbentuk sejak berabad-abad lamanya yang disebut jalur rempah.

"Ini juga selaras dengan pandangan ekonomi hijau yang hendak memngembangkan SDM, membangun perekonomian sosial, dan mengurangi dampak risiko lingkungan yang sekaligus mengurangi kemiskinan," jelasnya.

Hingga saat ini, Indonesia sedang berupaya untuk dapat menjaga ekosistem lautannya sambil mengembangkan ekonominya.

Baca juga: Ikatan Cinta Senin 19 April 2021: Elsa Panik, Nino dan Ricky Terlibat Konflik, Al dan Rosa?

Baca juga: Keramas Saat Puasa Ramadhan Hukumnya Makruh, Benarkah? Simak Penjelasan Dalilnya

Baca juga: Miris! Anggota Brimob Tewas dan Prajurit TNI Luka Dikeroyok di Kafe Wilayah Jakarta Selatan

Ketua Maritim Muda Indonesia, Kaisar Akhir memaparkan dalam forum yang sama, bahwa pihaknya sedang menggandeng beberapa pihak dari kementerian, akademisi, peneliti, dan pebisnis, demi menciptakan ekonomi biru.

"Kita bisa lihat dari industri [4.0] ini, kita memanfaatkan indikator dengan intielegent production incorporated lewat IT, teknologi, dan big data. Dan Indonesia sendiri memiliki visi untuk menjadi Top 10 Global Economy," katanya.

"Di bidang otomotif, kita sedang menggandeng beberapa pihak untuk membuat teknologi dari energi terbarukan seperti perahu dan kapal yang memakai energi matahari. Atau di bidang kimia, kita sudah mulai untuk mencoba membudidayakan alga untuk dijadikan biogas, dan memproduksi bio-plastik."(*)

Artikel ini sebelumnya tayang di https://nationalgeographic.grid.id/read/132637321/konsep-ekonomi-biru-solusi-ramah-lingkungan-di-laut-dan-laju-industri?page=all

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved