Berita Aceh Tamiang
Beras Organik Produksi Petani Tamiang Diberi Merek Ortam-58
Padi organik yang akan dijual ke pasar ini merupakan model pengembangan padi organik di Aceh Tamiang pada musim tanam ketiga (Februari–Juni 2021).
Penulis: Rahmad Wiguna | Editor: Taufik Hidayat
Laporan Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang
SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG – Padi organik hasil produksi petani Aceh Tamiang akan segera dipasarkan dengan merek dagang Ortam-58.
Kadis Petanian, Perkebunan dan Peternakan (Distanbunak) Aceh Tamiang, Yunus mengatakan merek ini sudah didaftarkan ke Ditjen Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) Kemenkumham.
“Sudah didaftarkan secara resmi ke Ditjen HaKI dengan merek dagang Ortam-58,” kata Yunus di sela sosialisasi Pertanian Organik dan pelatihan sistem pengawasan internal menuju pangan sehat di kantor Distanbunakm Aceh Tamiang, Kamis (1/7/2021).
Yunus menambahkan pada tahap awal ini, beras organik yang dijual masih dalam bentuk satuan kemasan 5 kilogram. Dia memastikan petani tidak akan dibebani pada penjualan karena telah diserahkan kepada Koperasi Organik Tamiang Jaya.
“Hasilnya akan ditampung dan dipasarkan koperasi mitra, yaitu Koperasi Organik Tamiang Jaya,” terang Yunus.
Dia menjelaskan padi organik yang akan dijual ke pasar ini merupakan model pengembangan padi organik di Aceh Tamiang pada musim tanam ketiga periode Februari – Juni 2021 di lahan seluas 2,3 hektare.
Baca juga: Pekan Depan, Beras Organik Aceh Tamiang Ortam-58 Siap Dipasarkan
Baca juga: Ini Harga Pupuk Subsidi di Aceh, Belum Miliki Kartu Tani, Tetap Bisa Tebus, Asal Terdata di e-RDKK
Baca juga: Pemerintah Targetkan Jangkau 29 Juta Usaha Ultra Mikro pada 2024
Beras ini hasil gabah produksi kelompok tani Seurasi yang telah disertifikasi Indonesian Organic Farming Certification (Inofice), lembaga sertifikasi pangan organik yang diakui internsional.
Merujuk produksi yang dihasilkan, Yunus memastikan padi organik lebih menguntungkan dibanding konsep budidaya konvensional karena mampu menghasilan 6,8 ton per hektare.
“Terdapat kenaikan hasil 1,3 ton per hektare, dari sebelumnya teknik budidaya konvensional memproduksi 5,5 ton, menjadi 6,8 ton,” kata Yunus.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/sosialisasi-budidaya-padi-organik.jpg)