Internasional
Kemenangan Taliban di Afghanistan, Dinilai Sebagai Memudarnya Kekuatan Militer AS
Perebutan kekuasaan secepat kilat oleh Taliban di Afghanistan dinilai sebagai memudarnya kekuatan militer AS di dunia.
SERAMBINEWS.COM, AMMAN - Perebutan kekuasaan secepat kilat oleh Taliban di Afghanistan dinilai sebagai memudarnya kekuatan militer AS di dunia.
Di Timur Tengah, beberapa orang melihat sebagai sinyal, para pemain di kawasan itu tidak dapat lagi bergantung pada berkurangnya kekuatan AS.
Sedangkan kemampuan Taliban merebut kembali wilayah dari pasukan asing disambut oleh faksi-faksi anti-Barat, seperti dilansir Reuters, Kamis (19/8/2021).
Kemajuan kelompok itu juga memicu kekhawatiran negara itu sekali lagi bisa menjadi surga bagi para militan Arab.
Berjuang untuk mengusir pasukan asing sejak digulingkan pada 2001, Taliban merebut Kabul pada Minggu (15/8/2021) setelah serangan kilat saat pasukan Barat pimpinan AS mundur.
Di Timur Tengah, Amerika Serikat telah lama menjadi kekuatan yang dominan meskipun keterlibatannya telah berkurang sejak menarik pasukan di Irak.
Baca juga: Pilot Angkatan Udara Wanita Pertama Afghanistan Minta Warga Tidak Percaya Propaganda Taliban
Tetapi, peristiwa di Afghanistan dapat mendorong negara-negara untuk membentuk aliansi baru atau paralel, kata para analis.
"Apa yang terjadi di Afghanistan memperkuat keyakinan banyak rezim Arab bahwa peran AS di dunia Arab dan Islam ... sedang mengalami kemunduran," kata Mohammad Abu Rumman.
Dia merupakan seorang analis dan mantan menteri Jordania.
"Sudah waktunya untuk mengurangi ketergantungan pada Washington di bidang strategis," tulis analis Emirat Abdulkhaleq Abdulla di The National.
Kebijakan Barat dan intervensi militer telah memicu gerakan perlawanan selama beberapa dekade di Timur Tengah, dan beberapa menyambut mundurnya pasukan asing.
Gerakan Houthi di Yaman dan Hizbullah Lebanon, keduanya bersekutu dengan Iran, membuat pernyataan yang mereka sebut kegagalan dan penghinaan AS.
Hizbullah mengatakan penarikan Amerika harus menjadi pelajaran bagi kelompok-kelompok yang bersekutu dengan AS di Lebanon.
Sehingga, tidak perlu bergantung lagi pada Washington sebagai sekutu.
"Agar tidak berperang atas nama siapa pun, dia (Presiden AS Joe Biden) menerima kekalahan bersejarah dan memalukan di Afghanistan," kata pemimpin Hizbullah Sayyed Hassan Nasrallah.
Baca juga: Senator Partai Republik, Lauren Boebert Dituduh Sebagai Sekretaris Pers baru Taliban
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/pejuang-taliban-bersiaga-di-herat-afghanistan.jpg)