Jumat, 5 Juni 2026

Opini

‘Mop-Mop’, Seni Biola Aceh yang Nyaris Punah

Piasan (hiburan) era tahun ‘70-an bagi rakyat Aceh, selain seudati, sandiwara (tonil), dan geudeu-geude adalah mop-mop

Tayang:
Editor: hasyim
RIAZUL IQBAL MARZUKI 

RIAZUL IQBAL MARZUKI, Guru Sekolah Sukma Bangsa Pidie dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Pidie, melaporkan dari Sigli

Piasan (hiburan) era tahun ‘70-an bagi rakyat Aceh, selain seudati, sandiwara (tonil), dan geudeu-geude adalah mop-mop. Terkait mop-mop ini saya berbicara dengan Syekh Habibi, seorang sepuh pemain mop-mop di sela-sela acara Revitalisasi Sastra Mop-Mop yang dihelat di Sekolah Sukma Bangsa Pidie, tanggal 1-2 April 2021.

Beliau bercerita, panggung hiburan Aceh dulu tak mengenal bulan. Pertunjukan seudati, mop-mop (biola Aceh), sandiwara, dan seni panggung lain, berlangsung sepanjang tahun. Bahkan kalau penontonnya ramai, syekh syair (ceh ca’e) harus bertahan sampai pukul 3 pagi di atas pentas. Karena sedang seru-serunya dan tak mungkin mengusir penonton yang sedang bersemangat. Hanya hari Jumat dan bulan puasa saja mereka tidak main.

Rangkaian hiburan malam di Aceh sangatlah bergairah sebelum konflik bergejolak. Kalau geudeu-geudeu dimainkan setelah panen padi, mop-mop justru ada sepanjang tahun dan selalu berpindah dari daerah ke daerah, seperti pasar malam sekarang.

Tim Mop-Mop dari Pidie pernah tampil di Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) II pada tahun 1972. Para pemainnya saat itu Syeh Lah dan Syeikh Ali Basyah. Pada tahun ‘70-an juga Syekh Ali Basyah menikah ke Krueng Mane, Aceh Utara, dan manggung bersama anak asuhannya di sana, Syekh Seuhak.

Syekh Habibi berbadan kurus kering dan sangat lincah dalam menari. Hidungnya mancung, memakai topi moris, dan banyak bercerita sepanjang acara. Beliau mengenang kontrak beliau yang selalu ada, selalu berdurasi belasan hari, dan selalu keliling provinsi. Tapi sekarang hanya hitungan hari dan malah tak mau lagi untuk dipanggil karena kata mereka sudah lelah dan ingin beristirahat di usia senjanya. Dia sudah naik panggung sejak 16 tahun lalu.

Syekh Habibi ditemani Syekh Kawi melatih murid Sukma Bangsa Pidie dan satu tim dari Kabupaten Pidie. Syekh Kawi pemain biola berkopiah putih dan tenang. Beliau tak banyak bicara, hanya fokus dengan biolanya, dan suka menyambung syair dari Syekh Habibi saat tampil.

Memang peran Yah Tuan (mertua) melekat pada beliau, peran Yah Tuan di mop-mop berwibawa, tenang, dan mendamaikan pertengkaran antara dara baro dan linto baro (pengantin perempuan dan pengantin pria) dalam seni drama musikal ini.

Uniknya, dalam pertujukan mop-mop, peran perempuan diperankan oleh laki-laki. Dua-duanya, selain Yah Tuan di make-up menor, sehingga wajah putih terang seperti badut. Makanya terkadang disebut juga ‘maop-maop’ karena muka pemainnya seperti hantu (maop).

Memang dalam mop-mop lebih kepada komedi yang sedikit menyindir rumah tangga, seperti mengejek suami yang kekurangan atau pelit yang tak membawa pulang apa-apa ke rumah, istri yang malas, kurang cekatan, dan nantinya konflik ini direlai oleh Yah Tuan.

Penonton tak hanya terhibur dengan lakon ini, tapi juga sepulang dari menonton mereka mawas diri bahwa ada benarnya juga yang diperankan oleh suami, istri, dan Yah Tuan tadi. "Pesan moral yang dibawa secara komedi, biasanya teringat oleh pemirsa yang menyaksikan," kata Syekh Kawi.

Pertunjukan ini diawali dengan linto baro dan dara baro menari seperti gerakan tari seudati yang diiringi biola, Yah Tuan hanya duduk, sedangkan yang banyak bicara linto dan dara baro yang berlakon sedang adu argumen, tapi dengan berbalas pantun.

Namun, konflik Aceh yang berlangsung 29 tahun membuat para seniman tak bisa manggung.

"Jangankan naik panggung, saat daerah operasi militer (DOM), saya tak bisa mendengar azan tiga tahun," sambung Syekh Habibi.

Syekh Habibi bahkan kehilangan seorang anaknya saat konflik. Beliau berkata, “Terkadang kami tampil sampai 15 malam. Setelah 15 malam ada penampilan lain sampai 10 malam, kadang seudati dan sandiwara.”

Grup-grup seni ini pindah dari gampong ke gampong, kota ke kota seluruh kabupaten di Aceh. Pagelaran seni mop-mop ini dimulai saat pukul 9 malam, saat anak-anak sekolah sudah tidur. Juga saat anak-anak pengajian sudah pulang ke rumah.

Untuk pemain Mop-mop disediakan jambo, panggung yang beratap, supaya seniman tidak basah dan tetap bisa main saat hujan. Walaupun penonton kehujanan, artis tetap tak boleh basah dan show must go on.

Seni drama yang diiringi musik biola ini beranggotakan tiga orang. Satu berperan sebagai Ayah Tuan (mertua) yang bermain biola, menantu/linto baro, dan dara baro.

Mop-Mop memadukan dansa, seudati, dan syair pantun tutur bernada ab-ab. Kebanyakan bertemakan rumah tangga.

Selain konflik, yang menyebabkan mop-Mop hampir hilang adalah ditemukannya televisi, walaupun masih hitam putih, saat itu pemerintah melalui Departemen Penerangan membagikan TV untuk gampong-gampong dan orang kaya membeli parabola.

Sejak saat itulah masyarakat Aceh memperlakukan televisi seperti piasan lain, yakni menontonnya sampai pukul 3 dini hari.

Acara revitalisasi di Sekolah Sukma Bangsa ini dimaksudkan untuk melahirkan syeikh-syeikh baru pemain mop-mop. Sekarang ini di Pidie tinggal satu grup lagi dan usia pemainnya rata-rata sudah lebih 70 tahun.

Dalam hal ini Balai Bahasa Provinsi Aceh, melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mengambil inisiatif cepat untuk menyelamatkan mop-mop yang diduga berasal dari Pidie dan berkembang di Aceh Utara.

Balai Bahasa Aceh membentuk dua grup dan melatih grup ini untuk bisa memerankan kembali pementasan drama ini. Acara ini berlangsung dua hari, diawali dengan pengenalan dan wawasan tentang pergelaran seni di Aceh, peserta aktif bertanya dari mana asalnya dan begaimana perkembagannya.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh Balai Bahasa Aceh, termasuk meneliti ke kabupaten dan menanyakan apa ada grup mop-mop yang masih ada dan memfasilitasi Teuku Zulfajri menulis buku tentang seni pertunjukan drama ini.

Upaya riil adalah membentuk grup pengganti, supaya seni ini tetap lestari. Semoga di masa mendatang banyak lagi seni Aceh yang direvitalisasi, baik oleh pemerintah maupun komunitas.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved