Senin, 20 April 2026

Internasional

Swiss Desak Media China Hapus Artikel 'Berita Palsu' Asal-usul Covid-19

Kedutaan Swiss di Beijing telah mendesak media China untuk menghapus apa yang disebutnya artikel "berita palsu" tentang asal-usul virus Corona.

Editor: M Nur Pakar
AP/Chinatopix
Seorang perawat mengambil sampel swab dalam putaran baru pengujian Covid-19 di Nanjing, Provinsi Jiangsu, China timur, Senin (2/8/2021). 

SERAMBINEWS.COM, LONDON - Kedutaan Swiss di Beijing telah mendesak media China untuk menghapus apa yang disebutnya artikel "berita palsu" tentang asal-usul virus Corona.

Postingan tersebut mengutip apa yang disebut ilmuwan Swiss, Wilson Edwards, yang menurut kedutaan tidak ada.

Edwards dikutip oleh organisasi media China termasuk CGTN, Shanghai Daily, dan Global Times dilaporkan berdasarkan profil Facebook-nya.

Namun dalam sebuah tweet, kedutaan Swiss mengatakan:

“Sementara kami menghargai perhatian pada negara kami, Kedutaan Swiss sayangnya harus memberi tahu publik China bahwa berita ini salah.

"Kemungkinan akun Facebook ini tidak dibuka untuk tujuan jejaring sosial," tambahnya.

Baca juga: Wuhan Kembali Jadi Sumber Virus Corona China, 11 Juta Penduduk Kembali Diuji

Artikel yang dirujuk Edwards mencakup informasi tentang asal usul Covid-19 dan kemerdekaan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Satu laporan menyatakan bagaimana seorang ahli biologi Eropa mengklaim menelusuri asal-usul pandemi akan menjadi alat politik.

Dia menyatakan keprihatinan tentang otonomi WHO.

Informasi yang salah tentang Covid-19 telah mendominasi media arus utama dalam beberapa tahun terakhir ini.

Dengan banyak platform media sosial, organisasi berita, dan lembaga pemerintah berusaha memerangi penyebaran berita palsu.

Baca juga: China Segel Kota dengan Wabah Virus Corona Terburuk, Pemimpin Kota Dihukum Berat

Baru-baru ini, pers AS melaporkan informasi yang menyesatkan tentang infeksi varian delta yang menyebar di antara orang yang divaksinasi dan tidak divaksinasi.

Presiden AS Joe Biden juga menyalahkan Facebook atas lonjakan kasus Covid-19.

Biden menuduh perusahaan media sosial itu "membunuh orang" dengan membiarkan penyebaran informasi yang salah tentang vaksin Covid-19.

Menurut sebuah studi oleh MIT, berita palsu menyebar jauh lebih cepat daripada berita nyata, terutama di media sosial.(*)

Baca juga: Pemerintah Libya Minta Warganya Divaksin, China Kirim Dua Juta Vaksin Covid-19 Sinopharm

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved