Luar Negeri

Kekuatan Sniper Hamas Bikin Israel Ketakutan, Akurat hingga Jarak 1,5 KM

Kehadiran para sniper itu tentu saja mengejutkan dan membuat ketakutan lawannya, karena situasi pertempuran dengan cepat bisa berubah.

Editor: Faisal Zamzami
MIDDLE EAST MONITOR / ANADOLU AGENCY / MUSTAFA HASSONA
Anggota Brigade Izz Ad-Din Al-Qassam, sayap bersenjata Hamas, saat berada di Gaza, 2017 lalu. (MIDDLE EAST MONITOR / ANADOLU AGENCY / MUSTAFA HASSONA) 

SERAMBINEWS.COM - Peran seorang sniper atau penembak jitu dalam perang tak bisa diragukan lagi.

Sniper menjadi ujung tombak pihak yang ingin menjatuhkan lawan dengan cara sembunyi-sembunyi.

Kehadiran para sniper itu tentu saja mengejutkan dan membuat ketakutan lawannya, karena situasi pertempuran dengan cepat bisa berubah.

Seperti yang terjadi pada konflik Jalur Gaza yang hingga kini masih belum terselesaikan.

Pada Sabtu (21/7/2018) seorang tentara Israel tewas akibat tembakan sniper Hamas.

Kejadian tersebut membuat konflik di Jalur Gaza sempat mereda, karena terjadi gencatan senjata antara pasukan Israel dan warga Palestina.

Namun, kini kembali memanas.

Pasukan Israel yang selama ini menjadi superior di Jalur Gaza rupanya menjadi ketakutan.

Mereka bisa kapan saja menjadi sasaran tembakan sniper Hamas yang dilakukan secara senyap.

Hebatnya lagi, sniper Hamas yang sengaja membunuh satu orang tentara Israel di Jalur Gaza dalam melakukan aksinya layaknya seorang prajurit sniper sejati.

Karena, para pejuang Haman sendiri tidak tahu siapa pelaku sesungguhnya.

Tentu saja aksi para sniper Hamas itu menciptakan kekacauan dan ketakutan di kalangan pasukan Israel.

Akibat kejadian itu, Angkatan Udara Israel kemudian melancarkan serangan udara secara membabi buta di Jalur Gaza.

Serangan yang dilakukan sniper itu merupakan serangan pertama kali oleh Hamas yang telah menggempur Israel sejak tahun 2014.

Hamas memang memiliki pasukan sniper yang sangat terlatih, namun mereka merasa tidak bertanggung jawab atas terbunuhnya prajurit Israel oleh tembakan sniper.

Pengunjukrasa membawa bendera Hamas dalam unjukrasa berujung bentrok di Masjid Aqsa Yerusalem (jpost)
Diketahui bahwa persenjataan para sniper Hamas bukan senjata sembarangan.

Senjata para sniper Hamas itu berasal dari Austria dan Iran yang sudah terbukti dalam pertempuran.

Untuk senjata sniper buatan Austria, Hamas memakai senapan Styer HS 50 yang bisa menembak sasaran secara akurat pada jarak 1,5 km.

Sementara, di Indonesia senjata Styer ini juga menjadi pegangan sniper pasukan Brimbob Polri.

Sedangkan untuk senjata sniper buatan Iran yang dimiliki Hamas dikenal merupakan senjata yang sangat ‘mengerikan’, yakni Sayad- 2.

Sayad-2, sebagai senjata sniper, merupakan senapan penembus material yang biasa digunakan untuk melumpuhkan sniper musuh (countersniper) pada jarak 2 km.

Misalnya target yang diincar sedang berlindung di balik tembok.

Senapan Sayad-2 yang pelurunya bisa menembus tembok ini menjadikan target bisa dilumpuhkan sniper secara akurat dan luka akibat tembakan pun sangat mengerikan.

Luka yang diakibatkan oleh hantaman peluru kaliber 50 BMG dari senapan Sayad-2 itu bisa langsung menembus tubuh dengan luka besar menganga.

Jika peluru Sayad-2 menembus rompi antipeluru, bisa sampai menghantam kepala targetnya, maka kepala korban bisa hilang separuh atau hilang sama sekali.

Masuk akal jika pasukan Israel menjadi sangat ketakutan terhadap sniper Hamas, karena luka yang sangat mengerikan dan korbannya nyaris sulit ditolong itu.

Baca juga: Hamas Gempur Pusat Ekonomi Tel Aviv Setelah Israel Serang Gaza

Baca juga: Putri Jenderal Qassem Soleimani Sebut Satu-satunya Jalan Melawan Israel adalah Intifada

Siapakah Hamas

Para anggota Brigade Al-Qassam, sayap bersenjata Hamas, mengusung mayat rekannya, Mahmoud Ahmed al-Adham (28), yang meninggal dunia di Kamp Pengungsi Jabalia di Kota Gaza, Gaza, pada 11 Juli 2019. Mahmoud Ahmed al-Adham, meninggal setelah terluka akibat tembakan tentara Israel.
Para anggota Brigade Al-Qassam, sayap bersenjata Hamas, mengusung mayat rekannya, Mahmoud Ahmed al-Adham (28), yang meninggal dunia di Kamp Pengungsi Jabalia di Kota Gaza, Gaza, pada 11 Juli 2019. Mahmoud Ahmed al-Adham, meninggal setelah terluka akibat tembakan tentara Israel. (ANADOLU AGENCY/ALI JADALLAH)

Dikutip dari wikipedia, Hamas (bahasa Arab: حماس‎ Ḥamās, akronim dari Harakat al-Muqawwamatul Islamiyyah حركة المقاومة الاسلامية Ḥarakat al-Muqāwamah al-ʾIslāmiyyah.

Secara harfiah "Gerakan Pertahanan Islam" dan kata Arab untuk 'ketekunan'), adalah organisasi Islam Palestina[1], dengan sayap militer terkait, Izz ad-Din al-Qassam, di wilayah Palestina.

Sejak tahun 2007, Hamas telah memerintah Jalur Gaza, setelah memenangkan mayoritas kursi di parlemen Palestina pada pemilihan parlemen Palestina tahun 2006 dan mengalahkan organisasi politik Fatah dalam serangkaian bentrokan.

Israel, Amerika Serikat, Kanada,Uni Eropa,

Yordania,Mesir dan Jepang mengklasifikasikan Hamas sebagai organisasi teroris,sementara Iran, Rusia, Turki, Cina dan banyak negara di seluruh dunia Arab tidak mengambil sikap atas Hamas.

Berdasarkan prinsip-prinsip fundamentalisme Islam yang memperoleh momentum di seluruh dunia Arab pada 1980-an, Hamas didirikan pada tahun 1987 selama Intifadhah Pertama) sebagai cabang dari Ikhwanul Muslimin Mesir.

Sheik Ahmed Yassin sebagai pendiri menyatakan pada tahun 1987, dan Piagam Hamas menegaskan pada tahun 1988, bahwa Hamas didirikan untuk membebaskan Palestina dari pendudukan Israel dan mendirikan negara Islam di wilayah yang sekarang menjadi Israel, Tepi Barat, dan Jalur Gaza.

Namun, pada bulan Juli 2009, Khaled Meshal, kepala biro politik Hamas, mengatakan organisasi itu bersedia bekerja sama dengan "resolusi konflik Arab-Israel yang termasuk negara Palestina berdasarkan perbatasan tahun 1967", asalkan pengungsi Palestina memegang hak untuk kembali ke Israel dan Yerusalem Timur menjadi ibu kota negara baru.

Namun, Mousa Abu Marzook Mohammed, wakil ketua biro politik Hamas, mengatakan pada tahun 2014 bahwa "Hamas tidak akan mengakui Israel", dan menambahkan "ini adalah garis merah yang tidak bisa dilewati".[23]

Izzuddin al-Qassam, sayap militer yang berafiliasi dengan Hamas, telah meluncurkan serangan terhadap Israel, terhadap penduduk sipil dan sasaran target militer.

Serangan terhadap sasaran sipil telah menyertakan serangan roket dan dari tahun 1993 hingga 2006, bom bunuh diri.

Serangan terhadap sasaran militer menyertakan tembakan senjata ringan, roket dan serangan mortir.

Pada bulan Juni 2008, sebagai bagian dari gencatan senjata yang ditengahi Mesir, Hamas menghentikan serangan roket ke Israel dan melakukan beberapa upaya untuk mencegah serangan oleh organisasi lain.

Setelah masa tenang selama empat bulan, konflik meningkat ketika Israel melakukan aksi militer dengan tujuan untuk mencegah penculikan yang direncanakan oleh Hamas, menggunakan terowongan yang digali di bawah pagar keamanan perbatasan, dan menewaskan tujuh operator Hamas.

Sebagai pembalasan, Hamas menyerang Israel dengan rentetan roket.Pada akhir Desember 2008, saat Israel menyerang Gaza dan menarik pasukannya dari wilayah pada pertengahan Januari 2009.Setelah Perang Gaza, Hamas terus memerintah Jalur Gaza dan Israel mempertahankan blokade ekonomi.

Pada tanggal 4 Mei 2011, Hamas dan Fatah mengumumkan perjanjian rekonsiliasi yang menyediakan untuk "pembentukan pemerintah Palestina sementara secara bersama" sebelum pemilihan nasional yang dijadwalkan pada 2012.

Menurut laporan berita Israel yang mengutip pemimpin Fatah Mahmud Abbas, sebagai syarat bergabung dengan PLO, Khalid Mishaal setuju untuk menghentikan "perjuangan bersenjata" melawan Israel dan menerima Negara Palestina dalam perbatasan tahun 1967, di samping Israel. (Intisari)

 

Baca juga: Kronologi Kelompok Ali Kalora Serang Warga, 4 Orang Tewas Dibantai, Penggal Kepala Nenek Asal Toraja

Baca juga: Lafal Bacaan Doa Akhir Ramadhan, Agar Bisa Berjumpa Lagi Bulan Suci Ramadhan Tahun Depan

Baca juga: Wanita Ini Nekat Mudik dan Pilih Dipenjara, Tak Ingin Anak Menangis Setelah 6 Tahun Tidak Bertemu

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved