Breaking News:

Berita Aceh Tamiang

Hidup dari Hasil Mengais Sampah, Sutinem tidak Ingin Membebani Anak

Sutinem lebih memilih mengais sampah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dibanding menjadi peminta-minta.

Serambinews.com
Sutinem beristirahat di atas titi penghubung Kantor Bupati dan DPRK Aceh Tamiang usai mengumpulkan sampah, Selasa (27/4/2021). Meski sesekali menerima sedekah, dia tetap tak berpikir menjadi pengemis. 

Laporan Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang

SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG – Sutinem (81) warga Kampung Dalam, Karangbaru, Aceh Tamiang lebih memilih mengais sampah dibanding menjadi peminta-minta.

Dirinya pun mengabaikan bahaya yang selalu mengintai ketika ia memanjat kontainer sampah setinggi 1,5 meter di belakang kantor DPRK Aceh Tamiang.

Perjuangan keras ini dilakukannya bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tapi juga untuk tidak membebani anak-anaknya.

“Kasihan anak-anak, kalau untuk makan biar saya cari sendiri saja,” kata Sutinem, Selasa (27/4/2021).
Sutinem mengungkapkan dirinya dikaranuia delapan anak. Dua anaknya telah meninggal dunia, sedangkan tiga lainnya merantau yang tidak ia ketahui pasti keberadaannya.

“Yang dekat sama saya tinggal tiga anak, kalau yang merantau kayaknya di Aceh sama Pekanbaru,” ungkapnya.

Dia mengungkapkan kondisi perekonomian ketiga anaknya ini pun pas-pasan, karena semuanya berprofesi sebagai penarik becak.

Baca juga: VIDEO Ular Piton Raksasa Pemangsa Kambing Warga Subulussalam Ditangkap di Kebun Sawit

Baca juga: Jadwal Pencairan THR untuk PNS Lhokseumawe belum Jelas, BPKD Tunggu Peraturan Pemerintah

Baca juga: Tim Gegana Geledah Bekas Markas FPI, Temukan 4 Kaleng Bubuk Putih Mencurigakan

Baca juga: Habib Bahar Mengaku Aniaya Sopir Taksi Online Karena Istrinya Digoda,

“Semuanya tetap perhatian, tetap sayang. Tapi kan namanya narik becak, gak banyak juga dapatnya,” sambungnya.

Mengenai saudara, Sutinem mengaku tidak memiliki banyak. Wajar saja, dia merupakan perantau asal Jawa Tengah yang datang ke Aceh Tamiang tahun 1961.

“Uwak saya yang bawa, tahun 61 sampai sekarang,” jelasnya.

Sosok Sutinem menarik perhatian karena setiap subuh dirinya sudah berada di sekitar komplek perkantoran Pemkab Aceh Tamiang.

Setiap hari itu pula dia selalu memanjat kontainer sampah untuk mengais limbah rumah tangga untuk dijualnya ke tukang loak.

Dari kegiatan ini, Sutinem hanya mampu menghasilkan uang Rp 200 ribu per bulan. “Ya tidak cukup, kadang-kadang ada orang yang kasih sedekah,” ucapnya.

Meski begitu, tak pernah terbersit di benaknya untuk menjadi peminta-minta. Dia menegaskan lebih  mulia mencari nafkah dengan keringat sendiri dibanding mengiba kepada sesama manusia.(*)

Penulis: Rahmad Wiguna
Editor: Taufik Hidayat
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved