Jumat, 1 Mei 2026

Internasional

Ketegangan di Pasifik Meningkat, Australia Siap Bersama AS Atau Sendirian Melawan China

Pemerintah Australia telah bersiap untuk melawan hegemoni China di Samudera Pasifik. Hal itu Seiring meningkatnya militer China yang langsug memicu

Tayang:
Editor: M Nur Pakar
LSIS Ernesto Sanchez/Royal Australian Navy
Kapal perusak Angkatan Laut Australia HMAS Hobart menemakkan rudal SM-2 di dekat Hawaii selama latihan perang pada 24 Agustus 2020. 

Tetapi Australia bekerja keras untuk mengembangkan kemampuan, seperti rudal anti-kapal dan pertahanan udara jarak jauh dan rudal hipersonik.

Sehingga, akan memungkinkannya untuk menyerang target China yang jauh.

Sistem tersebut pada akhirnya dapat berkembang dan memberi Canberra kemampuan pencegahan demi hukuman, mengurangi ketergantungannya pada AS dalam krisis.

"Australia adalah salah satu dari sedikit sekutu AS yang berkemampuan berperang di kawasan Indo-Pasifik," kata Patrick Cronin, ketua Keamanan Asia-Pasifik di Hudson Institute.

Dalam mengejar persenjataan baru, Canberra mencari kombinasi integrasi dengan AS dan kemandirian yang lebih besar dan lindung nilai di pihak Australia, kata Cronin.

Persenjataan baru sangat penting, karena kemampuan militer China menimbulkan risiko yang signifikan.

"Militer AS dan Australia sedang berdiskusi keras tentang skenario nyata di Asia yang tidak mereka miliki 20 tahun lalu," kata Green.

Salah satu skenario tersebut adalah invasi ke Taiwan.

Australia belum membuat komitmen nyata untuk pertahanan Taiwan.

Tetapi banyak yang berharap itu akan berperan jika China mencoba merebut pulau itu.

Itu mungkin memperumit perencanaan militer China.

"Jika Anda berada di kursi China ... Anda berpikir harus mengalahkan Australia dengan satu atau lain cara," kata Cronin.

Baca juga: Militer China Tugaskan Kapal Perusak Baru Dengan Peluru Kendali

"Hancurkan satelit mereka, ancam mereka untuk menghalangi mereka bertindak bersama dengan AS, intimidasi mereka, lakukan apa yang harus Anda lakukan," tambahnya

Australia telah melawan ancaman China di masa lalu, dan investasi militer yang dilakukannya sekarang merupakan pengakuan, lebih banyak dibutuhkan untuk melawan mereka di masa depan.

“Kami meningkatkan jumlah yang kami belanjakan untuk senjata berteknologi tinggi, rudal berpemandu presisi, dan lainnya,” kata Sinodinos

"Apa yang telah dilakukan adalah, saya pikir, menunjukkan kredibilitas kami, bahwa kami bukan sekutu yang hanya ingin meluncur di atas mantel orang lain,' tuturnya.(*)

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved