KUPI BEUNGOH
Kebijakan Datang di Tengah Luka: Awai Buet Dudoe Pike, Teulah Akhe Keupeu Lom Guna
Dalam hadih maja Aceh ada sebuah pengingat: “Awai buet dudoe pike, teulah oh akhe keupeu lom guna.”
Oleh: Muhammad Yusuf Bombang/Apa Kaoy*)
Di Aceh, ada luka-luka yang belum benar-benar sembuh, tetapi perhatian sudah lebih dulu berpindah. Ketika berita masih ramai, semua orang bicara.
Ketika kamera media mulai menjauh, kesunyian perlahan mengambil alih. Yang tertinggal kemudian hanyalah masyarakat yang masih berusaha bertahan sendiri di tengah keadaan yang belum sepenuhnya pulih.
Barangkali itulah yang sedang dirasakan banyak masyarakat Aceh hari ini. Beberapa waktu lalu, banjir bandang melanda sejumlah wilayah di Aceh.
Baca juga: Pustaka yang Kekurangan Mulut
Rumah-rumah rusak, kebun tertimbun lumpur, sawah gagal panen, tambak hancur, dan banyak keluarga kehilangan sumber mata pencaharian yang selama ini menopang kehidupan mereka.
Di beberapa tempat, masyarakat sampai sekarang masih hidup dalam kecemasan tentang bagaimana mereka harus memulai kembali semuanya dari awal.
Namun perlahan, berita tentang semua itu mulai senyap.
Tidak banyak lagi yang berbicara tentang kampung-kampung yang rusak.
Tidak banyak lagi yang menyoroti kehidupan korban setelah bantuan darurat berlalu. Bahkan kesedihan masyarakat seperti ikut tenggelam bersama surutnya pemberitaan.
Padahal bagi rakyat kecil, bencana tidak selesai hanya karena ia tidak lagi muncul di layar televisi atau halaman media sosial.
Baca juga: Dampak Bencana Banjir Bandang Belum Pulih, Pergub Aceh No 2 Tahun 2026 Berlaku
Di jalur utama yang menjadi urat nadi transportasi Aceh pun, persoalan belum benar-benar pulih.
Jembatan darurat di Kuta Blang, Kabupaten Bireuen—yang berada di jalan lintas nasional Medan–Banda Aceh—hingga kini masih menjadi kecemasan masyarakat.
Jangankan jembatan permanen yang kembali berdiri, jembatan darurat saja masih kerap ambruk dan mengganggu kelancaran transportasi.
Padahal jalur itu bukan sekadar penghubung kendaraan. Ia adalah denyut pergerakan ekonomi masyarakat Aceh.
Dari jalur itulah kebutuhan pokok bergerak, hasil kebun dan hasil tambak dibawa, orang sakit dirujuk, dan hubungan antara daerah-daerah di Aceh tetap terhubung satu sama lain.
Ketika jalur seperti itu masih rapuh, sesungguhnya yang ikut rapuh bukan hanya konstruksi jembatannya, tetapi juga rasa tenang masyarakat yang hidup bergantung padanya.
Baca juga: JKA, Senyar, dan Otsus: Ujian Serius atau Kembali “Lagee Biasa”?
polemik JKA
JKA
Jaminan Kesehatan Aceh
Pemerintah Aceh
hadih maja
kupi beungoh
opini serambinews
opini serambi
| Mahasiswa, JKA, Tukin, dan Pokir: Mengapa Rakyat Harus Membayar dengan Kesehatan? |
|
|---|
| Dampak Bencana Banjir Bandang Belum Pulih, Pergub Aceh No 2 Tahun 2026 Berlaku |
|
|---|
| Penjajahan Akademik Berbaju Saintifik |
|
|---|
| Mengetuk Pintu Hati Serambi Mekkah dan Normalisasikan Kesehatan Mental di Aceh |
|
|---|
| Di Balik Kritik Terhadap Mualem, Ada Perjuangan Besar untuk Aceh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Yusuf-BombangApa-Kaoy.jpg)