Minggu, 10 Mei 2026

Lembaga Keuangan Syariah

Pelayanan Bank Syariah Disorot, Ini Harapan Aktivis Santri Aceh

Sorotan terhadap pelayanan bank syariah ini juga mendapat perhatian dari aktivis santri Aceh, Teuku Zulkhairi.

Tayang:
Penulis: Masrizal Bin Zairi | Editor: Zaenal
Facebook.com
Teuku Zulkhairi, Dosen UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. 

Laporan Masrizal | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Akhir-akhir ini, masyarakat Aceh mengeluhkan dan mengkritisi pelayanan bank syariah yang beroperasi di Aceh.

Pantauan Serambinews.com dalam dua hari terakhir, keluhan terhadap pelayanan bank syariah ini diungkap warga melalui sejumlah postingan di Facebook maupun dalam grup-grup WhatsApp.

Ada dua layanan paling banyak mendapat sorotan, yaitu anjungan tunai mandiri (ATM) sering kosong uang dan pengiriman uang transfer online berstatus gagal, sementara biaya terpotong.

Ada juga kasus transfer sukses, tapi penerima mengaku belum menerima transferan alias uang belum masuk.

Sorotan terhadap pelayanan bank syariah ini juga mendapat perhatian dari aktivis santri Aceh, Teuku Zulkhairi.

Kepada Serambinews.com, Rabu (5/5/2021), Zulkhairi yang merupakan akademisi UIN Ar-Raniry membandingkan kenapa saat bank masih berstatus konvensional transaksi pada ATM tidak ada masalah, tapi ketika beralih ke sistem syariah, masalah malah muncul.

"Kalau ketika nasabah menggunakan bank konvensional urusan bisa mudah di ATM, lalu kenapa ketika bank konvensional berubah menjadi syari'ah urusan nasabah di ATM menjadi sulit?," kata Zulkhairi dalam nada bertanya.

Humas Rabitah Thaliban Aceh (RTA) ini mengaku heran dengan keadaan tersebut.

Pasalnya, kata Zulkhari, kedua sistem ATM itu, konvensional maupun syariah, diurus oleh manusia (pegawai bank).

"Lalu, kenapa yang satu mudah dan satunya lagi menjadi sulit (ketika berubah menjadi syari'ah), padahal sama-sama ditangani oleh manusia?," kata dia yang juga mengkritisi lewat postingan facebooknya.

Menurut Zulkhairi, itulah masalah yang dihadapi umat Islam di zaman ini.

Tidak mudah untuk kembali ke jalan Islam, banyak tantangan yang datang dari banyak sisi.

"Oleh sebab itulah kita perlu kritis kepada manusia. Karena manusia lah yang punya kerja yang urus ATM itu dan juga yang urus seluruh pelayanan di bank syari'ah," ujarnya.

Baca juga: Anggota DPRA Keluhkan Pelayanan Bank Syariah di Aceh, ATM Sering Kosong Uang dan Gagal Transfer

Baca juga: Gubernur Harap Bank Syariah Indonesia dan Bank Aceh Syariah Dapat Bersinergi

Jangan Salahkan Sistem Syariah

Zulkhairi tidak sependapat karena persoalan ATM kemudian yang disalahkan penerapan sistem syariahnya.

Penerapan syariah tidak ada kaitan dengan persoalan yang terjadi saat melakukan transaksi di ATM.

"Kita harus bisa membedakan antara kerja manusia yang mengurus ATM dan transaksi bank lainnya dengan ekonomi syari'ah sebagai suatu konsepsi ekonomi Islam untuk kita umat Islam," lanjutnya.

"Kita dilarang oleh Islam untuk bertransaksi dengan sistem ribawi yang melekat dan identik pada bank konvensional. Dosa riba yang paling kecil adalah bagai berzina dengan ibu kandung. Na'uzubillah min dzalik. Sungguh mengerikan," jelasnya.

Karena ada ancaman seperti ini, tambah Zulkhairi, tentu sebagai seorang muslim pasti memilih sistem ekonomi syari'ah sebagai ganti sistem bank konvensional.

"Kita berharap kelak dapat berjumpa dengan Rabb kita. Dan bagaimana mungkin kita akan berjumpa dengan Nya jika di dunia ini kita abaikan ajaranNya, termasuk ajaranNya yang melarang riba," ungkapnya lagi.

Baca juga: Nasabah Mandiri Syariah Tak Perlu Migrasi ke Rekening BSI, Bagaimana Dengan Nasabah BRIS dan BNIS?

Ketika saat ini Aceh dihadapkan pada problem rusaknya pelayanan bank syari'ah yang sudah berubah dari konvensional (sebagai suatu tuntutan dari agenda penerapan syari’at Islam secara integral dan menyeluruh), Zulkhairi mengatakan langsung teringat dengan ungkapan Mohammed Natsir.

"Kata beliau: "Islam beribadah akan dibiarkan. Islam berekonomi akan diawasi. Islam berpolitik akan ditumpas ke akar-akarnya"."

"Mungkin ungkapan ini tidak cocok semuanya di negara kita, tapi dari ungkapan itu setidaknya kita bisa paham bahwa menuju ekonomi Islam itu tidak semudah membalikkan telapak tangan," ujar Zulkhairi.

Zulkhairi yang juga seorang dai ini mengatakan sangat mendukung bank syari'ah. Tapi ia mengaku heran kenapa ketika berstatus bank konvensional pegawainya bisa memberikan pelayanan dengan baik termasuk ATM.

"Tapi setelah berubah jadi bank syari'ah kok jadi hancuran. Oleh sebab itu, kita berharap publik Aceh dapat memahami persoalan ini dan memfokuskan kritikan kepada manusianya. Bukan kepada sistem syari'ahnya. Karena Syari'at Islam itu adalah jalan hidup kita sebagai muslim," katanya.

Ia berharap para pihak terkait dapat melacak sumber dan inti masalah dan betul-betul mendorong agar bank syari'ah di Aceh dapat memberikan pelayanan terbaik agar orang-orang semakin jatuh cinta kepada syari'at Islam.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved