Minggu, 10 Mei 2026

Opini

Musuh Islam Bukan Hanya Israel

SEBULAN terakhir dunia terus memberitakan konflik antara Palestina dan Israel yang kian memprihatinkan, roket-roket Zionis meluluhlantakkan rumah

Tayang:
Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
Asrizal H. Asnawi, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh 

Oleh Asrizal H. Asnawi, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh

SEBULAN terakhir dunia terus memberitakan konflik antara Palestina dan Israel yang kian memprihatinkan, roket-roket Zionis meluluhlantakkan rumah dan permukiman Palestina. Berdasarkan laporan terakhir, 135 jiwa rakyat Palestina syahid akibat gempuran Zionis Israel. Sementara ratusan roket yang ditembakkan pejuang Hamas, berhasil ditangkis Israel dengan teknologi iron dome.

Ketegangan ini masih terus berlangsung hingga ada pihak yang bisa membuat perjanjian damai. Palestina kalah banyak, baik korban jiwa dan harta benda, kejadian ini adalah yang terburuk setelah agresi Israel ke Gaza, 2014 lalu.

Pemerintah Indonesia menyampaikan protes, begitu juga negara Islam yang menjadi tetangga Palestina, serta beberapa negara Islam lainnya. Sayangnya, aksi protes ini tak membuat nyali Israel kecut, malah terus membombardir Gaza. Semuanya bak angin lalu, apalagi beberapa negara sekutu Israel mendukung aksi tersebut.

Harus diakui, kependudukan Israel di tanah Palestina adalah ilegal, namun pasca Kesultanan Turki Ustmani runtuh, tak ada lagi negara yang benar-benar membela Palestina. Semuanya hanya lips servis (hanya di mulut) dan lebih memilih menjaga hubungan baik dengan sekutu Israel, ketimbang memberi aksi nyata melawan kekejaman di tanah mulia.

Tokoh-tokoh Islam dunia sibuk berseteru tentang aliran dan ajaran islamnya yang paling benar, dan sambil menunjuk ajaran Islam lainnya sesat, bid'ah, bahkan menuduh kafir. Sementara para pemimpin di negara Arab sibuk merebut dan mempertahankan kekuasaannya.

Semua itu terjadi karena pemimpin dan umat Islam terlalu fokus dan merasa yang berbeda aliran dan orang-orang kafirlah musuh kita, padahal musuh Islam sebenarnya adalah "kebodohan dan kemisikinan". Sebab hanya karena kita bodoh dan miskin, maka kita bisa diadu domba seperti saat ini, dan tidak lagi saling memercayai sesama saudara seiman. Konon lagi, agama dan umat Islam sering dipakai untuk kepentingan politik sesaat, tentu ini terjadi akibat dari kebodohan.

Kitab suci Alquran adalah pedoman hidup umat Islam, di dalamnya tercantum 750-1.000 ayat tentang sains dan ilmu pengetahuan. Namun umat Islam mengabaikan kitab sucinya sendiri. Sementara hanya 200-an ayat yang membahas tentang hukum (fiqih) dan cuma tiga puluhan ayat yang bercerita tentang ubudiyah.

Sayangnya, umat Islam di dunia hanya fakus pada perdebatan ritualnya belaka, dan mengabaikan ayat-ayat tentang sains dan ilmu pengetahuan yang justru mengantarkan umat Islam pada kejayaan di dunia, dan tidak disepelekan serta direndahkan seperti saat ini.

Kita hanya bisa mengucapkan bahwa "kemiskinan mendekatkan pada kekufuran" tanpa pernah ada usaha untuk mengatasi kemiskinan itu sendiri. Semua tokoh di dunia mengakui bahwa ada slogan "Knowladge is Power" (ilmu pengetahuan adalah kekuatan), sehingga ada 750-1.000 ayat di dalam kitab suci Alquran, hanya menjadi bacaan tanpa pernah ada pengkajian dan dipraktikkan.

Israel dan negara sekutunya serta negara-negara nonmuslim di dunia sepertinya fokus pada ilmu pengetahuan, mencuri inti sari 1.000 ayat dari Alquran, sehingga mereka bisa membuat armada perang dengan teknologi yang sangat canggih, menembakan rudal dan roket dengan sangat tepat melalui pengendali jarak jauh, serta bisa melumpuhkan rudal di udara tanpa sempat masuk ke wilayah mereka.

Di bidang moneter dan keuangan dunia, sekutu Israel menjadi bandar dan tujuan negara-negara Islam berbisnis minyak, gas dan hasil bumi, serta mereka juga menjadi andalan tempat negara-negara Islam meminjam uang, dengan menggadaikan hasil bumi dan alamnya. Bagaimana mungkin kita bisa berharap pada pemimpin negara-negara

Islam ini untuk berani buka suara dan mengkritik tuannya?

Dan yang paling mengkhawatirkan lagi adalah di bidang teknologi, komputer, laptop, handphone, serta semua aplikasi yang ada di dalamnya, semua itu produk mereka, umat Islam hanya menjadi pembeli dan pengguna yang baik.

Google, Yahoo, Facebook, Instagram, Whatsapp dan aplikasi media sosial lainnya, semua itu juga ciptaan mereka. Para penciptanya menjadi kaya raya, sementara umat Isam dunia hanya bisa menjadi pengguna dan penonton saja.

Umat Islam adalah umat pilihan, agama Islam adalah agama yang sempurna dan diridhai Allah SWT, tetapi kenapa kita menjadi tercerai berai? Satu jawabannya karena kita tidak lagi berpegang teguh pada tali Allah, yaitu Alquran sebagai pedoman hidup.

Palestina dan rakyatnya adalah saudara kita, ada tanggung jawab kita untuk membantu mereka dengan harta yang bisa kita donasikan dan doa tiada henti kepada Allah. Namun jangan lupakan, Masjidil Aqsa itu adalah rumah milik Allah, insya Allah, saya berkeyanikan

bahwa Allah SWT pasti menjaganya, seperti Allah menjaga Ka'bah saat pasukan gajah tentara Abrahah dari Yaman hendak menghancurkannya.

Palestina terlalu jauh jaraknya dengan Indonesia. Jadi untuk memaknai perintah Allah agar kita berjihad dan berjuang untuk agama Allah, dengan harta dan jiwa bisa dimaknai seperti ini:

1. Perjuangan dengan harta bisa diartikan dengan mendonasikan harta yang kita miliki untuk membantu tetangga di lingkungan kita yang miskin dan dalam kesulitan. Terlebih di tengah pandemi Covid-19 seperti saat ini, dan jika masih ada kelebihan rezeki, mari kita donasikan juga untuk saudara Muslim kita yang sedang berjuang mempertahankan tanah dan nyawanya di Palestina.

3. Berjihad dengan jiwa saat ini bisa kita maknai, mari kita memperbaiki kualitas diri kita dan kualitas generasi kita saat ini, beri mereka kesempatan pendidikan yang terbaik, bantu mereka untuk mendapat peluang usaha yang baik. Sehingga ke depan, Islam bisa kembali ke puncak kejayaannya.

Belum lama Islam kehilangan tongkat kejayaannya, belum sampai 100 tahun lamanya, tetapi perlakuan terhadap umat Islam saat ini sangat menyedihkan. Islam pernah menguasai dunia selama 700 tahun melalui Kesultanan Turki Utsmani, yang pengaruh kekuasaan sampai ke Aceh. Kini Turki sadar akan kesalahan yang mereka lakukan 100 tahun lalu, kejayaan yang terlalu lama membuat mereka lalai, sehingga

negara mereka berubah dari sistem kesultanan menjadi kepresidenan, bahkan Turki sempat berubah haluan dari sistem yang islami menjadi sekuler.

Alhamdulillah kini kejayaan Turki Ustmani mulai bangkit. Mereka berhasil memperbaiki posisi dan nilai tawarnya di mata dunia, semua itu mereka usahakan melalui perbaikan pendidikan, teknologi indusri, dan teknologi alat perang.

Kini, Turki tidak butuh negara sekutu Israel untuk bangkit, karena sebagai negara Islam, mereka sadar kalau Israel dan sekutu tidak akan pernah ingin melihat negara Islam bisa mandiri.

Insya Allah, bila anak-anak dan generasi kita saat ini bisa kita didik dengan benar, maka Insya Allah, Indonesia di masa depan akan sama dengan Turki. Sekali lagi saya sampaikan, musuh kita bukan cuma Israel.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved