Jurnalisme Warga
Taman Putroe Phang, Bukti Cinta Sultan Iskandar Muda
Aceh salah satu kota di Indonesia yang memiliki banyak tempat bersejarah yang layak dijadikan pilihan untuk berwisata
OLEH INTAN MAKHFIRAH, Mahasiswi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Anggota Unit Kreativitas Mahasiswa (UKM) Jurnalistik Universitas Bina Bangsa Getsempena Banda Aceh, melaporkan dari Banda Aceh
Aceh salah satu kota di Indonesia yang memiliki banyak tempat bersejarah yang layak dijadikan pilihan untuk berwisata. Tempat-tempat tersebut telah menjadi saksi tentang hal-hal yang dahulu pernah terjadi.
Taman Putroe Phang, misalnya, merupakan salah satu tempat bersejarah di Aceh yang dulunya memiliki kisah menyentuh hati. Taman indah ini merupakan bukti cinta dari seorang sultan kepada permaisuri yang teramat dicintainya. Sultan tersebut adalah Sultan Iskandar Muda.
Sultan ke-12 Aceh ini menikahi seorang putri dari Kerajaan Pahang, Malaysia yang kemudian akrab dipanggil dengan Putroe Phang. Konon, sebagai seorang sultan, Iskandar Muda mempunyai kesibukan yang teramat banyak. Hal ini membuat sang permaisuri terkadang merasa kesepian. Tak ingin kekasih hatinya bersedih, Sultan Iskandar Muda akhirnya memutuskan untuk membuat sebuah taman nan indah sebagai tempat bermain sang permaisuri. Benar saja, taman ini menjadi tempat favorit bagi sang permaisuri untuk menghabiskan waktu sembari menunggu sang sultan kembali.
Kini, Taman Putroe Phang masih berdiri tegak di tengah Kota Banda Aceh, keasriannya masih terjaga sampai sekarang membuat taman ini menjadi pilihan masyarakat sekitar untuk menghabiskan waktu luang.
Beberapa waktu lalu saya bersama teman juga mengunjungi lokasi ini. Kami berniat untuk jalan santai sembari melepas penat. Memasuki taman, kami langsung disuguhi keindahan taman. Rasa sejuk mulai menyentuh kulit dikarenakan banyaknya pohon rindang yang tumbuh di taman ini. Kami memutuskan untuk berkeliling taman. Sambil berjalan saya terbayang akan keromantisan kisah cinta seorang sultan kepada wanita yang sangat dicintainya itu. Pasti begitu besar cintanya sehingga ia membuatkan sebuah taman indah nan megah ini.
Bersama para dayangnya, Putroe Phang pernah menghabiskan waktu di sini. Sungguh menyenangkan bisa menghabiskan waktu di tempat yang dahulunya hanya diperuntukkan bagi para petinggi Kerajaan Aceh.
Ketakjuban kembali menghampiri mata kami saat melihat sebuh jembatan gantung yang mengalir sungai di bawahnya. Kami melangkah menaiki jembatan tersebut. Tak ingin kehilangan momen, kami pun mengabadikannya dengan berswafoto mengabadikan keindahan taman. Setelah melewati jembatan, kami terus melangkahkan kaki, sembari bercerita dan sesekali tertawa. Tak terasa kami tiba di Pinto Khop.
Pinto Khop merupakan monumen yang dahulunya merupakan gerbang penghubung antara Istana Kerajaan Aceh dengan Taman Putroe Phang. Berdiri tegak dengan warna putih, Pinto Khop memiliki bentuk yang unik dan menarik perhatian pengunjung.
Monumen ini dikelilingi sedikit halaman yang membuatnya bagai mengapung di atas sungai yang terhubung dari sungai di bawah jembatan gantung.
Ada sebuah jalan untuk para wisatawan melangkah memasuki area Pinto Khop, sehingga kita bisa melihatnya dari dekat. Di samping Pinto Khop, terdapat sebuah batu tulis berisikan sejarah dari taman Putroe Phang.
Untuk memasuki Pinto Khop, saya harus sedikit menundukkan kepala, karena ukurannya yang memang agak rendah. Rasanya sedikit berdebar, mengingat pintu ini dulunya hanya diperbolehkan untuk para bangsawan istana. Tentu saja kami berfoto di sini, mengabadikan momentum penting ini. Ke luar dari Pinto Khop kami kembali berjalan mengitari taman. Saya teringat pada masa kecil, dahulu saya tinggal di kompleks dekat taman ini sehingga mudah menjangkau lokasi ini. Hal itu membuat saya bersama teman-teman sering joging atau sekadar bermain di taman indah ini. Namun, setelah pindah ke wilayah yang lebih jauh, saya menjadi jarang mengunjungi lokasi yang penuh kenangan ini. Ditambah lagi dengan kesibukan yang tak habis-habisnya, membuat saya susah untuk kembali berkelana menghabiskan waktu di tempat-tempat favorit ini.
Tempat wisata yang berbau sejarah sangatlah penting dikunjungi, sebagai pengingat akan kisah masa silam. Namun, kesibukan setiap orang membuatnya sulit mencari waktu luang untuk mengunjungi tempat-tempat bernilai sejarah ini.
Saat memiliki waktu luanglah orang-orang baru bisa menikmati kunjungan ke lokasi-lokasi yang ia favoritkan. Begitu pula dengan saya, karena sedang memiliki waktu luang, saya coba menghabiskannya di tempat indah dan tenteram, sehingga rasa stres karena kepenatan dan kesibukan bisa perlahan menghilang. Sekaligus bernostalgia tentang pengalaman saya yang dahulu sering bermain di sini.
Tak ketinggalan, tempat ini juga menjadi ajang untuk memperbanyak koleksi foto sebagai tempat wisata yang indah. Asyik berjalan, kami pun tiba di taman bermain. Di titik ini terdapat beberapa permainan anak-anak, seperti ayunan, perosotan, dan lainnya. Tampaknya, pengurus taman ini sangat tahu apa yang dibutuhkan masyarakat. Dengan adanya permainan tentu akan membuat anak-anak betah berada lama di tempat ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/intan-makhfirah-mahasiswi-pendidikan-bahasa-indonesia.jpg)