Jurnalisme Warga

Proyek Sosial Bersama Komunitas Sembilan

Komunitas Sembilan adalah perkumpulan para mahasiswa/i yang kuliah di Aceh maupun di luar tapi berasal dari Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah

Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
SURYANI, Mahasiswi Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry, melaporkan dari Kecamatan Bintang, Aceh Tengah 

OLEH SURYANI, Mahasiswi Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry, melaporkan dari Kecamatan Bintang, Aceh Tengah

Komunitas Sembilan adalah perkumpulan para mahasiswa/i yang kuliah di Aceh maupun di luar tapi berasal dari Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah. Komunitas ini didirikan pada 19 Desember  2020. Beberapa dari teman saya bertanya mengapa komunitas ini diberi nama Komunitas Sembilan? Komunitas ini pada awalnya dibentuk karena saya dan teman-teman prihatin terhadap apa yang terjadi di daerah kami. Mengapa Bintang begini-begini saja? Tak ada perubahan dari waktu ke waktu. Anak-anak makin lalai dan tak ada semangat belajar. Mereka  mulai pacaran di usia yang masih sangat dini.

Anak-anak juga sudah lupa, bahkan ada yang tak tahu sama sekali tentang tradisi dan kebudayaan daerah asalnya. Banyak sekali permasalahan dan kekhawatiran di benak kami sehingga muncul keinginan untuk membantu, memotivasi, dan membangkitkan  semangat generasi muda dalam belajar sekaligus ikut andil dalam melestarikan kebudayaan daerah agar tetap terjaga sebagaimana mestinya. Sampai pada akhirnya kami sembilan orang memutuskan membuat sebuah komunitas. Awalnya kami bingung apa nama yang tepat untuk komunitas ini. Namun, tanpa pikir panjang akhirnya kami sepakat menamakannya Komunitas Sembilan.  Karena ada sembilan penggagas utamanya, maka terbentuklah Komunitas Sembilan. Dan tentunya tidak ada kaitannya dengan Panitia Sembilan.

Kemudian kami mulai merekrut anggota baru agar bisa melaksankan tujuan dari komunitas ini. Kami sadar bahwa semuanya akan lebih mudah apabila dilakukan secara bersama-sama dengan lebih banyak orang. Akan tetapi, kami bikin standar siapa pun yang ingin masuk menjadi anggota komunitas ini. Hal ini kami lakukan agar yang nantinya menjadi anggota Komunitas Sembilan adalah orang-orang yang memang serius membantu, bukan hanya sekadar untuk menyalurkan kesenangan belaka.

Setelah mengumpulkan anggota, kami mulai berdiskusi tentang beberapa kegiatan yang dalam waktu dekat akan kami lakukan. Agenda pertama yang kami adalah  “Sharing Kampus di SMAN 7 Takengon”. Kegiatan ini terlaksana dengan sangat lancar.

Agenda selanjutnya adalah “Proyek Sosial” untuk daerah 3T (terpencil, terbelakang, dan tertinggal) di Kecamatan Bintang. Tema dari proyek sosial ini adalah “Bersama Berbagi Keceriaan”.

Desa yang membuat kami tertarik untuk dikunjungi adalah Desa Serule. Desa ini masuk ke dalam golongan daerah 3T. Hal yang melatarbelakangi mengapa kami memilih desa ini adalah di  Serule terdapat satu pondok pesantren hafiz dan hafizah, satu SD dan satu SMP, semua tingkatan sekolah ada. Namun, yang menjadi permasalahan adalah minat belajar muridnya kurang.

Sebelum pergi ke Serule kami telah lakukan riset terlebih dahulu. Bahwasanya anak-anak di sana, khususnya untuk jenjang SMP, sebagiannya enggan lanjut ke tingkat SMA. Mereka lebih memilih bekerja di kebun, mengambil getah damar, menanam serai, dan lain-lain. Pekerjaan tersebut memang menghasilkan uang lumayan banyak, sehingga mereka lupa akan kewajibannya untuk belajar.

Jadi, kami putuskan pergi ke Serule dengan tujuan menumbuhkan semangat mereka untuk belajar, terlebih-lebih saat  pandemi Covid-19 sekarang ini. Kemudian, kami berikan sedikit motivasi bahwa belajar itu adalah suatu kewajiban, di samping gambaran penting tentang urgensi pendidikan.

Perjalanan pun kami mulai. Jarak yang harus kami tempuh menuju Serule kurang lebih dua jam. Perjalanan kami tidaklah mudah. Kami harus melewati jalanan curam tak beraspal. Bahkan tidak sedikit dari anggota Komunitas Sembilan yang pusing dan mual dikarenakan jalan yang berliku-liku. Namun, itu semua sangat berkesan di hati kami masing-masing.

Jarum jam menunjukkan angka 15.50 WIB, kami pun sampai di tempat tujuan. Matahari sangat terik dan udaranya panas. Berbanding terbalik dengan desa kami. Padahal, Serule dan desa kami masih  satu kecamatan. Mungkin karena letaknya yang cukup jauh sehingga adanya perbedaan cuaca.

Di Desa Serule sama sekali tak ada sinyal handpone. Ini yang membuat kami agak frustrasi. Namun, di SMPN 29 Takengon tersedia Wifi sehingga kami bisa menggunakan internet dan mengabari kepada orang tua kami bahwa kami sudah sampai di tempat tujuan. Namun, semuanya tak sesuai ekspektasi. Realita menyakiti kami. Sesampainya di sana jaringan internetnya sangat lambat. Mengirim satu pesan saja harus tunggu 10 menit. Agak miris memang, tetapi kami cukup bisa menikmatinya.

Kami beristirahat di sebuah rumahguru SMP. Kemudian sore harinya kami mulai bercengkrama dengan penduduk sekitar. Semuanya terlihat normal saja, sama seperti desa-desa pada umumnya.

Esoknya kami mulai bersiap-siap. Kami juga sudah membagi tim sebelumnya dengan job description masing-masing. Sekitar pukul 09.00 WIB kami kunjungi SMPN 29 Takengon lebih dahulu. Di sini kami berikan motivasi agar mereka semangat melanjutkan pendidikan. Kami juga menceritakan pengalaman bagaimana menariknya belajar di luar daerah, pentingnya menuntut ilmu, dan menceritakan sedikit tentang sejarah suku Gayo.

Kami juga membagikan hadiah kepada mereka yang mau bertanya dan mampu menjawab pertanyaan yang kami ajukan. Kami mendapatkan umpan balik (feed back) yang sangat positif dari adik-adik di sini. Mereka adalah anak-anak yang pintar, hanya saja motivasi dalam belajar kurang. Lagi pula hampir tak ada yang memotivasinya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved