Minggu, 17 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Taman Putroe Phang, Bukti Cinta Sultan Iskandar Muda

Aceh salah satu kota di Indonesia yang memiliki banyak tempat bersejarah yang layak dijadikan pilihan untuk berwisata

Tayang:
Editor: bakri
IST
INTAN MAKHFIRAH,  Mahasiswi Pendidikan  Bahasa  Indonesia dan  Anggota  Unit Kreativitas  Mahasiswa  (UKM) Jurnalistik  Universitas Bina Bangsa Getsempena Banda Aceh,  melaporkan dari Banda Aceh 

OLEH INTAN MAKHFIRAH,  Mahasiswi Pendidikan  Bahasa  Indonesia dan  Anggota  Unit Kreativitas  Mahasiswa  (UKM) Jurnalistik  Universitas Bina Bangsa Getsempena Banda Aceh,  melaporkan dari Banda Aceh

Aceh salah satu kota di Indonesia yang memiliki banyak tempat bersejarah yang layak dijadikan pilihan untuk berwisata. Tempat-tempat tersebut telah menjadi saksi tentang hal-hal  yang  dahulu   pernah  terjadi.  

Taman   Putroe   Phang, misalnya, merupakan salah satu tempat bersejarah di Aceh yang dulunya memiliki kisah menyentuh hati. Taman indah ini merupakan bukti cinta dari seorang sultan kepada permaisuri yang teramat dicintainya. Sultan tersebut adalah Sultan Iskandar Muda.

Sultan ke-12 Aceh ini menikahi seorang putri dari Kerajaan Pahang, Malaysia  yang kemudian  akrab dipanggil dengan Putroe  Phang. Konon,  sebagai   seorang sultan, Iskandar Muda mempunyai kesibukan yang teramat banyak. Hal ini membuat sang permaisuri terkadang merasa kesepian. Tak ingin kekasih hatinya bersedih, Sultan Iskandar Muda akhirnya memutuskan untuk membuat sebuah taman nan indah sebagai tempat bermain sang permaisuri. Benar saja, taman ini menjadi tempat favorit bagi sang permaisuri untuk menghabiskan waktu sembari menunggu sang sultan kembali.

Kini, Taman Putroe Phang masih berdiri tegak di tengah Kota Banda Aceh, keasriannya masih terjaga   sampai   sekarang   membuat   taman   ini   menjadi   pilihan   masyarakat   sekitar   untuk menghabiskan waktu  luang. 

Beberapa  waktu  lalu saya  bersama teman juga  mengunjungi lokasi ini. Kami berniat untuk jalan santai sembari melepas penat. Memasuki taman, kami langsung disuguhi keindahan taman. Rasa sejuk mulai menyentuh kulit dikarenakan banyaknya pohon rindang yang tumbuh di taman ini. Kami memutuskan untuk berkeliling taman. Sambil  berjalan saya terbayang akan keromantisan kisah cinta seorang sultan kepada wanita yang sangat dicintainya itu. Pasti begitu besar cintanya sehingga ia membuatkan sebuah taman indah nan megah  ini.  

Bersama  para dayangnya,  Putroe   Phang   pernah menghabiskan waktu di sini. Sungguh  menyenangkan bisa menghabiskan waktu  di tempat yang dahulunya hanya diperuntukkan bagi para petinggi Kerajaan Aceh.

Ketakjuban  kembali menghampiri  mata kami saat  melihat  sebuh  jembatan  gantung  yang mengalir sungai di bawahnya. Kami melangkah menaiki jembatan tersebut. Tak ingin kehilangan momen, kami pun  mengabadikannya  dengan   berswafoto   mengabadikan   keindahan   taman.   Setelah melewati jembatan, kami terus melangkahkan kaki, sembari bercerita dan sesekali tertawa. Tak   terasa   kami   tiba   di   Pinto   Khop. 

Pinto   Khop  merupakan   monumen   yang   dahulunya merupakan gerbang penghubung antara Istana Kerajaan Aceh dengan Taman Putroe Phang. Berdiri tegak dengan warna putih, Pinto Khop memiliki bentuk yang unik dan menarik perhatian pengunjung.  

Monumen   ini   dikelilingi   sedikit   halaman yang membuatnya  bagai  mengapung di atas   sungai  yang  terhubung  dari sungai   di   bawah   jembatan   gantung.  

Ada  sebuah   jalan   untuk   para   wisatawan   melangkah memasuki area Pinto Khop, sehingga kita bisa melihatnya dari dekat. Di samping Pinto Khop, terdapat sebuah batu tulis berisikan sejarah dari taman Putroe Phang.

Untuk memasuki Pinto Khop, saya harus sedikit menundukkan kepala, karena ukurannya yang memang agak rendah. Rasanya  sedikit  berdebar,   mengingat   pintu   ini   dulunya   hanya   diperbolehkan   untuk   para bangsawan istana. Tentu saja kami berfoto di sini, mengabadikan momentum penting ini. Ke luar dari Pinto Khop kami kembali berjalan mengitari taman. Saya teringat pada masa kecil, dahulu saya tinggal di kompleks dekat taman ini sehingga mudah menjangkau lokasi ini. Hal itu membuat saya bersama teman-teman sering joging atau sekadar bermain di taman indah ini. Namun, setelah pindah ke wilayah yang lebih jauh, saya menjadi jarang mengunjungi lokasi yang penuh kenangan ini. Ditambah lagi dengan kesibukan yang tak habis-habisnya, membuat saya susah untuk kembali berkelana menghabiskan waktu di tempat-tempat favorit ini.

Tempat wisata yang berbau sejarah sangatlah penting dikunjungi,  sebagai   pengingat   akan   kisah   masa   silam.   Namun,   kesibukan   setiap   orang membuatnya sulit mencari waktu luang untuk mengunjungi tempat-tempat bernilai sejarah ini.

Saat memiliki waktu luanglah orang-orang baru bisa menikmati kunjungan ke lokasi-lokasi yang ia favoritkan.   Begitu   pula   dengan   saya,   karena   sedang   memiliki   waktu   luang,   saya   coba menghabiskannya   di   tempat   indah   dan   tenteram,   sehingga   rasa   stres   karena   kepenatan dan kesibukan bisa perlahan menghilang. Sekaligus bernostalgia tentang pengalaman saya yang dahulu sering bermain di sini.

Tak ketinggalan, tempat ini juga menjadi ajang untuk memperbanyak koleksi foto sebagai tempat wisata yang indah. Asyik berjalan, kami pun tiba di taman bermain. Di titik ini terdapat beberapa permainan anak-anak, seperti ayunan, perosotan, dan lainnya. Tampaknya, pengurus taman ini sangat tahu apa yang   dibutuhkan   masyarakat. Dengan   adanya   permainan   tentu akan   membuat  anak-anak betah berada lama di tempat ini.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved