Breaking News:

Masjid Teungku Di Pucok Krueng Beuracan, Masih Berdiri Kokoh Meski Berusia Ratusan Tahun

MASJID Teungku Di Pucok Krueng Beuracan, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya, atau biasa dikenal dengan Masjid Beuracan merupakan satu dari sejumlah masjid

FOR SERAMBINEWS.COM
Seorang pengendara melintas di jalan umum, disamping Masjid Tgk Di Pucoek Krueng, Kemukiman Beuracan, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya. 

MASJID Teungku Di Pucok Krueng Beuracan, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya, atau biasa dikenal dengan Masjid Beuracan merupakan satu dari sejumlah masjid bersejarah yang ada di kabupaten berusia 13 tahun.

Masjid berbentuk empat persegi ini terletak di pinggir jalan negara, lintas Banda Aceh-Medan. Di lokasi itu terdapat dua masjid yang berada dalam satu kompleks. Masjid berarsitek klasik ini masih terpeliharan dengan baik. Letaknya yang berada di bantaran Krueng Beuracan, membuat pemandangan masjid tua ini semakin indah.

Dari jejak rekam sejarah, masjid tua ini dibangun oleh Teungku Abdussalam (Ada yang menyebutkan Abdussalim) atau yang dikenal dengan Teungku Chik Di Pucok Krueng. Nama Teungku Chik Di Pucok Krueng inilah yang kemudian ditabalkan pada masjid tertua di Meureudu itu.

Menurut Tgk Ismail Be bin Ba’ (72), bilal masjid, dari keterangan almarhum Tgk M Usman--ketua panitia pembangunan masjid--Masjid Teungku Chik Di Pucok Krueng ini didirikan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, pada tahun 1607 M-1636 M. Saat itu dibangun tiga masjid, yaitu Masjid Beuracan, Masjid Kuta Batee dan Masjid Madinah, di Kecamatan Meurah Dua, yang merupakan pecahan dari Kecamatan Meureudu. 

“Masjid Teungku Chik Di Pucok Kreung awalnya merupakan masjid satu-satunya selain digunakan warga Beuracan, tapi juga digunakan warga di tiga kemukiman, Ulim, Pangwa, dan Beuriwueh,” sebut Tgk Ismail Be Bin Ba’.

Meski berada di pinggiran Krueng Beuracan yang kerap meluap saban musim penghujan, Masjid Tgk Di Pucok Krueng selalu terhindar dari genangan air. Selain itu, di masjid ini juga terdapat satu guci yang airnya banyak dimanfaatkan warga.

Namun, ada larangan bagi wanita yang sedang haid untuk mengambil air di guci tersebut. Larangan itu bisa dibaca dengan jelas pada tulisan yang dipajang di depan masjid. “Jika guci ini didekati oleh kaum hawa yang sedang berhalangan (datang bulan), maka pada malam hari bangkai tikus akan mengapung dalam air guci,” terangnya.

Pada tahun 1947, masjid ini direhab dengan memperindah bangunan tanpa mengubah bentuk awal. Kalaupun ada, hanya menambah dinding bagian belakang (sisi barat). Kemudian pada tahun 1990, Masjid Beuracan dipugar kembali oleh Muskala Kanwil Depdikbud Provinsi Daerah Istimewa (DI) Aceh dengan penambahan dinding seluruh bagian masjid dan mengganti tiang-tiang serta atap yang rusak akibat dimakan usia.

Pendiri Masjid Teungku Di Pucok Krueng, Tgk Abdussalam, merupakan seorang yang ahli dalam bidang pertanian dengan sebutan Poh Roh alias Peugeut Blang (cetak sawah baru). Di masanya, Tgk Di Pucok Kreung ini mampu merintis sebanyak 25 yok (1 yok sama dengan 1 hektare) areal persawahan yang dijadikan sebagai aset milik pengelola masjid atau lazim disebut Tanoh Meusara (Waqaf) yang dikelola untuk kemakmuran masjid.

Usaha perluasan areal persawahan terus dirintis bersama masyarakat setempat sehingga membuat Sultan Iskandar Muda sempat tercengang melihat terobosan Tgk Di Pucok Krueng yang membuka lahan baru di Gunung Raweu--terletak antara Kecamatan Meureudue (Pidie Jaya) dengan  Kecamatan Geumpang (Pidie). Kala itu, Sultan Iskandar Muda penasaran karena seluruh bala tentara yang dipimpin Panglima Malem Dagang dan Tgk Japakeh sudah berkumpul untuk memerangi kerajaan Johor, Malaysia. Tapi, Tgk Di Pucok Krueng tak berada di tempat. Sehingga Sultan Iskandar Muda dengan mengendarai Gajah Putih mengirim utusan untuk menjemput Tgk Abdussalam.

Namun, gajah putih tersebut tak mau bergerak dan memberi isyarat dengan mengangkat belalai sabagai tanda istirahat. Gajah putih itu istirahat di Gampong Bie, Kecamatan Meurah Dua. Nama Meurah Dua ini ditambalkan dari dua gajah rombongan Sultan Iskandar Muda yang duduk menanti kepulangan Tgk Di Pucok Krueng. Demikian juga nama Meureudu diambil dari nama Meurah Du artinya gajah duduk.

Sementara itu, menurut cerita kalangan Ulee Balang Seulimuem, Aceh Besar, Teuku Bustaman, adik HT Johan mantan wakil Gubernur Aceh yang diceritakan kepada Tgk M Usman, bahwa guci di Masjid Bubu (Sekarang Masjid Guci Rempong, Kecamatan Peukan Baro, Pidie) yang dibangun Tgk Chik Di Pasi merupakan hadiah dari kerajaan Cina. Pada sisi guci itu terdapat tulisan naga. Karena dalam Islam melarang gambar sehingga dikikis dan digantikan dengan khat Alquran.

Hingga saat ini, makam Tgk Di Pucok Krueng belum diketahui secara persis. Meski tiga kuburan di kaki Pucok Krueng, Meureudu, sudah dipastikan bukanlah beliau. Sebab, menurut cerita turun temurun, Tgk Abdussalam saat itu menghilang ke arah barat tanpa kembali.(idris ismail)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved