Kopi Arabika
Ketua AEKI Aceh Sayangkan Indonesia Impor Kopi Arabika dari Brazil
Seharusnya pasar domestik untuk kopi arabika dimanfaatkan oleh kopi Gayo, bukan justru melakukan impor.
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Taufik Hidayat
Laporan Fikar W Eda | Jakarta
SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Aceh, Ir Armia Ahmad menyayangkan pemerintah melakukan impor kopi arabika dari Brazil untuk memenuhi pasar domestik Indonesia. Padahal pasar domestik bisa diberikan kepada kopi Gayo yang seluruhnya jenis arabika.
Keluhan itu disampaikan Armiadi saat menjadi pembicara dalam webinar “mengenal Kopi Gayo, Kopi Organik Terbaik di Dunia” diselenggarakan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Provinsi Aceh, Kamis (29/7/2021).
Pembicara lain dalam webinar itu Haili Yoga (Sekda Bener Meriah), Diki Zainal Abidin (Kepala Subdirektorat Bina Lelang III DJKN) dan pembicara kunci Prihanto (Direktur Lelang DJKN).
“Seharusnya pasar domestik untuk kopi arabika dimanfaatkan oleh kopi Gayo, bukan justru melakukan impor,” kata Armia Ahmad.
Ia menjelaskan pasar kopi Gayo hampir 99 persen untuk ekspor, terutama Amerika, Eropa dan Asia. Luas Areal kopi Gayo 124 ribu hektar meliputi Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues. Tapi produksi rata-rata per tahun terhitung masih rendah yakni 75 ribu ton atau 750-850 Kg per hektar per tahun.
Karena pasar kopi Gayo sebahagian besar untuk ekspor, maka konflik internasional akan langsung mempengaruhi harga kopi sampai tingkat petani. Sementara pasar domestik belum ada 1 persen,” ujarnya.
Baca juga: Dukung Polisi Usut Vandalisme di Masjid, DPRA Rencana Turun ke Aceh Tamiang
Baca juga: Pengusaha Aceh Sediakan Makan Siang Gratis untuk Fakir Miskin Jakarta
Baca juga: Dua Petani di Aceh Tenggara ‘Nyambi’ Jadi Penjual Ganja, Begini Nasibnya Kini
Ia menyarankan, agar kopi Gayo juga didorong memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri.
Peningkatan produksi kopi Gayo menurut Armia masih bisa digenjot lagi secara intensifikasi, sebab kalau ekstensifikasi areal sudah terbatas. “Ini terserah kepada kebijakan pemerintah daerah dan masing-masing petani,” katanya.
Armia Hasan juga mengemukakan berbagai persoalan yang dihadapi kopi Gayo, seperti kopi Gayo umumnya dijual dalam bentuk barang mentah. Hanya sekitar 1 persen yang mengolahnya menjadi bahan jadi, seperti bubuk.
Secara keseluruhan terdapat sekitar 500 merk bubuk kopi dari Gayo yang semuanya diusahakan sendiri oleh pelaku kopi, mulai dari pengolahan, promosi sampai penjualan. Padahal, menurut Armia, proses pengolahan kopi membutuhkan sangat banyak tenaga kerja, sekitar 25oo orang, tapi itu belum terjadi di Bener Meriah.
Terhadap gagasan melakukan lelang kopi yang diinisiasi oleh DJKN Aceh, Armia Hasan menyebutnya sebagai langkah penting yang harus disambut. Tapi ia mengingatkan jangan sampai ide ini hanya terbatas pada webinar saja.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ketua-aeki-aceh-armia-hasan.jpg)