Breaking News:

Perkara Nelayan Aceh

UNHCR Siapkan 10 Pengacara Dampingi Proses Hukum Pengungsi Rohingya dan Tiga Nelayan Aceh

Disebutkan, dalam menangani upaya hukum proses banding ke Pengadilan Tinggi Banda Aceh, dirinya akan melakukan pendampingan bersama dengan sembilan pe

Penulis: Jafaruddin | Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/Foto Dok Kejari Aceh Utara
Tiga nelayan Aceh dan satu warga etnis Rohingya yang terlibat dalam kasus keimigrasian saat menjalani sidang, Kamis (24/6/2021). 

Laporan Jafaruddin I Aceh Utara

SERAMBINEWS.COM,LHOKSUKON - United Nations High Commissioner for Refugess (UNHCR) Indonesia menyediakan 10 pengacara untuk mendampingi seorang pengungsi Rohingya dan tiga nelayan Aceh dalam upaya hukum banding ke Pengadilan Tinggi (PT) ke Banda Aceh.

“Untuk pengungsi Rohingya dan tiga nelayan Aceh sudah kami ajukan akta permohonan banding ke Pengadilan Negeri Lhoksukon,” ujar Heni Naslawati SH, kepada Serambinews.com, Rabu (23/6/2021).

Disebutkan, dalam menangani upaya hukum proses banding ke Pengadilan Tinggi Banda Aceh, dirinya akan melakukan pendampingan bersama dengan sembilan pengacara lainnya.

“Ia benar memang, ada pengacara dari Jakarta yang bergabung menjadi tim pengacara UNCHR,” ujar Heni Naslawati SH.

Menurut Heni, 10 pengacara tersebut tergabung dalam Pos Advokasi Hukum dan Hak Asasi Manusia (PAHAM).

Istri Nelayan Aceh Utara Menangis Tiap Anak Tanya Ayahnya, Padahal Dipenjara Akibat Tolong Rohingya

Jaksa dan Pengacara Ajukan Banding Atas Vonis Hakim Terhadap Nelayan Aceh yang Jemput Rohingya

Pengacara yang tergabung dalam PAHAM tersebut, ada yang berasal dari Jakarta tiga orang, kemudian dari Medan satu orang. Selebihnya, dari Lhokseumawe, Aceh Utara, Aceh Tengah dan Banda Aceh.

“Kemarin sudah dapat salinan putusan untuk SD dari pengadilan dan menyusul nantinya, Salinan putusan untuk nelayan Aceh,” katanya.

Setelah adanya salinan putusan tersebut, baru nantinya akan disusun memori banding. ”Kita juga nantinya bekerjasama dengan pengacara nelayan Aceh yang selama ini mendampingi proses di pengadilan,” pungkas Heni.

Diberitakan sebelumnya, majelis Hakim PN Lhoksukon, Aceh Utara pada 14 Juli 2021, menjatuhkan hukuman kepada tiga nelayan Aceh menjemputpuluhan warga etnis Rohingya di tengah laut pada Tahun 2020, dengan hukuman masing-masing lima tahun penjara.

Karena menurut hakim tiga nelayan Aceh itu melanggar Pasal 120 ayat (1) Undang-undang Nomor 6 tahun 2011 tentang Keimigrasian JunctoPasal 55 KUHPidana.

Ketiganya, Faisal Afrizal (43), nelayan asal Desa Matang Bayu Kecamatan Baktiya, Aceh Utara.

Kemudian Abdul Aziz (31) warga Desa Gampong Aceh Kecamatan Idi Rayeuk, Aceh Timur dan Afrizal (26) warga Desa Ulee Rubek Barat Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara.

Sedangkan Shahad Deen pengungsi Rohingya yang sudah tinggal di Medan, Sumatera Utarajuga divonis lima tahun penjara dalam kasus itu pada Juni 2021.(*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved