Selasa, 7 April 2026

Internasional

Mantan Perdana Menteri Sementara Lebanon Peringatkan Ledakan Sosial dan Bencana Besar

Mantan Perdana Menteri sementara Lebanon, Hassan Diab mengeluarkan peringatan sambil menyerukan masyarakat internasional untuk membantu mencegah ledak

Editor: M Nur Pakar
AFP/JOSEPH EID
Kendaraan mengantre di sebuah SPBU di daerah Balamand, jalan raya pesisir di dekat Beirut pada 21 Juni 2021. 

SERAMBINEWS.COM, BEIRUT - Mantan Perdana Menteri sementara Lebanon, Hassan Diab mengeluarkan peringatan sambil menyerukan masyarakat internasional untuk membantu mencegah ledakan sosial.

Berbicara dalam pidato yang disiarkan televisi, Diab memperingatkan Lebanon berada di ambang bencana yang akan melihat dampaknya bergema di luar negeri.

Diab, yang telah memimpin kabinet dalam kapasitas sementara selama lebih dari 10 bulan, mengatakan pemerintah manapun akan membutuhkan dukungan negara-negara sahabat.

Untuk menyelamatkan negara ini dari kesulitan yang saat ini sudah sangat parah.

Lebanon tidak memiliki pemerintahan yang berfungsi penuh sejak Diab mengundurkan diri segera.

Setelah ledakan mematikan di pelabuhan Beirut pada 4 Agustus 2020 yang menewaskan lebih dari 200 orang.

Pada Oktober 2020, tiga kali perdana menteri Saad Hariri ditunjuk untuk membentuk pemerintahan baru setelah mengamankan suara dari 65 anggota parlemen.

Baca juga: Paus Fransiskus Serukan Lebanon Kesampingan Kepentingan Kelompok, Solusi Akhiri Krisis

Namun, pemerintah belum melihat titik terang di tengah pertikaian politik antara pemain politik lokal, termasuk Hariri dan Presiden Michel Aoun.

Konstitusi negara yang dilanda krisis itu menetapkan bahwa kedua orang itu harus menyetujui susunan pemerintahan secara serempak.

“Orang Lebanon telah bersabar dan menanggung beban penantian panjang ini. Tapi kesabaran mereka habis saat penderitaan mereka meningkat,” kata Diab.

Lebih dari 60 persen populasi telah jatuh di bawah garis kemiskinan sementara mata uang nasional telah kehilangan lebih dari 91 persen nilainya, membuat sebagian besar komoditas pokok tidak dapat diakses.

Kerawanan pangan merajalela sementara kekurangan bahan bakar melanda rumah sakit, toko roti dan rumah tangga.

Dua dari empat pembangkit listrik Libanon saat ini berjalan dengan pasokan bahan bakar yang langka.

Perusahaan listrik negara, lectricité du Liban, memperingatkan mereka harus mematikannya jika cadangan minyak gas terus menipis sampai habis.

Baca juga: Kaum Wanita Lebanon Krisis Pembalut, Popok Bayi dan Kain Lap Jadi Pengganti

Sementara itu, kelangkaan juga membuat perusahaan telekomunikasi milik negara Ogero, yang berjuang untuk menjaga generator dan stasiunnya tetap online.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved