Wawancara Khusus
‘Pendidikan Aceh belum Lebih Baik’
SALAH satu tolak ukur mutu atau kualitas pendidikan setiap provinsi bisa dilihat dari hasil evaluasi Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Bersama
SALAH satu tolak ukur mutu atau kualitas pendidikan setiap provinsi bisa dilihat dari hasil evaluasi Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UTBK SBMPTN) setiap tahun, yang diikuti oleh para lulusan SMA.
Biasanya, hasil evaluasi ini dirilis oleh lembaga resmi, semisal Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT). Rektor Universitas Syiah Kuala (USK), Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng membeberkan, tahun 2021 Aceh bertengger pada rangking 24 untuk siswa dari jalur saintek (sains dan teknologi) dengan rata-rata nilai yang diperoleh dalam ujian sebesar 486,67.
Sedangkan untuk siswa yang memilih jalur sosial dan humaniora (soshum) berada di peringkat 26 dengan perolehan nilai rata-rata siswa dalam ujian 472,86. Aceh berada di bawah Bengkulu yang berada di peringkat 18 untuk nilai rata-rata siswa, baik saintek dan soshum. Aceh juga 'kalah' dari Provinsi Papua Barat yang berhasil menempatkan siswa mereka berada di urutan 22.
Hasil evaluasi ini menunjukkan mutu kualitas pendidikan Aceh masih rendah. Jika benar, lantas apa penyebabnya dan apa pula solusinya? Berikut petikan wawancara khusus wartawan Harian Serambi Indonesia, Subur Dani dan videografer Serambi On Tv, Hendri, bersama Rektor Universitas Syiah Kuala (USK), Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng:
Selama pandemi, USK menerapkan belajar daring. Nah, secara persentase nasional, lebih banyak mahasiswa Aceh atau luar Aceh belajar di USK sekarang?
Sebenarnya kalau secara umum, secara kuantitas itu banyak mahasiswa kita (Aceh). Sekarang mahasiswa Aceh itu 85 persen, tetapi prodi tertentu itu lebih banyak mahasiswa luar. Aceh yang kuliah di prodi-prodi favorit itu yang lulus melalui jalur SBMPTN. Prodi-prodi favorit lebih banyak mahasiswa luar Aceh.
Benarkah tidak banyak lulusan SMA di Aceh yang mampu bersaing secara nasional? Jika iya, apa penyebabnya?
Iya itu betul. Kalau kita lihat evaluasi UTBK SBMPTN, itu anak-anak Aceh masih berada di rangking 24 untuk saintek dan rangking 26 di soshum. Ini tidak naik-naik, paling berubah jadi 25 atau 26, sudah lebih dari 10 tahun rangking kita tidak pernah naik. Itu hasil Tes Potensi Skolastik (TPS), kalau 2020 hanya tes satu, tahun ini lengkap tesnya, sama seperti 2019. Itu tes potensi akademik namanya. Tesnya ada saintek ada soshum, sehingga kita bisa lihat nilai rata-rata mereka.
Tapi kalau kuantitas, jumlah anak Aceh yang lulus perguruan tinggi negeri yang ada di Aceh, itu betul banyak, dari jumlah persentase yang mengikuti ujian. Tapi kualitas yang diterima itu seperti apa? Ini yang harus kita pahami bersama. Kualitasnya masih jauh. Seperti yang saya sampaikan, nilai rata-rata untuk lulus Fakultas Kedokteran 667, itu yang lulus anak-anak luar. Anak Aceh yang lulus hanya beberapa SMA, tidak lebih dari sebelah tangan saya yang lulus, salah satu SMA Modal Bangsa, itu menjadi rangking teratas di Aceh, itu tahun lalu.
Benarkah kualitas dan mutu pendidikan di Aceh saat ini semakin buruk?
Tidak berubah, kata-kata bagusnya tidak berubah. Atau lebih tepat lagi tidak lebih baik. Mutu kualitas pendidikan anak-anak kita di SMA tidak lebih baik, rangkingnya 24, tiga tahun lalu juga 24.
Pada posisi berapa saat ini rangking pendidikan Aceh?
Rangking 24 dan 26, secara hasil nasional, itu hasil evaluasi penilaian rata-rata Tes Potensi Skolastik (TPS) siswa SMA yang UTBK SBMPTN. Saya tidak tahu untuk SD dan SMP, tapi yang kita dapatkan berdasarkan hasil tes kita berada di rangking 24 dan 26.
Apa penyebab mutu dan kualitas pendidikan rendah?
Kualitas pendidikan tergantung dari orang yang mengajar (guru), ini dasarnya. Rekrutmen guru seperti apa? Guru itu pernah dilatih tidak? Kalau guru tidak pernah dilatih dan tidak diupgrade ilmunya, mungkin sudah ada ilmu baru, sekarang dengan IT, revolusi industri 4,0 dia ya nggak dapat apa-apa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/prof-dr-ir-samsul-rizal-meng-rektor-universitas-syiah-kuala-usk.jpg)