Breaking News:

Internasional

Aktivis HAM Jerman Sebut Ibunya Dihukum 10 Tahun Penjara di Iran

Putri seorang aktivis HAM Jerman-Iran, Mariam Claren, Rabu (4/8/2021) mengatakan ibunya dijatuhi hukuman penjara 10 tahun delapan bulan di Iran.

Editor: M Nur Pakar
AP
Wanita Jerman-Iran, Nahid Taghavi yang dihukum 10 tahun delapan bulan penjara di Iran. 

SERAMBINEWS.COM, BERLIN - Putri seorang aktivis HAM Jerman-Iran, Mariam Claren, Rabu (4/8/2021) mengatakan ibunya dijatuhi hukuman penjara 10 tahun delapan bulan di Iran.

Mariam Claren menulis di Twitter, ibunya, Nahid Taghavi, tidak melakukan kejahatan apapun.

Kecuali kebebasan berbicara, dan kebebasan berpikir yang dinilai Iran ilegal.

Dilansir AP, Rabu (4/8/2021), Claren me-retweet tweet oleh pengacara Mostafa Nili yang mengatakan Pengadilan Revolusioner Iran menghukum Taghavi dan seorang pria Inggris-Iran, Mehran Raouf.

Keduanya diduga menjalankan kelompok ilegal dan menyebarkan propaganda melawan sistem pemerintahan.

Baca juga: Iran Bekukan Pertukaran Tahanan dengan Barat, Seorang Warga Inggris-Iran Batal Bebas

Kelompok hak asasi manusia Amnesty International menggambarkan Taghavi, yang berusia akhir 60-an, sebagai tahanan politik tanpa kekerasan.

Dikatakan, wanita lanjut usia (lansia) itu ditangkap pada tahun 2020.

Media pemerintah di Iran tidak segera mengakui hukuman itu, yang tampaknya dikeluarkan setelah sidang tertutup.

Kementerian Luar Negeri Jerman mengatakan mengetahui kasus tersebut, tetapi hanya memiliki akses terbatas ke Taghavi.

"Nyonya Taghavi adalah warga negara ganda dan dari perspektif Iran, warga negara ganda adalah warga negara Iran,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Maria Adebahr.

Baca juga: Atlet Judo Pembelot Iran Raih Medali Perak, Sampaikan Terima Kasih ke Israel

“Itulah mengapa seringkali tidak mungkin bagi kami untuk memberikan bantuan konsuler dalam kasus-kasus seperti itu," tambahnya

"Tapi kami berusaha membantu Nyonya Taghavi sebaik mungkin,” ujarnya.

Kelompok-kelompok HAM menuduh Iran menahan warga negara ganda sebagai alat tawar-menawar.

Baik untuk tebus uang atau pengaruh dalam negosiasi dengan Barat, sesuatu yang dibantah Teheran.

Sebuah panel PBB telah mengkritik apa yang digambarkannya sebagai pola perampasan kebebasan warga negara ganda secara sewenang-wenang di Iran.(*)

Baca juga: AS Berkonsultasi dengan Inggris, Rumania, dan Israel, Bersumpah Balas Serangan Iran ke Kapal Tanker

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved