Breaking News:

Keuangan Syariah: Potensi Dan Tantangan

PELAKSANAAN Syariat Islam di Provinsi Aceh sedikit demi sedikit mengalami ekspansi. Dari sebelumnya lebih pada ranah hukum

Keuangan Syariah: Potensi Dan Tantangan
FOR SERAMBINEWS.COM
Dr. Hafas Furqani, M.Ec

PELAKSANAAN Syariat Islam di Provinsi Aceh sedikit demi sedikit mengalami ekspansi. Dari sebelumnya lebih pada ranah hukum, dalam beberapa tahun terakhir sudah mulai merambah pada dimensi ekonomi dan transaksi keuangan. Ini dimulai dengan dikonversinya Bank Milik Pe merintah Daerah, Bank Aceh pada 19 Sep tember 2016.

Ke mu dian, pada tahun 2018, Pemerintah Aceh menerbitkan Qanun No. 11 tentang Lembaga Keuangan Syariah yang menghendaki seluruh transaksi keuangan dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah Aceh sesuai dengan prinsip dan aturan Syariah.

Langkah ini bukan saja bagian dalam agenda melaksanakan Syariat Islam secara kaffah, akan tetapi juga karena keinginan akan jasa keuangan yang lebih humanis, transparan, adil, berbasis pada perekonomian riil dan menghindari spekulasi atau eksploitasi.

Potensi Saat ini, industri keuangan Syariah berkembang pesat di Indonesia. Sektor ini dianggap sebagai potensi yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Walaupun market sharenya masih relatif lebih kecil dibandingkan dengan industri keuangan konvensional, ekonomi syariah Indonesia terus berkembang.

Saat ini, seperti data yang dirilis The State of Global Isla mic Indicator Report 2020/2021 pada November 2020, Indo nesia berhasil masuk ke peringkat keempat dunia dari sebelumnya peringkat 10 besar pada tahun 2018.

Bagi Aceh sen diri se bagai daerah yang dikenal dengan pelaksanaan Syariat Islam, seharusnya juga melihat ke uangan Syariah sebagai potensi untuk membangun keunggulan komparatif pembangunan ekonomi daerah. Demikian juga sektor ekonomi Syariah lainnya seperti Pariwisata Syariah dapat menjadi potensi yang bisa dikembangkan oleh Pemerintah Aceh.

Brand “Aceh Halal Tourism” yang dilaunching 6 Desember 2019 bisa menjadi distingsi bagi wisatawan yang mencari destinasi wisata yang sesuai dengan konsep Syariah. Sektor industri halal juga bisa menjadi potensi untuk pengembangan ekonomi daerah. Thailand hari ini, di saat sebagian negara Muslim apatis dengan konsep Syariahnya, justru menjadi pemain ekonomi halal yang disegani karena kemampuan mengembangkan lab halal terbaik. Produk pertanian dan industri di Thailand mengikuti standar halal dan bisa dipasarkan ke negara-negara Muslim.

Tantangan Namun demikian ada beberapa hal yang masih menjadi tantangan dalam aplikasi dan pengembangan keuangan Syariah, di antaranya adalah tingkat literasi masyarakat masih rendah. Survey yang dilakukan Bank Indonesia menunjukkan tingkat literasi keuangan Syariah masyarakat pada level 21%.

Artinya dari 100 orang, hanya 21 orang warga Aceh yang paham keuangan Syariah. Akibatnya, kesalahpahaman (miskonsepsi) dalam membedakan keuangan syariah dan konvensional sering kali terjadi. Untuk itu, perlu ditingkatkan edukasi dan sosialisasi dengan mensinergikan berbagai pihak pemerintah, ulama, akademisi dan praktisi.

Di samping itu, fasilitas, produk dan jasa yang ditawarkan, serta kualitas pelayanan Lembaga Keuangan Syariah juga harus setara lembaga keuangan konvensional. Hal ini karena nasabah tidak hanya mencari kepuasan spiritual dari transaksi keuangan. Pelayanan dan fasilitas juga menjadi dimensi yang diinginkan.

Pada akhirnya, patut men - jadi renungan kita bahwa keuangan Syariah sesungguhnya adalah usaha un tuk meninggalkan riba dan hal-hal terlarang lainnya dalam transaksi keuangan. Untuk mewujudkan model keuangan Syariah Aceh yang benar-benar Syar’i diperlukan kesungguhan, kesadaran, dan komitmen semua pihak.

* Wakil Dekan I FEBI UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Email: hafas.furqani@ar-raniry.ac.id

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved