Wawancara Khusus
Fokus Jadikan Peunayong sebagai Pusat Kuliner
WALI Kota Banda Aceh, H Aminullah Usman SEAk MM, terus mengoptimalkan pengembangan potensi wisata untuk menarik tamu dari luar
Seperti Ulee Lheue, kita bangun dengan APBK. (Bantaran) Krueng Daroy murni dari APBN dan itu dikerjakan langsung oleh mereka dan kita hanya menyediakan tempat. Waterfront city di Peunayong juga dari APBN.
Sepertinya Anda rajin jemput bola?
Kita harus jemput bola. Kalau dengan APBK Banda Aceh sebesar 1,3 triliun rupiah, mau kita bangun apa. Apalagi, hampir 800 miliar rupiah di antaranya untuk operasional seperti gaji dan lain-lain. Karena kita rajin ke provinsi dan kementerian, akhirnya ada dana pusat ke daerah melalui DAK maupun APBN murni yang mereka bangun. Yang penting bagi saya, Banda Aceh terjadi perubahan.
Baru-baru ini pedagang di Pasar Kartini menolah direlokasi, bagaimana tanggapan Anda?
Saya apresiasi pedagang di Peunayong, terutama Pasar Kartini. Kalau Pasar SMEP memang duluan mereka sudah menerima. Kalau pedagang pasar ikan, unggas, dan daging dari dulu juga sudah menerima. Sedangkan pedagang Pasar Kartini menurut mereka pasar itu sudah lama dan memiliki sejarah.
Tapi, operasi pemindahan pasar itu harus dilakukan. Sebab, kalau satu pasar tinggal dan yang lain pindah tak efisien bagi masyarakt. Kita harus total pindah karena saya ingin menjadikan Peunayong sebagai pusat kuliner, pusat kelontong, elektronik, dan usaha jasa. Sehingga tidak lagi bercampur dengan bahan dapur.
Memang pada malam itu, rencananya mau kita pagar Pasar Kartini. Tapi, pedagang tidak setuju dan kita tidak melawan. Saya sudah sampaikan kepada jajaran jangan melawan dan jangan frontal. Saya ingin mengikuti selera pedagang. Kita lakukan pendekatan humanis.
Bagaimana pengawasan yang dilakukan pedagang agar tak kembali berjualan di Peunayong?
Kita tetap mengawal, tidak boleh lagi ada jual beli di kaki lima. Sayur mayur dan ikan tidak boleh lagi ada jual beli di situ. Kalau ada yang melakukan itu akan diawasi oleh Satpol PP dibantu TNI dan Polri, sampai betul-betul berjalan dengan baik. Tapi, kita tetap memberi arahan dengan humanis.
Bagaimana jurus Anda mengelola wisata di tengah pandemi Covid-19?
Makanya ada new normal. New normal itu juga diartikan bagaimana mengawal di masa pandemi. Jadi, baik di hotel, bandara, dan tempat wisata, harus menjalankan protokol kesehatan. Dan itu harus dipatuhi oleh petugas dan wisatawan, apalagi sekarang kasus Covid makin meningkat. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/aminullah-usman-wali-kota-banda-aceh-5.jpg)