Selasa, 14 April 2026

Kasus Covid-19 Aceh Pecah Rekor, Belajar Tatap Muka Harus Dibatasi

Jumlah warga Aceh yang terkonfirmasi positif Covid-19 pada Rabu (3/8/2021) bertambah 351 orang. Bagi Aceh, angka itu merupakan rekor baru

Editor: bakri
For Serambinews.com
Jubir Covid-19 Aceh, Saifullah Abdulgani. 

BANDA ACEH - Jumlah warga Aceh yang terkonfirmasi positif Covid-19 pada Rabu (3/8/2021) bertambah 351 orang. Bagi Aceh, angka itu merupakan rekor baru karena menjadi kasus harian tertinggi wabah Corona melanda provinsi ujung barat Pulau Sumatra, ini pada Maret 2020 lalu. Sementara pasien yang sembuh dan meninggal, kemarin, masing-masing bertambah 99 dan 10 orang.

“Kasus baru yang bertambah pada hari ini (kemarin-red) mencapai 351 orang merupakan kasus harian tertinggi sejak pandemi Covid-19 melanda Aceh,” ujar Juru Bicara (Jubir) Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Aceh, Saifullah Abdulgani, kepada Serambi, Rabu (4/8/2021) malam. Menurut Saifullah, kasus harian tertinggi sebelumnya dengan tambahan 293 orang terjadi pada 29 Mei 2021 lalu.

Kasus positif baru yang bertambah kemarin, sebutnya, meliputi warga Banda Aceh sebanyak 104 orang, Aceh Besar 54 orang, Aceh Tengah 44 orang, Simeulue 29 orang, Lhokseumawe 24 orang, dan warga Pidie 23 orang. Kemudian, warga Aceh Utara, Aceh Barat, dan Aceh Selatan masing-masing sembilan orang, Langsa dan Aceh Jaya masing-masing tujuh orang, serta Aceh Tamiang enam orang.

“Selanjutnya, warga Bireuen dan Pidie Jaya masing-masing lima orang, Bener Meriah dan Sabang masing-masing sama-sama tiga orang, warga Aceh Timur, Gayo Lues, Nagan Raya, dan Aceh Barat Daya masing-masing dua orang, serta warga Aceh Tenggara dan Aceh Singkil masing-masing satu orang,” rinci pria yang akrab disapa SAG, ini.

Sementara itu, 99 penderita Covid-19 yang dinyatakan sembuh kemarin terdiri atas warga Banda Aceh 44 orang, Aceh Besar 18 orang, Gayo Lues 13 orang, dan warga Aceh Singkil 10 orang. Lalu, warga Pidie Jaya sebanyak lima orang, warga Lhokseumawe, Pidie, Sabang, Simeulue masing-masing dua orang, serta warga Aceh Jaya satu orang.

Sedangkan sepuluh pasien Corona yang meninggal dunia pada Rabu (4/8/2021), tambah Saifullah, meliputi warga Gayo Lues dan Langsa sama-sama tiga orang, Pidie dua orang, serta warga Aceh Tengah dan Aceh Singkil masing-masing satu orang.

Dengan tambahan 351 orang, sebut SAG, total kasus Covid-19 Aceh hingga saat ini mencapai 23.916 orang. Dari jumlah itu,penderita  yang sedang dirawat sebanyak 5.523 orang, penyintas Covid-19 (penderita yang sembuh) sebanyak  17.374 orang, dan yang meninggal dunia mencapai 1.019 orang.

Pada kesempatan yang sama, ia mengungkapkan, berdasarkan hasil analisis data Covid-19 periode 26 Juli-1 Agustua 2021 oleh Tim Pakar Satgas Penanganan Covid-19 Nasional, dua kabupaten/kota di Aceh kembali masuk dalam zona merah Covid-19. Kedua daerah itu adalah Aceh Tengah dan Aceh Singkil. Padahal, menurutnya, Aceh Singkil baru saja menjadi zona oranye setelah mengoreksi peta zonasinya dari merah pada 12-18 Juli 2021.

Selain Aceh Tengah dan Aceh Singkil yang kondisinya menurun, Aceh Taming, Bener Meriah, Bireuen, Pidie, Aceh Jaya, dan Subulussalam yang pada pekan lalu berada dalam zona kuning, kini menjadi zona oranye bersama Langsa, Lhokseumawe, Aceh Utara, Gayo Lues, Aceh Besar, Banda Aceh, Sabang, dan Aceh Barat.

Adapun kabupaten/kota di Aceh yang saat ini masih bertahan di zona kuning Covid-19, menurut SAG, adalah Aceh Tenggara, Aceh Timur, Pidie Jaya, Nagan Raya, Aceh Barat Daya (Abdya), Aceh Selatan, dan Simeulue.

Harus Dibatasi

Terpisah, Ikatan Dokter Indonesi (IDI) Wilayah Aceh meminta universitas dan pihak sekolah di provinsi ini untuk tetap membatasi belajar tatap muka. Permintaan itu disampaikan IDI menyikapi belum melandainya kasus Covid-19 hampir di semua kabupaten/kota. "Kita masih rawan. Apa yang terjadi di Jawa, bisa terjadi di sini jika kita tidak patuh terhadap protkes. Makanyam lonjakan kasus bisa saja terjadi," kata Ketua IDI Wilayah Aceh, Dr dr Safrizal Rahman MKes SpOT, kepada Serambi, kemarin.

Salah satu penyebab masih terjadinya penyebaran dan lonjakan kasus Covid-19, menurutnya, tentu karena kerumunan masyarakat dalam acara tertentu. “Untuk menghindari terjadinya penyebaran kasus yang lebih luas, kampus dan sekolah harus tetap membatasi pertemuan tatap muka. Artinya, pertemuan tatap muka tetap dilakukan tapidengan sangat selektif mengatur waktu, selang seling," jelas Safrizal.

Berdasarkan laporan dari tim di lapangan, sebutnya, kasus Covid-19 di Pulau Sumatra termasuk Aceh dalam seminggu terakhir sedang terjadi peningkatan. "Bahkan, kemarin pusat perawatan dipenuhi oleh pasien yang bergejala," katanya.

Jika masyarakat tidak waspada, lanjut Dr Safrizal, kondisi ini akan membuat tren kasus di Aceh semakin tinggi. Bahkan, tak menutup kemungkinan virus varian baru seperti virus Delta akan ditemukan di Aceh. "Mungkin secara butki belum ada karena hasil laboratorium belum ada, tapi saya khawatir sudah ada di tempat kita. Kita tidak boleh lengah, jangan anggap ini sudah normal, belum. Jangan terlena, nanti terjadi lonjakan," harap Safrizal.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved