Breaking News:

Ramadhan Mubarak

Nilai Sebuah Kejujuran

Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan

Editor: bakri
Nilai Sebuah Kejujuran
Ir. Faizal Adriansyah, M.Si

Oleh Ir. Faizal Adriansyah, M.Si

SALAH satu pesan penting Rasulullah agar puasa kita berhasil dengan baik adalah jangan berdusta sebagaimana hadist riwayat Imam Bukhari, "Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan."

Dalam hadist ini kejujuran menjadi penekanan penting sebagai indikator keberhasilan puasa seseorang. Rasulullah sendiri sebagai uswatun hasanah menjadikan kejujuran hiasan pribadi beliau.

Bahkan sejarah mencatat bahwa sebelum beliau diangkat menjadi Rasul di usia 40 tahun, gelar kejujuran sudah ditambatkan oleh masyarakat pada nama beliau yaitu Muhammad Al Amin. Suatu gelar kehormatan yang tidak pernah diberikan bangsa Quraisy waktu itu kepada siapapun selain kepada Muhammad bin Abdullah.

Pada suatu hari Rasulullah pernah ditanya salah seorang sahabat dengan tiga pertanyaan. "Wahai Rasulullah, apakah orang yang sudah beriman bisa mencuri?" Rasulullah pun membenarkan, "Benar kata beliau orang beriman bisa mencuri."

Sahabat itu pun bertanya lagi, "Wahai Rasulullah, apakah orang beriman itu bisa berzina?" Kembali Rasulullah pun membenarkan. Orang beriman bisa saja khilaf dan jatuh pada perzinaan.

Pertanyaan selanjutnya sahabat mengajukan kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah, apakah orang beriman itu bisa berbohong?" Kali ini Rasulullah menjawab tegas "Tidak!" (HR. Tirmidzi).

Kalau kita simak hadist ini ternyata posisi berbohong bisa mengeluarkan seseorang dari keimanan. Sejalan dengan hal tersebut Allah berfirman dalam surah An Nahlu ayat 105, "Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah pembohong".

Sifat jangan dusta atau bohong pernah Rasulullah syaratkan untuk seseorang Badui yang masuk Islam. Dikisahkan ada seorang laki-laki Badui yang berkeinginan masuk Islam. Dia datang kepada Rasulullah menyatakan ingin masuk Islam, namun ia menyatakan bahwa masih hobi dengan maksiat.

Rasulullah tidak marah, beliau hanya berkata "Maukah kamu berjanji satu hal kepadaku". Laki-laki Badui itu serta merta menjawab "Mau ya Rasulullah" karena dia fikir gampang sekali masuk Islam hanya berjanji satu hal saja.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved