Roket China
NASA Kritik China Gagal Terapkan Standar Puing Luar Angkasa Pasca Jatuhnya Roket Long March 5B
Stasiun luar angkasa pertama China, Tiangong-1, jatuh ke Samudra Pasifik pada 2016 setelah Beijing mengonfirmasi bahwa mereka telah kehilangan kendali
SERAMBINEWS.COM - China mengatakan, segmen inti dari roket terbesarnya masuk kembali ke atmosfer Bumi dan sebagian besar bagiannya terbakar sebagaimana dilansir
Associated Press.
Seorang astrofisikawan dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics, Jonathan McDowell, mengatakan China sepertinya “menang taruhan”.
"Nampaknya China menang taruhan (kecuali kita mendengar kabar adanya kerusakan di Maladewa)," kata McDowell.
“Sebagian besar roket terbakar tanpa bisa dikenali selama proses masuk atmosfer,” kata laporan kantor berita resmi China Xinhua.
Meski demikian, Administrator NASA Bill Nelson mengeluarkan pernyataan yang mengkritik China dengan pedas.
"Jelas bahwa China gagal memenuhi standar terkait puing-puing ruang angkasa mereka,” kata Nelson dalam pernyataannya yang dirilis di website NASA.
• Warga Lawe Loning Santuni Anak Yatim Rp 1,225 Ribu per Orang
• Terungkap Palsukan Surat Swab, Ahli IT Ini Ditangkap di Bandara, Mengaku Terdesak Tugas ke Jakarta
Sementara itu dilaporkan puing-puing roket Long March 5B milik China kembali ke atmosfer bumi dan jatuh di Samudra Hindia.
Sebagian roket tersebut hancur terbakar atmosfer bumi dan sebagian lagi mendarat di perairan sebelah barat Maladewa pada Minggu (9/5/2021).
Roket Long March 5B membawa modul utama Tianhe ke orbit Bumi pada 29 April.
China berencana melakukan 10 peluncuran lagi untuk membawa bagian tambahan dari stasiun luar angkasa tersebut ke orbit.
Jatuhnya roket Long March 5B sepanjang 30 meter itu disebut menjadi salah satu puing luar angkasa terbesar yang jatuh ke Bumi.
Roket seberat 18 ton yang jatuh tersebut adalah puing-puing terberat yang jatuh tak terkendali sejak bekas stasiun luar angkasa Salyut milik Uni Soviet jatuh ke Bumi 7 pada
1991.
Stasiun luar angkasa pertama China, Tiangong-1, jatuh ke Samudra Pasifik pada 2016 setelah Beijing mengonfirmasi bahwa mereka telah kehilangan kendali.
Pada 2019, badan antariksa China mengendalikan penghancuran stasiun keduanya, Tiangong-2, di atmosfer.
Pada Maret, puing-puing dari roket Falcon 9 yang diluncurkan oleh perusahaan aeronautika AS SpaceX jatuh ke Bumi di Washington dan di pantai Oregon.(*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul China Angkat Suara Setelah Roketnya Jatuh di Samudra Hindia
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/roket-china-saat-diluncurkan-ke-orbit.jpg)