Jumat, 1 Mei 2026

WHO Minta Seluruh Negara Hentikan Suntikan Booster Vaksin Covid-19

Langkah itu diharapkan dapat memungkinkan setidaknya 10 persen dari populasi setiap negara divaksinasi, lanjut Tedros.

Tayang:
Editor: Faisal Zamzami
Christopher Black / Organisasi Kesehatan Dunia / AFP
Gambar selebaran ini diambil dan dirilis pada 12 Februari 2021 oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyampaikan sambutannya saat konferensi pers pada 12 Februari 2021 di Jenewa. Kepala Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan pada 12 Februari 2021 bahwa semua hipotesis tentang asal-usul pandemi Covid-19 tetap ada di atas meja setelah penyelidikan WHO di China. 

SERAMBINEWS.COM - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) serukan seluruh negara untuk menghentikan suntikan penguat (booster) vaksin Covid-19 hingga setidaknya akhir September 2021, demikian kata ketuanya Tedros Adhanom Ghebreyesus, Rabu (4/8/2021).

Langkah itu diharapkan dapat memungkinkan setidaknya 10 persen dari populasi setiap negara divaksinasi, lanjut Tedros.

Seruan untuk menghentikan booster vaksin Covid-19 benar-benar ditekankan oleh organisasi PBB itu.

Sebab kesenjangan antara tingkat vaksinasi di negara-negara berpenghasilan tinggi dan negara-negara berpenghasilan rendah, semakin melebar.

Tedros memahami kepedulian semua pemerintah di seluruh negara untuk melindungi rakyatnya dari pandemi.

Namun, WHO tidak dapat menerima negara-negara yang telah menggunakan sebagian besar pasokan vaksin global.

"Saya memahami kepedulian semua pemerintah untuk melindungi rakyatnya dari varian Delta," kata Tedros dikutip dari CNA.

"Tetapi kami tidak dapat menerima negara-negara yang telah menggunakan sebagian besar pasokan vaksin global yang menggunakan lebih banyak lagi," tambah Tedros.

Negara-negara berpenghasilan tinggi memberikan sekitar 50 dosis untuk setiap 100 orang pada bulan Mei, dan jumlah itu meningkat dua kali lipat, menurut WHO.

Sedangkan negara-negara berpenghasilan rendah hanya mampu memberikan 1,5 dosis untuk setiap 100 orang, karena kurangnya pasokan.

"Kami membutuhkan pembalikan yang mendesak, dari sebagian besar vaksin masuk ke negara-negara berpenghasilan tinggi, ke sebagian besar ke negara-negara berpenghasilan rendah," kata Tedros.

Baca juga: Pantau Covid-19, Babinsa Kodim Nagan Raya Sosialisasi Penggunaan Aplikasi Silacak

Baca juga: Fakta Pengantin Baru Buang Bayi ke Sumur, Sering Bersetubuh saat Pacaran hingga Hamil di Luar Nikah

Beberapa negara bahkan telah mulai menggunakan atau mulai menimbang kebutuhan akan dosis booster.

Jerman mengatakan pada hari Senin bahwa pada bulan September akan mulai menawarkan suntikan booster kepada orang-orang yang rentan.

Uni Emirat Arab juga akan mulai memberikan suntikan booster untuk semua orang yang divaksinasi lengkap yang dianggap berisiko tinggi, tiga bulan setelah dosis vaksin kedua mereka, dan enam bulan untuk rentang usia tertentu.

Pekan lalu, Presiden Israel Isaac Herzog menerima suntikan ketiga vaksin virus corona.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved