Rabu, 13 Mei 2026

Internasional

Jehan Sadat, Mantan Ibu Negeri Piramid Meninggal Dunia, Mesir Nobatkan Sebagai Panutan Wanita

Jehan Sadat, janda mantan Presiden Mesir Anwar Sadat, pemimpin Arab pertama yang berdamai dengan Israel, meninggal di Mesir pada Jumat (9/7/2021).

Tayang:
Editor: M Nur Pakar
AP/File
Jehan Sadat, janda dari Presiden Mesir Anwar Sadat yang terbunuh memberikan suara di dekat rumahnya di Giza di sebuah kantor polisi dalam sebuah referendum untuk mendukung Hosni Mubarak sebagai penerus suaminya pada 18 Oktober 1981. 

SERAMBINEWS.COM, KAIRO - Jehan Sadat, janda mantan Presiden Mesir Anwar Sadat, pemimpin Arab pertama yang berdamai dengan Israel, meninggal di Mesir pada Jumat (9/7/2021).

Mantan Ibu Negeri Piramid itu meninggal dunia dalam usia 87 tahun.

Dilansir AP, dalam beberapa minggu terakhir, pers Mesir melaporkan Jehan Sadat berada di rumah sakit dan berjuang melawan kanker.

Tahun lalu, dia menerima perawatan medis di Amerika Serikat tetapi tak lama setelah kembali ke rumah.

Namun, kondisinya terus memburuk, kata keluarganya kepada media Mesir.

Tidak ada rincian lebih lanjut tentang penyakitnya yang tersedia.

Baca juga: Mesir Izinkan Pelancong Asing Masuk Negaranya, Ini Syaratnya Masuk Negeri Piramid

Pada Jumat (9/7/2021), kantor Presiden Abdel Fattah El-Sisi mengatakan dia telah menjadi panutan wanita Mesir, dan memberinya penghargaan nasional secara anumerta.

Mereka juga mengumumkan penamaan jalan raya utama di Kairo menurut namanya.

Pada Agustus 1933, Jehan Safwat Raouf lahir di Kairo dari ayah kelas menengah Mesir dan ibu Inggris.

Pada tahun 1949, ia menikah dengan Anwar Sadat, seorang perwira militer pada saat itu yang kemudian menjabat sebagai presiden Mesir dari tahun 1970 sampai pembunuhannya pada tahun 1981.

Pasangan itu memiliki empat anak, putri Noha, Gihan, Lobna dan seorang putra, Gamal.

Baca juga: Mesir Mulai Memperkuat Militer di Afrika, Bendungan Sungai Nil di Ethiopia Jadi Masalah Utama

Sadat secara konsisten membela keputusan suaminya untuk menandatangani perjanjian damai dengan Israel pada 1979.

Setelah hampir tiga dekade perang, sebuah langkah yang kontroversial di dalam negeri dan regional.

Selama masa jabatan suaminya, Sadat memantapkan dirinya sebagai pembela hak-hak perempuan yang gigih.

Dia mendorong seperangkat undang-undang yang memberi perempuan hak atas tunjangan dan hak asuh anak dalam kasus perceraian.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved