Jurnalisme Warga
Warung Kopi sebagai Ruang Publik
Jika ada yang bertanya, apa yang paling banyak bertambah di Banda Aceh dan Aceh umumnya pascatsunami?
OLEH WIDADIANTY MUNTHE, Mahasiswi Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry, melaporkan dari Banda Aceh
Jika ada yang bertanya, apa yang paling banyak bertambah di Banda Aceh dan Aceh umumnya pascatsunami? Jawabnya adalah warung kopi (warkop), kafe, dan restoran. Survei resmi tentang pertambahan itu belum ada memang, tapi sebuah sumber menyebutkan dari 6.000-an warkop di Aceh sebelum tsunami, kini jumlahnya mendekati 10.000. Terbanyak bertambah adalah di Banda Aceh, Aceh Besar, Lhokseumawe, dan Aceh Tengah.
Budaya minum kopi di negeri ini tumbuh sebagai kebiasaan yang dilakukan sejak zaman Belanda. Belanda menanam kopi secara besar-besaran melalui program tanam paksa. Menurut beberapa sumber, kopi di Indonesia pertama kali dibawa oleh pria berkebangsaan Belanda sekitar tahun 1646 yang mendapatkan biji arabika mocca dari Arab.
Belanda mulai mendirikan perkebunan kopi pertama di daerah Priangan, Jawa Barat. Selanjutnya, pengembangan kopi mulai dilakukan juga hampir di seluruh Pulau Jawa dan wilayah lainnya, seperti Sumatera, Bali, Sulawesi, dan Kepulauan Timor. Seiring dengan perkembangan itu, masyarakat Indonesia menjadi gemar minum kopi. Tak terkecuali orang Aceh. Agenda minum kopi juga disebut Teuku Umur menjelang kematiannya saat Belanda mengepung Meulaboh, “Besok pagi kita minum kopi di keude Meulaboh atau saya akan syahid.”
Hampir di seluruh tempat, orang-orang menghadirkan kopi sebagai pelengkap saat beraktivitas. Mulai dari bangun pagi, di tengah-tengah pekerjaan, hingga pada saat bercakap hangat dengan teman maupun sanak saudara. Baik itu di rumah, di kantor, maupun gang-gang sempit di sudut kota. Minuman legendaris ini bukan hanya sekadar penghilang rasa dahaga saja, melainkan berisi kisah para peminumnya. Setiap orang memberikan makna tersendiri pada kopi yang ada di cangkirnya. Demikian pula cara menikmatinya yang tentu saja berbeda-beda. Salah satu yang menarik di Aceh adalah tradisi minum kopi khop, yakni minum kopi dengan membalikkan posisi gelasnya. Air kopi keluar sedikit demi sedikit ke piring, itulah yang disedot.
Kopi merupakan sesuatu yang menarik untuk dibicarakan, karena kopi ialah salah satu minuman yang selalu diburu dan digemari dari dulu hingga saat sekarang ini. Apabila kita berbicara tentang kopi, maka hal ini tidak terlepas dengan tempat yang menawarkan atau menjual aneka minuman kopi, yaitu warung atau kedai kopi.
Banyaknya penikmat kopi menyebabkan semakin menjamurnya kedai-kedai kopi pada saat sekarang ini di hampir seluruh Aceh. Kopi menawarkan sajian dengan berbagai jenis, rasa, dan penyajiannya. Jika dulu, menikmati kopi hanya dilakukan di rumah ataupun di warung, sekarang kopi dapat dinikmati di kedai yang memiliki interior dan desain bagus, atau sering dijuluki instagramable yang membuat semua orang ingin mendatanginya.
Kedai-kedai kopi bercorak modern (coffee shop) bermunculan di Aceh, tapi keberadaan coffee shop tersebut belum mampu memusnahkan keberadaan kedai-kedai kopi tradisional yang telah duluan hadir. Minum kopi mungkin merupakan salah satu kata kerja yang bisa mewakili banyak aktivitas. Mulai dari menyantap makanan dan minuman, negosiasi bisnis, tukar pikiran dalam pekerjaan, reuni dengan kawan lama, sampai bincang-bincang nonformal di pinggir jalan.
Minum kopi di kedai kopi (ngopi) juga adalah aktivitas yang tak peduli status sosial, tanpa membedakan perbedaan jenis kelamin, strata sosial, dan usia. Untuk saat sekarang ini meminum kopi bukan hanya untuk orang tua saja, tetapi kopi juga sudah menjadi minuman favorit di berbagai usia, baik dari yang anak-anak maupun yang sudah dewasa.
Aktivitas di kedai kopi juga menjadi salah satu kebutuhan bagi sebagian masyarakat yang ingin mengisi waktu luang setelah menjalani rutinitas. Coffee shop atau kedai kopi juga dapat menjadi salah satu destinasi untuk melepas penat. Selain itu, coffee shop juga menjadi pilihan anak-anak muda yang ingin berkumpul bersama, tetapi dengan suasana yang nyaman dan tempatnya juga estetik untuk mengabadikan sebuah momen bersama teman, keluarga , dan rekan kerja.
Aktivitas masyarakat saat berada di kedai kopi sangat beragam, mulai dari menikmati atau sekadar membeli aneka makanan dan minuman, berkumpul atau bersosialisasi dengan kerabat (aktivitas sosial), menyelesaikan urusan yang tak selesai di balik meja kantor (aktivitas kerja), membuat rencana atau kesepakatan bisnis (aktivitas bisnis), belajar bersama maupun menyelesaikan tugas sekolah atau kampus (aktivitas belajar) hingga bersantai melepas lelah atau mencari hiburan (aktivitas hiburan). Beragam aktivitas tersebut dapat kita saksikan di warkop setiap harinya, bahkan terkadang dalam durasi waktu yang cukup panjang.
Ngopi di tengah masyarakat seolah menjadi suatu gaya hidup dalam masyarakat baik di daerah mana pun. Gaya hidup menggambarkan pola aksi dan interaksi seseorang dengan lingkungannya dalam artian gaya hidup dikenali dengan melihat aktivitas, minat, dan pandangan (opini) seseorang dalam kehidupan kesehariannya.
Kehadiran warkop sebagai ruang publik yang akhirnya menimbulkan kenyamanan bagi masyarakat mendorong munculnya budaya ngopi di kalangan masyarakat, terutama di Aceh, seolah menjadikan budaya ngopi menjadi gaya hidup masyarakat. Ajakan “ngopi yuk!” sangat sering kita dengar dalam keseharian kita.
Ruang publik dapat diartikan sebagai ruang bagi diskusi kritis yang terbuka bagi semua orang, untuk sekarang meminum kopi bukan hanya untuk orang tua saja. Kopi juga bisa dikreasikan menjadi minuman yang beraneka ragam rasa yang bisa diminum oleh semua kalangan baik dari yang anak-anak maupun yang sudah dewasa.
Saya termasuk penikmat kopi yang menyukai tempat-tempat ngopi yang berinterior menarik sehingga siapa pun yang mengunjunginya merasa nyaman dan ingin mengunjunginya lagi. Di sana saya biasanya menghabiskan waktu luang bersama teman-teman, saudara, maupun keluarga.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/widadianty-munthe-mahasiswi-program-studi-komunikasi-penyiaran-isla.jpg)